Pengaruh Menangnya Erdogan di Pemilu Turki terhadap Ekonomi Indonesia

Redaksi Redaksi
Pengaruh Menangnya Erdogan di Pemilu Turki terhadap Ekonomi Indonesia
Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AP Photo/Burhan Ozbilici)

JAKARTA - Presiden petahana Recep Tayyip Erdogan kembali terpilih sebagai Presiden Turki untuk periode ketiga. Lalu bagaimana pengaruh Erdogan yang kembali jadi Presiden Turki untuk ekonomi Indonesia?

Dewan Pemilihan Turki pada Minggu, 28 Mei 2023 mengkonfirmasi Erdogan memenangkan pemilihan Presiden Turki 2023 dengan 52,14 persen suara, sementara lawannya Kemal Kilicdaroglu menerima 47,86 persen.

Lira Turki kembali merosot setelah terpilihnya kembali Presiden petahana Recep Tayyip Erdogan. Lira turun ke level terendah sepanjang masa pada Selasa, 30 Mei 2023. Dikutip dari CNBC, Lira diperdagangkan di posisi 20,29 terhada dolar Amerika Serikat sekitar pukul 11.00 Selasa pagi waktu setempat, dan melampui posisi terendah pada Senin pekan ini.

Pada awal sesi perdagangan, Lira sempat melemah ke level 20,2 terhadap dolar AS. Lira telah susut lebih dari 7 persen sejak awal 2023.

"Jika langkah besar melemahkan lira, dan potensi krisis ekonomi sistemik ingin dihindari, Erdogan perlu bergerak cepat dan menunjuk seseorang seperti Simsek sebagai tokoh ekonomi,” ujar BlueBay Asset Management’s Senior EM Sovereign Strategist Timothy Ash.

Mehmet Simsek adalah mantan menteri keuangan Turki yang dikenal karena kebijakannya yang ramah pasar. Ia menjadi wakil perdana menteri Turki dari 2015-2018.

Lalu dengan terpilihnya Erdogan sebagai Presiden Turki untuk periode ketiga, bagaimana pengaruhnya ke ekonomi Indonesia?

Direktur Celios, Bhima Yudishistira menuturkan, pengaruh Erdogan kembali jadi Presiden Turki relatif kecil karena pelaku pasar masih ke plafon utang Amerika Serikat (AS) dan proyeksi kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS. Ia menunjukkan dari indeks dolar AS yang naik ke level 104.

“Sentimen di negara berkembang masih diliputi kekhawatiran aliran modal yang keluar. Tapi pemerintah (Indonesia-red) bisa mendorong kerja sama perdagangan yang lebih intens dengan Turki setelah hasil pemilu Turki,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Potensi Kerja Sama Perdagangan

Bhima menuturkan, potensi kerja sama perdagangan yang lebih intensif dengan Turki dapat didorong yakni komponen elektronik, suku cadang otomotif, produk turunan sawit dan furniture.

Untuk mendorong kerja sama perdagangan itu, Bhima mengatakan, perlu kerja keras dari kedutaan atau perwakilan dagang di Turki membaca tren produk yang permintaannya sedang naik.

“Kemudian melakukan fasilitas perdagangan dengan libatkan pelaku industri dan UMKM lokal. Jadi model business matching harus diperbanyak,” ujar dia.

Ia menambahkan, Turki memang hadapi inflasi tinggi. Namun, Bhima melihat Turki merupakan pintu gerbang ke pasar Timur Tengah yang potensial. Hal tersebut menurut Bhima peluang bagi Indonesia.

Sumber: Liputan6

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini