Rekonsiliasi, Bagaimana Tujuh Jenderal yang Jadi Korban?

Redaksi Redaksi
Rekonsiliasi, Bagaimana Tujuh Jenderal yang Jadi Korban?
Foto: Randy Wirayudha
Mengenang Jenderal A. Yani, salah satu jenderal TNI AD yang jadi korban PKI.
JAKARTA - Wacana Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan minta maaf dan berekonsiliasi terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI), menurut Pakar Hukum Tata Negara, Margarito tidak perlu dilakukan. Sebab, Presiden harus melihat fakta, bagaimana dengan nasib tujuh jenderal TNI AD yang mati di tangan PKI.

"Buat apa minta maaf? Faktanya bagaimana dengan nasib tujuh jenderal yang mati? Harus balance dong. Kita harus cerdas dan arif melihat masalah," kata Margarito kepada Okezone, Sabtu (22/8/2015) di Jakarta Pusat.

"Tujuh jenderal itu, apa itu? Kita ingin bangsa ini bergerak maju betul dengan semangat kemanusiaan yang hebat. Tapi dengan kerangka itu mari kita kenali betul dan jernih kita melihat persoalan dan kenali cara menyelesaikan," tambahnya.

Margarito menilai memang Indonesia adalah bangsa yang sangat pemaaf. Bahkan memaafkan adalah tindakan yang sangat hebat menurutnya. Namun ia meminta Presiden menimbang-nimbang fakta yang sudah terjadi di belakang terutama nasib tujuh jenderal.

"Tujuh jenderal itu, apakah mereka bunuh diri, atau dibunuh? Buka seterang-terangnya. Setelah sreg, mari kita bersepakat jalan keluarnya tentang hal itu, supaya penyelesaianya tidak menyisakan luka. Kan kita ingin tuntas ke depannya. Bagus ke depannya. Tidak akan bagus kalau mencapai jalan itu karena luka dan trik," katanya lagi.

Setelah dibuka kasus ini seterang-terangnya barulah berbicara dengan hati yang lapang. "Jangan emosional. Bangsa ini terlalu besar dan tidak akan maju kalau dikelola dengan cara emosional," pungkasnya.


(raw/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini