Ini Kondisi Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah di Masa Pandemi

Redaksi Redaksi
Ini Kondisi Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah di Masa Pandemi
Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah, di Desa Sungai Kayu Ara Permai, Kabupaten Siak, Riau.

Sejarah Ekowisata MSB

Desa Sungai Kayu Ara Permai sebelum dimekarkan masuk dalam wilayah administratif Desa Sungai Kayu Ara. Namun, setelah diterbitkan Perda Kabupaten Siak, nomor 6 Tahun 2009 tentang Pembentukan Desa, wilayah administratif Desa Kayu Ara terbagi dua dengan Desa Kayu Ara Permai.

Nama Ekowisata MSB diambil dari cerita sejarah dibentuknya Desa Sungai Kayu Ara Permai. Diungkapkan Jefrizal, dulunya di kawasan Ekowisata MSB ada sebuah sungai yang ditumbuhi pohon beringin menjulang tinggi. Ukuran akar pohon beringin itu sangat besar, tumbuh kokoh saling berhubungan di tepi kanan dan kiri sungai.

Masih menurut cerita Jefrizal, pohon beringin yang tumbuh mengangkangi sungai itu, merupakan saksi sejarah dibentuknya Desa Sungai Kayu Ara Permai. "Jadi cerita itu untuk mengingatkan sejarah kepada generasi yang akan datang. Maka, destinasi ini kami beri nama Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah," Jefrizal menceritakan.

Sebelum Ekowisata MSB diresmikan, para pemuda Kelompok KLSM melakukan swadaya mandiri, bergotong royong masuk ke dalam hutan. Mencari kayu dan bambu untuk membangun jalur atau trek lintasan aksesibilitas wisatawan yang berkunjung.

Hasil kerja keras dengan tujuan mulia, dibarengi niat yang tulus disertai doa, membuahkan kabar baik. Pada tahun 2019 pihak pengelola Ekowisata MSB mengusulkan pembangunan trek sepanjang 250 meter. Proposal diusulkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrinbangdes). "Alhamdulillah permintaan kami disetujui melalui anggaran pemerintah pusat," ujar Jefrizal.

Lalu, setelah dibangun trek sepanjang 250 meter, Kelompok KLSM kembali melakukan kegiatan swadaya, dengan menambah trek menjadi 450 meter hingga sampai ke tepi pantai Selat Lalang. Jefrizal bersama rekan-rekanya juga membangun amnenitas, berupa 5 unit pendopo dan 2 unit MCK.

"Kedepannya, kami akan berupaya supaya trek di dalam kawasan Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah ini bisa dibangun permanen dengan menggunakan cor semen, tanpa memakai kayu papan lagi. Kami sedang berupaya meminta bantuan melalui pemerintah Kabupaten Siak dan Pemerintah Provinsi Riau. Kayu trek disini sudah banyak yang lapuk. Mungkin hanya bisa bertahan sampai tahun ini saja," tukasnya.

Jefrizal menjelaskan, ia memiliki target pengembangan Kawasan Ekowisata SMB akan diperluas lagi. Sehingga pengunjung yang datang bisa mengitari hutan mangrove. "Untuk rencana pengembangan ke depan kami akan membangun lagi trek sepanjang 200 meter. Jadi pengunjung yang datang bisa melintasi hutan mangrove hingga menuju pintu keluar, tanpa harus kembali melalui jalur masuk yang sudah dilewati," ulasnya.

Masih banyak impian Jefrizal yang belum terwujud. Hal itu disebabkan dampak pandemi Covid-19. Virus yang melumpuhkan ekonomi dunia itu, sangat berpengaruh pada kondisi keuangan Pengelola Ekowisata MSB.Masih banyak impian Jefrizal yang belum terwujud. Hal itu disebabkan dampak pandemi COVID-19. Virus yang melumpuhkan ekonomi dunia itu, sangat berpengaruh pada kondisi keuangan Pengelola Ekowisata MSB.

"Pandemi sudah berlangsung hampir selama dua tahun. Uang kas kelompok kami sudah habis. Banyak impian kami untuk membangun destinasi wisata ini. Seperti membangun rumah pohon dan menara pandang. Namun, hingga kini belum bisa terwujud akibat pandemi Covid-19," tandasnya. (MC Riau)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini