STIP Dinilai Lalai Lakukan Pengawasan

Redaksi Redaksi
STIP Dinilai Lalai Lakukan Pengawasan
ilustrasi.net
JAKARTA - Pengamat pendidikan, Arief Rachman menilai ada empat hal yang saat ini belum dipraktikkan secara optimal, sehingga kejadian kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Marunda, Jakarta Utara kembali terjadi.

Menurut dia, ketika menjadi tim investigasi kekerasan di Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), menemukan empat kelemahan. Merujuk dari situ, tentu apa yang terjadi di STIP tak jauh berbeda.

"Kalau ini kan terjadi di STIP, itu pasti ada empat kekurangan, pertama proses perkenalan antara sesama angkatan tidak dikerjakan dengan pertimbangan pendidikan," kata Arief kepada Okezone, Sabtu (26/4/2014).

Kedua, masalah penanganan manajemen keamanan antara senior dengan junior atau kakak kelas dengan adik kelas sering kali tidak diperhatikan.

"Saya selalu mengatakan harus ada dosen yang mengawasi mereka, karena kalau sudah malam dan mereka sudah tidur kadang suka dibangunkan. Jadi pengawasannya harus 24 jam," tegasnya.

Kemudian, ketiga, bila ada pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa ataupun dosen harus ada tindakan tegas oleh pihak sekolah supaya memberikan efek jera, dan tidak akan terulang apalagi ditiru oleh yang lainnya. "Yang keempat harus dari pemerintah  harus ada sanksi, baik itu kepada pimpinan sekolah tingginya," tandasnya.

Artinya, bila masih terjadi kekerasan di STIP, tentu empat poin ini tidak terlaksana di sekolah tinggi yang berada dibawah naungan Kementerian Perhubungan itu. Bila dibiarkan, kejadian semacam ini akan terulang terus sampai kapanpun.

"Di STIP, iya enggak dilaksanakan secara sempurna, jadi empat poin itu harus dilakukan dan harus ada tindakan keras. Terus  dari Kemenhub juga, kalau enggak ada tindakan keras, makanya itu bakal terus terjadi lagi," tandasnya.

Seperti diketahui, mahasiswa STIP, Dimas Dikita Handoko (19) tewas setelah dianiaya oleh seniornya. Penganiayaan terjadi setelah dipicu masalah sepele, yakni dinilai tidak kompak serta tidak hormat ketika berhadapan dengan senior. Dimas, tewas setelah dipukuli oleh seniornya di kosan tersangka Angga.


(ydh/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini