Satu karangan bunga menyambut Ahok di hari pertamanya sebagai Komisaris Utama Pertamina. (CNN Indonesia/Aria Ananda).Kabar Ahok duduk di kursi petinggi Pertamina santer terdengar sejak pekan lalu. Penolakan demi penolakan datang, mulai dari Serikat Pekerja Pertamina itu sendiri, politisi, hingga Persaudaraan Alumni (PA) 212, kelompok yang menggiring Ahok mendekam di penjara karena selip lidah atas surah Al Maidah 51.
Ahok memang kontroversial. Beritanya selalu mengundang pro dan kontra. Sebagian masyarakat menolak lantaran karakter dan sikapnya dinilai keras dan kurang santun. Sebagian lain mendukungnya karena dianggap membawa perubahan pada era kepemimpinannya sebagai gubernur DKI Jakarta.
Tak berselang lama, Ahok keluar dari gedung. Ia mengaku bertemu dengan eks komisaris utama Pertamina, Tanri Abeng. "Saya diajak (bicara dengan) pak Tanri Abeng. Saya kan sama anaknya Tanri Abeng dulu sama-sama di DPR. Saya punya hubungan baik, beliau ngajarin saya lah. Dia kan guru hebat," tutur mantan bupati Belitung Timur.
Selain berbincang, Ahok mengatakan Tanri telah memberikan berkas yang nantinya akan ia pelajari lebih lanjut terkait pengelolaan bisnis Pertamina. "Dia kasih saya berkas, (untuk) saya pelajari," jelasnya.
Ahok menjelaskan seremonial serah terima jabatan pengangkatan dirinya sebagai komisaris utama akan diadakan pekan depan. "Secara seremonial baru serah terima minggu depan lah," katanya singkat.
Namun, Ahok enggan membicarakan perasaannya setelah secara resmi menjabat Komisaris Utama Pertamina. Tanpa bicara sepatah kata, Ahok terburu-buru masuk ke dalam mobilnya, dan melambaikan tangan.
(cnnindonesia.com)