PT. SBAL Rusak Anak Sungai Tapung, Tangkapan Ikan Warga Berkurang

Redaksi Redaksi
PT. SBAL Rusak Anak Sungai Tapung, Tangkapan Ikan Warga Berkurang
img.net
Sungai Tapung, Kampar
TAPUNG HILIR, riaueditor.com- Tak hanya bermasalah dengan warga Kotagaro terkait tak jelasnya bagi hasil kebun sawit KKPA PT. Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL) dengan anggota Kopni Sahabat Lestari di Desa Kotagaro Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar, selama belasan tahun PT. SBAL dituding telah merusak ekosistem sungai Pelabian, salah satu anak sungai yang mengalir ke sungai Tapung.

Akibatnya rusaknya ekosistem anak sungai tersebut, tangkapan ikan warga sekitar khususnya warga yang menggantungkan mata pencariannya dari menangkap ikan, berkurang drastic bakan taka da sama sekali.

Demikian penuturan Saparuddin, warga desa Kotagaro yang juga Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Kotagaro kepada RE pekan lalu. Disebutkan Saparudin, pengrusakan sungai Pelabian oleh PT. SBAL ini telah berlangsung sejak tahun 1995 lalu, ketika PT. SBAL mulai beroperasi di wilayah Tapung Hilir.

"Sungai selebar tiga meter yang semulanya berbelok, oleh PT. SBAL diluruskan. Hal ini mengakibatkan pasir yang ada di sungai Pelabian
itu masuk ke sungai Tapung dan terjadi pendangkalan. Hingga air sungai menjadi rusak," tutur Saparudin.

Jika air sungai sedang dangkal, maka dasar sungai akan terlihat. Hal ini sebut Saparudin dikarenakan pasir yang ada di anak sungai yang diluruskan PT. SBAL itu terbawa arus hingga masuk ke sungai Tapung.

"Hari ke hari pendangkalan yang terjadi terlihat kian parah saja. Ikan pun tak ada lagi. Warga kami yang dahulunya hidup dan mencari nafkah di sungai, kini telah beralih ke profesi lain, karena ikannya tak ada lagi," urai Saparudin.

Warga desa sebenarnya sudah beberapa kali menemui pihak perusahaan untuk meminta tanggung jawabnya. Namun pihak perusahaan seolah tak mendengarkan permintaan warga ini. Hingga detik ini perusahaan belum juga menunjukkan tindakan konkrit atas masalah ini.

Bahkan, lanjut Saparudin, persoalan ini juga sudah disampaikan warga ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kampar. "Laporan kami tak mereka gubris. Janjinya akan menyelesaikan masalah ini, tapi tak pernah ada aksi nyata," tutup Saparudin.(af)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini