Fahmi Mubarok, Ilmuwan dan Staf Pengajar ITS Terpilih Menjadi Salah Satu Finalis European Inventor Award 2022

Bersama Insinyur Spanyol Menemukan Pelapis Keramik Semprot untuk Memperpanjang Usia Produk
Redaksi Redaksi
Fahmi Mubarok, Ilmuwan dan Staf Pengajar ITS Terpilih Menjadi Salah Satu Finalis European Inventor Award 2022

ILMUWAN dan staf pengajar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Fahmi Mubarok ST., M.Sc., Ph.D bersama ahli kimia dan insinyur Spanyol Nuria Espallargas bersama-sama dinominasikan untuk Penghargaan Inovasi/Innovation Prize European Patent Office (EPO) berkat penemuan mereka lapisan pelindung semprot yang inovatif.

Penemuan ini memungkinkan penerapan pelapis keramik yang tidak dapat meleleh melalui penyemprotan termal – membuka pintu untuk penggunaan pelapis industri (industrial coatings) yang lebih tipis dan lebih ringan.

Penyemprotan material bersuhu tinggi ke komponen seperti rem mobil atau kereta akan memperpanjang masa penggunaannya karena mereka dapat lebih tahan aus.

European Space Agency/Badan Antariksa Eropa kini tengah menguji pelapis ini untuk digunakan pada misi luar angkasa ke bulan dan Planet Mars.

Munich, 17 Mei 2022, Kantor Paten Eropa (European Patent Office/EPO) mengumumkan ilmuwan material Indonesia dan staf pengajar ITS Surabaya Fahmi Mubarok ST., M.Sc., Ph.D bersama dengan ahli kimia dan insinyur material Spanyol Nuria Espallargas berhasil dinominasikan bersama untuk memenangkan European Inventor Award 2022 berkat temuan mereka yang memungkinkan bahan keramik yang tidak memiliki titik leleh dipanaskan hingga suhu tinggi untuk disemprotkan ke komponen teknis atau industri.

Temuan pelapis keramik semprot yang inovatif ini dirancang untuk memperpanjang masa pakai komponen yang digunakan di berbagai industri dengan cara memberi perlindungan lebih baik pada komponen-komponen tersebut dari keausan dan paparan bahan kimia.

Industri mobil diharapkan menjadi yang pertama memanfaatkan penemuan baru ini dan diaplikasikan pada rem mobil, truk atau kereta api dan manufaktur kaca. Proyek mendatang yang direncanakan oleh European Space Agency/Badan Antariksa Eropa akan menguji seberapa baik lapisan tersebut menahan abrasi dari pasir di bulan dan Planet Mars.

"Temuan jenius karya Fahmi Mubarok dan Nuria Espallargas berhasil memecahkan masalah yang diyakini mustahil oleh para ahli di bidangnya. Mereka secara signifikan meningkatkan usia penggunaan dan daya tahan produk industri, sebuah aspek yang penting dalam ekonomimaterial," tutur Presiden EPO António Campinos, saat mengumumkan finalis European Inventor Award 2022.

Mubarok dan Espallargas secara bersama-sama dinobatkan sebagai salah satu dari empat finalis dalam kategori “SME” atau “UKM”, yang mencari para penemu luar biasa di perusahaan kecil dengan kurang dari 250 karyawan dan omset tahunan kurang dari EUR 50 juta.

Pemenang Penghargaan Penemu Eropa EPO edisi 2022 akan diumumkan dalam upacara virtual pada 21 Juni 2022 nanti.

Penyemprotan Termal Keramik Dianggap Mustahil Ide di balik penemuan ini berakar pada studi doktoral, Nuria Espallargas dalam ilmu material dan teknik metalurgi. Nuria tertarik pada fakta bahwa beberapa jenis pelapis keramik, yang digunakan di industri karena kekuatannya, ketahanan suhu dan bobotnya yang ringan, diterapkan dalam ruang hampa namun tidak dengan penyemprotan termal di mana bahan dipanaskan hingga suhu lebih dari 2500° C dan diaplikasikan dengan pistol semprot.

Penyemprotan termal jauh lebih murah daripada menggunakan ruang hampa, dan lebih mampu menjangkau obyek yang lebih luas untuk dilapisi. Sebelumnya, praktik ini dianggap mustahil karena keramik lebih cenderung menguap daripada meleleh ketika dipanaskan dengan suhu tinggi.

Keterbatasan dalam penelitian sebelumnya, serta adanya asumsi ketidakmungkinan ini memotivasi Espallargas untuk menemukan solusi.

“Pada prinsipnya, material yang tidak memiliki titik leleh, tidak dapat digunakan dalam penyemprotan termal, hal ini membangkitkan keingintahuan saya. Saya pikir kita perlu mencari tahu bagaimana menyelesaikan ini,” ungkap Espallargas.

Pemain besar di industri telah mencoba dan gagal Dihadapkan pada keraguan bahwa dia bisa berhasil di mana pemain besar di industri semprot termal telah mencoba dan gagal, Espallargas, yang saat itu mengajar di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) menggandeng Fahmi Mubarok yang di tahun 2010 itu juga tengah menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Tugas Fahmi adalah meneliti bagaimana silikon karbida - keramik, salah satu material sintetis yang paling keras – dapat disemprotkan secara termal.

Setelah beberapa kali percobaan dan kesalahan, momentum eureka mereka terjadi setelah percakapan dengan sejumlah kolega mereka dan membuat Fahmi Mubarok dan Nuria Espallargas tersadar bahwa partikel silikon karbida harus dilindungi dengan sesuatu yang dapat memenuhi dua peran sekaligus.

“Saya menyadari bahwa senyawa tersebut harus mampu melindungi silikon karbida dari paparan suhu tinggi dan pada saat yang sama juga mengikat silikon karbida untuk membuat lapisan,” kata Mubarok.(***)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini