Nasib Sial Masyarakat di Sekitar Tambang

Redaksi Redaksi
Nasib Sial Masyarakat di Sekitar Tambang
Foto: Okezone
Tambang di Donggala.
WATUSAMPU - Kegiatan eksploitasi tambang besar-besaran mengakibatkan kerusakan ekologi lingkungan. Masyarakat di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah, misalnya, harus berjuang dengan polusi udara akibat pertambangan galian C.

Sektor ini mengumpulkan bahan baku pembuatan bangunan seperti pasir dan kerikil. Kegiatan produksi berupa "pemotongan" bukit dan gunung di sepanjang Teluk Palu menyisakan partikel debu di udara.

Ketua RW 3 di wilayah itu, Wisran, menyebut, dampak kerusakan lingkungan dari pertambangan cukup parah. "Bahkan, masyarakat tidak menyadari bahwa mereka menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan muntah darah karena pengaruh kegiatan tambang," ujar Wisran, belum lama ini.

Kecurigaan Wisran juga dirasakan Hamida, penanggung jawab puskesmas pembantu di Watusampu. Wanita 41 tahun ini menjelaskan, sepanjang 2012, ada 556 kasus ISPA yang terdata di puskesmasnya. Angka ini naik menjadi 618 kasus di 2013 dan hingga Agustus 2014 sudah tercatat 400 kasus ISPA.

Satu pasien, kata Hamida, bisa lebih dari satu kali berobat dalam satu bulan. Ini baru yang tercatat di puskesmasnya, belum lagi data di puskesmas induk atau puskesmas lain.

Sayangnya, kekhawatiran Hamida tidak ditanggapi serius oleh dinas kesehatan. "Sebanyak apa pun kasus ISPA di Watusampu, belum akan dianggap kejadian luar biasa jika belum ada yang meninggal karenanya," kata Hamida.

Pencemaran udara menjadi penyebab utama tingginya angka ISPA di Watusampu. Ditambah lagi masyarakat yang tidak memahami perilaku hidup sehat dan bersih serta tidak memerhatikan keseimbangan gizi. "Akibatnya, seseorang bisa dengan mudah tertular orang lain," imbuhnya.

Selain ISPA, penyakit lain yang banyak menjangkiti masyarakat di sekitar wilayah tambang adalah  penyakit kulit seperti skabies. Hamida mencatat, ada 110 kasus skabies dan 103 penyakit kulit alergi sepanjang 2013. Berdasarkan hasil penelitian dinas kesehatan setempat, penyebab maraknya skabies ternyata karena kebersihan penderitanya kurang.

"Kebanyakan masyarakat menutup rapat  jendela karena takut debu masuk rumah. Akibatnya, udara di dalam rumah jadi lembab. Nah, kutu dari binatang suka dengan kelembaban dan berkembang biak dengan pesat serta menimbulkan skabies di penghuni rumah tersebut," papar bidan desa itu.

Sekadar informasi, Watusampu menjadi salah satu daerah pertambangan galian C cukup massif di wilayah Palu, Sulawesi Tengah. Di kawasan ini, setidaknya enam perusahaan pertambangan beroperasi setiap hari sepanjang tahun.

(mrt/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini