Tarekat Naqsyabandiyah Kenegerian Kopah Laksanakan Rayo Onam Bulan Syawal 1444 H

Redaksi Redaksi
Tarekat Naqsyabandiyah Kenegerian Kopah Laksanakan Rayo Onam  Bulan Syawal 1444 H
Kegiatan Hari Rayo Onam Tarekat Naqsabandiyah Kenegerian Kopah.(Foto: RA)

KUANSING, Riaueditor - Tradisi Hari Rayo Onam Tarekat Naqsyabandiyah di Kenegerian Kopah, merupakan kegiatan sakral serta tradisi turun temurun yang dilaksanakan di setiap surau tarekat, bertempat di Surau Nurul Yakin, Desa Munsalo Ahad (30/4/2023).

Perayaan Rayo Onam dilakukan setelah Idul Fitri 1 Syawal. Tarekat Naqsyabandiyah pada keesokan harinya langsung menjalankan ibadah puasa sunnah selama enam hari (puasa Syawal) sebagai penyempurna puasa wajib Ramadhan.

Sebagai mana diketahui, Rayo Onam warga Tarekat Naqsyabandiyah merupakan kegiatan yang sangat sakral yang dilakukan setiap tahunnya usai berpuasa selama enam hari di bulan syawal.

Salah seorang tokoh masyarakat Kopah yang juga ulama di Kenegerian Kopah, Sirpuadi Musa mengatakan, kenapa dinamakan hari Rayo Onam, sebab dirayakan setelah berpuasa sunnah enam hari. Hal ini sesuai dengan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun," [HR. Imam Muslim, Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nasaa-i dan Ibnu Majah

Salain itu, keistimewaan lain di puasa di bulan Syawal yaitu sebagai bulan pembuktian takwa. Walaupun Ramadan telah usai, bulan ini menjadi tantangan untuk membuktikan keberhasilan ibadah yang dikerjakan saat bulan suci.

"Hal tersebut tentu akan menjadi pembuktian tingkat derajat ketakwaan dan istiqomah seseorang di hadapan Allah SWT.

Kepala Desa Munsalo, Azwar Ali dalam sambutannya pada kegiatan Rayo Onam mengajak seluruh masyarakat Kenegerian Kopah khususnya masyarakat Desa Munsalo agar terus menjaga tradisi Tarekat Naqsyabandiyah yang telah menjadi tradisi sakral.

"Kita berharap kepada Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah dan murid-murid selalu istiqomah dalam beribadah dan dapat menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat " ungkap Azwar Ali.

Di Kenegerian Kopah ada dua jenis tarekat yang masih ada yakni, Naqsyabandiyah dan Satariyah. Kedua penganut tarekat tersebut sama-sama ingin menggapai kebersamaan dan proses mengenal Allah, serta sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

"Ia bisa dijadikan sebagai jalan alternatif dalam mengantarkan masyarakat menuju arah yang lebih baik," tutup Azwar Ali.

Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Surau Nurul Yakin, Ustad Ali Sapar, menjelaskan pentingnya bertarekat dalam kehidupan untuk menguatkan keyakinan, sehingga menjadikan iman kita semakin kokoh dan keyakinan semakin bertambah.

Tarekat Naqsyabandiyah adalah sebuah tarekat utama dari ajaran tasawuf Sunni. Namanya berasal dari Bahaudin Al-Bukhari An-Naqsyabandiyah. Para guru Naqsyabandiyah menelusuri garis keturunan mereka hingga nabi Muhammad melalui Abu Bakar, khalifah pertama Islam dan Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Naksabadiyah.

"Dengan kita bertarekat dapat membersihkan jiwa dan menjaga hawa nafsu untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk ujub, takabur, riya, hubbud dunya (cinta dunia) dan sebagainya. Tawakal, rendah hati/tawadhu, ridha, mendapat makrifat dari Allah," tutupnya.(RA)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini