Sungai Tohor Pelopor Aksi Program Restorasi Gambut

Redaksi Redaksi
Sungai Tohor Pelopor Aksi Program Restorasi Gambut
humas riau
Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead, bersama Plt Gubernur Riau memukul kentongan bambu sebagai tanda dicanangkanya program Kenduri Aksi Restorasi Pulihkan Gambut Negeri, di desa Sungai Tohor kabupaten Kepulauan Meranti provinsi Riau, Selasa (12/4/20
SUNGAI TOHOR, riaueditor.com - Pemerintah pusat melalui Badan Restorasi Gambut (BRG) mencanangkan program "Kenduri Aksi Restorasi Pulihkan Gambut Negeri", di desa Sungai Tohor kabupaten Kepulauan Meranti provinsi Riau, Selasa (12/4/2016). Program tersebut merupakan program perdana yang dilakukan BRG bersama pemerintah daerah berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 1 Tahun 2016.

Berdasarkan Perpres tersebut, Badan Restorasi Gambut memiliki tugas mengembalikan dua juta hektar gambut, luasan tersebut berada di tujuh provinsi, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Luas sebaran lahan gambut di Kabupaten Kepulauan Meranti 318.234 hektar lahan gambut, tersebar di setiap kecamatan dengan karateristik pembentukan gambut yang berbeda-beda, yang artinya 75% lahan di Kepulauan Meranti adalah tanah Gambut.

Kecamatan yang paling luas lahan gambutnya adalah di kecamatan Tebing tinggi timur seluas 72.628.000 hektar, dan kecamatan Merbau 59.146.000 hektar, kedalamannya 4 sampai 12 meter. Dengan tingkat kedalaman gambut tersebut, apabila terjadi kebakaran lahan akan sulit dipadamkan dan menyebabkan ekosistem gambut akan rusak dan punah.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead mengatakan, dari analisis akhir BRG di tujuh provinsi di Indonesia seluas 2, 26 juta hektar lahan gambut harus dilakukan restorasi. Dan setelah dipetakan, sebagian besar berada di lahan konsesi perusahaan.

"Di Riau 939.000 hektar yang teranalisis, untuk lokasi restorasi dua persen di kawasan hutan lindung, 98 persen 3/4  di lokasi konsesi perusahaan, dan 1/4 atau 200 ribu hektar berada di lahan masyarakat," kata Nazir.

"Badan Restorasi Gambut, bersama Pemerintah daerah, NGO, Tokoh masyarakat akan fokus dilahan masyarakat saja, kepada pihak perusahaan BRG akan membuat aturan agar perusahaan melakukan program restorasi gambut dilahanya," ujar kepala BRG Nazir Foead.

Nazir Foead juga mengingatkan agar lahan gambut tidak boleh terbakar lagi. Kanal yang telah dipersiapkan harus di sekat agar dapat menjaga kondisi lahan gambut tetap basah.

"Semoga Kegiatan Restorasi lahan gambut dapat memberikan manfaat ekonomi langsung terhadap masyarakat, dan memberikan dampak positif kepada produktifitas sagu yang menjadi produk unggulan Kepulauan Meranti sehingga hasilnya dapat dinikmati masyarakat," ungkap Nazir.

"Mari kita buktikan apa yang telah dilakukan masyarakat dengan kearifan lokalnya dalam pengelolaan lahan gambut yang telah dilakukan selama ini merupakan solusi yang tepat untuk melaksanakan program restorasi gambut yang dicanangkan pemerintah," ungkapnya lagi.

Pada kesempatan ini Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Riau H. Arsyadjuliandi Rachman menegaskan, setelah kegiatan pencanangan program restorasi gambut, stakeholder terkait dapat melaksanakan aksi dilapangan secara bertahap, dengan memberi dukungan mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten, sampai tingkat desa.

"Semoga program pertama yang dilaksanakan BRG ini bisa berhasil dan dapat menjadi contoh untuk Indonesia, insya Allah jika kita dukung bersama-sama, program ini akan berhasil, dan menjadi suatu kebanggan kabupaten Kepulauan Meranti provinsi Riau Indonesia. Dan sagu kedepannya akan menjadi komoditas unggulan daerah," kata Plt Gubernur Riau yang biasa disapa Andi Rachman.

Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir pada kesempatan ini juga mengungkapkan, kebun sagu di kepulauan Meranti menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) seluas 52.000 hektar atau 2,98 persen luas tanaman sagu nasional, dan tumbuh di lahan gambut. Dengan membangun sekat kanal permanen disepanjang lahan gambut dapat menjadi jalur transportasi sagu.

"Saat ini sagu merupakan komoditas nasional  semoga datangnya BRG dapat mendorong kabupaten Kepulauan Meranti menjadi kawasan Cluster Gambut Nasional," ungkap Irwan.(rls/hms)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini