Ini Sejarah Mengapa Solo Banyak Kuliner Daging Anjing

Redaksi Redaksi
Ini Sejarah Mengapa Solo Banyak Kuliner Daging Anjing
(Doc. Net)

SOLO - Kemunculan kuliner daging anjing di Kota Solo diketahui sudah ada sejak tahun 1940-an. Bahkan mulai saat itu, daging anjing mulai dijual secara terang-terangan di berbagai warung dan rumah makan.

"Bahkan saat itu ada nama penjual yang cukup melegenda, yaitu Mitro 'Jologug'. Sebutan itu didapat karena sering menjala anjing," kata sejarawan Solo, Heri Priyatmoko dilansir detikcom, Sabtu (22/6/2019).

Menurut penelusurannya, zaman dahulu masih kerap ditemui para penangkap anjing. Mereka membawa cambuk dan kala (perangkap) berupa kayu panjang dengan kaitan dari kulit atau jala untuk menjerat leher anjing.

Bahkan bisnis ini kemudian bertahan sampai turun temurun. "Lestarinya sebuah makanan hingga bertahun-tahun, berabad-abad itu karena konsumennya jelas dan diturunkan ke anak cucu. Sedangkan kuliner anjing ini didukung kaum abangan dan nonmuslim," ujarnya.

Hingga sekitar tahun 1990, masih banyak ditemui penjaja kuliner daging anjing goreng atau grabyasan yang berkeliling kampung. Kemudian mulai muncul warung-warung kuliner anjing berkedok 'sate jamu'.

 

Setelah diprotes masyarakat karena dianggap menipu, kini mereka berjualan secara terang-terangan dengan menggunakan nama 'sate guguk'. Kini kuliner ini disajikan dalam beberapa menu, seperti tongseng, sate dan rica-rica.

Merujuk data Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) pada Januari 2019, kini terdapat 82 warung yang berada di Kota Solo. Dalam sebulan, ada 13.700 anjing yang dikonsumsi atau hampir 500 ekor per hari. Anjing-anjing itu rata-rata disetor dari Jawa Barat dan sebagian dari Jawa Timur.

(jarrak.id)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini