Cegah Seks Bebas Remaja, Sekolah Diminta Aktifkan PIK-R

Redaksi Redaksi
Cegah Seks Bebas Remaja, Sekolah Diminta Aktifkan PIK-R
anje/riaueditor.com
Syarifah Zumah
SELATPANJANG, riaueditor.com– Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB, Dra Syarifah Zumah prihatin dengan yang kecenderungan remaja untuk melakukan perbuatan asusila. Hal ini disampaikanya terkait adanya kassus perkosaan dibawah umur, yang korban maupun pelakunya masih duduk dibangku sekolah. Salah satu solusi atassi permasalahan tersebut adalah dengan program nasional PIK-R.
 
"Data penelitian pada 2005-2006 hampir dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan,  Bandung dan Makasar, sekitar 47,54 persen remaja Indonesia mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah. Sementara data hasil survei pada tahun 2008 oleh Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan menunjukkan, sebanyak 63 persen remaja SMP sudah melakukan hubungan seks. Sedangkan 21 persen siswa SMA pernah melakukan aborsi. Fakta tersebut membuktikan bahwa kasus ini banyak terjadi di kalangan pelajar sekolah menengah sampai kalangan mahasiswa. Sehingga hal ini menjadi catatan hitam di dalam dunia pendidikan Indonesia. Lebih gawatnya lagi, seks bebas (free sex) itu kini telah menjadi tren oleh beberapa kelompok pelajar serta merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat," beber Syarifah.
 
Fenomena ini, lanjut Syarifah, jika dicermati maraknya tindakan asusila dan pergaulan bebas (free sex) di beberapa kelompok pelajar disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor penyebab utamanya yaitu minimnya pengetahuan seks yang benar dan terpadu melalui pendidikan formal (sekolah) maupun informal (orang tua). Masa Remaja merupakan masa sangat penting dalam kehidupan manusia, karena masa tersebut adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju pada persiapan menjadi manusia dewasa, sebagai masa transisi yang sifatnya masih labil tentu saja banyak hal-hal yang berubah pada diri seorang remaja.
 
"Remaja itu membutuhkan bantuan guna menyelesaikan masalah yang dihadapinya melalui pengambilan keputusan yang tepat sehingga tidak merugikan dirinya maupun masa depanya. Oleh karena itu perhatian terhadap masalah kesehatan remaja merupakan upaya untuk meningkatkan SDM. Maka perlu dibentuksuatu perkumpulan remaja yang biasa disebut Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK KRR) yang tujuan dibentuknya PIK KRR ini adalah mewujudkan wadah remaja dalam mengatasi permasalahan Remaja, mewujudkan remaja tegar, sehat, bertanggungjawab, serta meningkatkan kepedulian berbagai pihak dalam rangka mempersiapkan generasi penerus bangsa," sebutnya.
 
Menurut Syarifah, banyak hal-hal positif yang bisa didapat oleh remaja terutama siswa sekolah melalui program PIK ini, mereka akan mendapatkan informasi secara jelas tentang perilaku sehat remaja, khususnya yang berhubungan dengan risiko seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS dan dampak dari perbuatan tersebut.Jadi mereka bisa saling bertukar pikiran dan hal-hal seperti itu bukanlah hal yang tabu lagi untuk didiskusikan di PIK tersebut, karena bagaimanapun juga, di zaman teknologi saat ini, remaja dengan mudah mendapatkan informasi dan mengakses berbagai hal-hal yang mereka ingin ketahui. Oleh karena itu ia berharap sekolah-sekolah mengaktifkan program PIK-R. "Sekolah banyak yang salah mengartikan program ini, kita telah berupaya mensosialisasikan ini ke sekolah-sekolah, beberapa sekolah meresponnya dengan baik, namun ada juga yang tidak meresponnya, sehingga program ini tidak dijalankan," imbuhnya.
 
Selain itu, Syarifah juga mengharapkan peran orang tua dalam memberikan bekal pendidikan agama kepada remaja. "Mungkin karena kesibukkan orang tua sering mengabaikan anak-anak. Saya sangat berharap orang tua tak mengabaikan anak-anaknya terutama dalam memberikan pendidikan agama. Dan ini adalah cara yang paling efektif, terlebih lagi jika orang tua yang peduli dan meberikan perhatian penuh kepada anaknya," pungkas Syarifah.(je)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini