Rasulullah tidak Pernah Menguap

Redaksi Redaksi
Rasulullah tidak Pernah Menguap
wikipedia
Rasulullah

Abu Bakar ibn al-Arabi menambahkan, segala aktivitas yang tidak mengenakkan dan dicela diidentikkan dengan setan. Lain halnya perbuatan yang baik, selalu disandarkan kepada Allah. Menguap, menurutnya, timbul dari rasa letih dan kenyang yang memicu rasa malas, kesemuanya adalah dorongan setan.

Imam Nawawi mengatakan, dasar penisbatan kuap kepada setan yaitu setan mengajak pada syahwat. Menguap terjadi akibat fisik letih dan perut mulai kenyang. Oleh karena itu, peringatan yang terdapat di berbagai hadis tersebut juga bermakna agar menghindari penyebab kuap, yang tak lain ialah makan terlalu kenyang dan berlebihan. 

Dalam beberapa riwayat Bukhari Muslim diutarakan bahwa kuap yang dimaksud hanya berlaku saat menunaikan shalat. Sedangkan, diriwayat lainnya, tuntunan kuap bersifat mutlak, tanpa dibatasi ketika shalat. Menyikapi ragam riwayat itu, masih menurut Ibn al-Arabi, anjuran menahan kuap berlaku untuk setiap kondisi alias mutlak, baik shalat maupun kala tak sedang mendirikannya. Penekanan tuntutan lebih dipertegas khusus shalat karena kuap yang datang ketika itu bisa merusak kekhusyukan. 

Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam bukunya, Ensiklopedi Adab Islam (Ma’usu’at Al Aadaab Al Islamiyyah), menyebutkan, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dan harus dilakukan saat orang menghadapi kondisi menguap. Yaitu, pertama, hendaknya yang bersangkutan menolak, mengalahkan, dan menahan kuapan, khususnya ketika sedang shalat.

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA, Rasulullah bersabda,“Apabila salah seorang dari kalian menguap dalam shalatnya, hendaklah ia berusaha menahan kuapnya sebisa mungkin karena setan bisa masuk.” (HR Muslim). Syekh Nada menambahkan, bagaimana setan bisa masuk? Tak perlu heran. Setan adalah makhluk yang tercipta dari api, bisa berubah bentuk, berpindah, dan bergerak seperti hawa dan angin. 

Kedua, bagi mereka yang menguap agar meletakkan tangan di mulut dan menutupnya. Tujuannya ialah agar saat menguap mulut tidak dalam kondisi terbuka. Pada saat itu, manusia terlihat buruk dan kala itu pula setan sedang menertawakannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menguap, tutuplah mulutnya dengan tangannya.” (HR Tur mudzi).

Atas dasar hadis ini, sebagian ulama mengutarakan hikmah di balik anjuran agar tangan menutup mulut saat menguap, yaitu menghindari setan masuk dan mencegahnya untuk merendahkan serta menertawakan penguap. 

Ketiga, hendaknya tidak mengeluarkan suara sewaktu menguap. Mengangkat suara saat kuapan termasuk adab yang buruk. Sayangnya, oleh sebagian orang, perilaku itu dianggap perkara sepele.

Terkadang, malah dengan sengaja mengangkat suaranya untuk mengundang gelak tawa orang di sekelilingnya. Padahal, perbuatan semacam itu dekat sekali dengan tindakan setan. Dalilnya masih merujuk riwayat Turmudzi tersebut. Disebutkan bahwa bila seseorang menguap lalu mengeluarkan suara “aahh”, maka setan tertawa di dalam perutnya. “Sesungguhnya, Allah menyukai bersin dan membenci menguap,” demikian titah Rasulullah pada riwayat tersebut. 

Nabi menguap? 

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam kitab syarah hadis Bukhari, Al Fath Al Bari, para nabi tidak pernah menguap, termasuk Rasulullah. Fakta ini merujuk pada riwayat yang dinukil oleh Ibn Abi Syaibah dan Bukhari dalam kitab Tarikh Al Kabir. 

Riwayat itu menegaskan bahwa Rasulullah tidak sekalipun pernah menguap. Riwayat lainnya yang datang dari Al-Khuttabi menyatakan, menguap juga bukan merupakan perbuatan yang lekat di sepanjang sejarah nabi atau rasul diutus untuk umat manusia. 

Menguap adalah perbuatan rendah yang tidak disukai Allah. Menguap bisa mengundang rasa senang setan. Menguap juga dikategorikan sebagai salah satu kegiatan yang bersumber dari makhluk terlaknat itu. Sementara, para nabi terjaga dari segala tindakan yang dapat mengurangi derajat kenabian mereka. “Tak satu pun nabi pernah menguap,” demikian tulis riwayat Musallamah bin Abdul Malik bin Marwan. (ROL)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini