Muslim Taiyuan Cina Bertahan dengan Tradisi 1.000 tahun

Redaksi Redaksi
Muslim Taiyuan Cina Bertahan dengan Tradisi 1.000 tahun
Luqyan Tamanni
Masyarakat muslim Taiyuan, di ibukota Provinsi Shanxi, China merayakan bulan ramadhan dengan penuh khidmat meski dilarang pemerintah dan menghadapi banyak keterbatasan.

Umat Islam di Taiyuan sudah eksis ratusan tahun lamanya, dengan masjid kuno yang dibangun sekitar abad ke 11 masehidan masih berdiri kokoh sebagai perekat ummat. Masjid yang mempunyai nilai sejarah ini barangkali salah satu alasan kenapa umat Islam masih bisa bertahan, meski menghadapi tantangan, serta strategi lainnya yang tidak kalah unik.

Tradisi Ramadhan

Sesaat menjelang buka puasa, belasan ta’mir dan jamaah masjid terlihat sibuk menyiapkan iftar di masjid yang terletak di pusat kota dan dikelilingi hotel, restoran, butik, dan mal. Di dapur, beberapa orang jamaah lelaki dan perempuan separuh baya sibuk menyiapkan makanan berbuka berupa mi rebus, ayam, dan sayuran khas makanan masyarakat Tiongkok.

Sementara di pelataran dalam masjid, beberapa jamaah mempersiapkan menu ta’jil berupa semangka dan kurma untuk kaum lelaki. Hal yang sama juga terjadi di dalam bangunan madrasah merangkap ruang shalat kaum muslimah, yang berlantai tiga. Di lantai paling atas, menu ta’jil yang sama juga disiapkan oleh jamaah perempuan.

Segera ketika azan berkumandang, yang sayup sayup bisa didengar oleh masyarakat lokal sekitarnya, semua jamaah menghadap kiblat dan menengadah tangan membaca doa berbuka yang dipimpin oleh imam. Namun imam hanya melafazkan ‘bismillahi’, dan menutupnya dengan ‘alhamdullilahi’.

Dalam sekejap, menu ta’jil pun habis disantap oleh seratusan jamaah. Segera setelah shalat maghrib, semua menuju ruang belakang dekat dapur untuk menyantap menu iftar/makan malam bersama-sama. Satu meja biasanya menjamu 10 orang, dan tradisi muslim disini, tidak boleh sedikitpun makanan tersisa dan kalau tidak habis harus dibungkus untuk dibawa pulang.

Memudahkan ummat

Selain tradisi kebersamaan, pegangan mazhab Hanafi yang diikuti, serta pengaruh budaya lokal yang kuat, kegiatan masjid juga diupayakan untuk memastikan ummat Islam Taiyuan terus bisa beribadah sampai kapanpun, dan apapun tantangan yang dihadapi.

Ini terbukti dengan jamaah masjid yang bisa tetap salat tarawih meski dilarang berkali-kali oleh pihak berwajib. Meski dipantau aparat keamanan terus menerus, masjid berupaya menyediakan layanan pendidikan agama secara terbatas (hanya untuk Muslimah dan anak anak), mengadakan buka puasa bersama, menerima zakat, serta aktivitas lainnya. Shalat jumat juga rutin dilakukan setiap pekan, serta shlaat Idul fitri setiap tahunnya.

Yang sangat unik adalah shalat tarawih. Selama sebulan penuh, imam hanya membaca surat al-Kautsar untuk 17 rakaat tarawih pertama, sementara untuk sisa rakaatnya dibaca tiga surat penutup al-Quran, yaitu al Ikhlas, al Falaq, dam an Nas. Sementara witir dibacakan surat pendek lainnya.

Tidak heran, shalat tarawih serta witir bisa selesai dalam waktu 35 menit. Ketika penulis ikut melaksanakan ibadah isya dan tarawih selama beberapa malam di masjid Taiyuan, jamaah memang selalu penuh. Mungkin ada kaitannya. Apapun alasan bacaan singkat dan shalat yang ringan ini, apakah demi keselamatan atau memang untuk meringankan jamaah, yang pasti ummat Islam menikmati ibadah ramadhan dengan khusyu’ meski mayoritas sangat minim pengetahuan agamanya.

Tradisi ratusan tahun sebagai modal dakwah

Masjid Kuno Taiyuan (begitu nama resmi masjid dalam bahasa setempat) terdiri dari dua bangunan, yaitu ruang shalat jamaah lelaki yang juga bangunan utama masjid, serta bangunan yang lebih besar untuk ruang sholah jamaah perempuan, lengkap dengan fasilitas kelas anak-anak dan ibu-ibu.

Bangunan madrasah ini adalah bangunan baru yang dibangun tahun 2001, dengan dana swadaya masyarakat muslim Taiyuan yang diperkirakan berjumlah sekitar 20-25 ribu.

Sebagian besar jamaah sudah berusia lanjut, karena yang muda biasanya tidak begitu peduli dengan kegiatan agamanya.

Diantara sedikit anak muda, Muhammad Kai Long termasuk sangat aktif membantu pelaksanaan iftar dan tarawih. Kai Long adalah mualaf dan dari suku Han, berbeda dengan mayoritas jamaah dari retnis Hui dan sedikit suku bangsa Uighur, yang umumnya pendatang dari provinsi Xinjiang.

Menurut Kai Long, beberapa tahun terakhir semakin banyak bangsa Han yang masuk Islam, terutama karena ketertarikan mereka dengan tradisi masjid yang dekat dengan budaya setempat, adanya keteraturan dalam ajaran Islam, serta kuatnya persaudaraan di kalangan umat Islam Taiyuan.

Selama bulan ramadhan, banyak masyarakat lokal yang mengunjungi masjid untuk sekadar melihat dan bertanya soal Islam.

Begitupun, pemerintah setempat masih sesekali mempersulit ibadah ummat Islam di Taiyuan. Salah satunya adalah larangan ibadah di mmalam-malamm ramadhan, dengan alasan keamanan.(ROL)


Penulis:
Luqyan Tamanni, saat ini sedang menyelesaikan studi S3 bidang Keuangan di Adam Smith Business School, University of Glasgow, UK.

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini