Terkepung, Warga Fallujah Pilih Bunuh Diri dan Anak-anaknya

Redaksi Redaksi
Terkepung, Warga Fallujah Pilih Bunuh Diri dan Anak-anaknya
Pasukan Irak dalam upaya pembebasan Kota Fallujah. (Foto: Reuters)
FALLUJAH - Upaya pasukan Irak membebaskan Kota Fallujah dari ISIS membuahkan kisah yang memilukan bagi puluhan ribu penduduk, yang kini dijadikan tameng oleh kelompok teroris tersebut.

Lantaran terkepung, tanpa makanan dan minuman apalagi kebebasan, banyak warga memilih bunuh diri. Para orangtua bahkan dilaporkan tega melempar anaknya ke jalanan dan membunuh mereka supaya tidak menderita lagi di dunia.

“Beberapa dari mereka membakar diri. Saya bersumpah, beberapa dari mereka bahkan tega menenggelamkan anak mereka sendiri. Sebagian lagi melempar anak mereka ke jalan dan meninggalkan mereka di sana karena mereka tidak memiliki makanan,” demikian kesaksian seorang perempuan Irak, yang berhasil kabur dari Fallujah, sebagaimana dikutip dari International Business Times, Jumat (3/6/2016).

Lembaga nirlaba internasional HAM Human Rights Watch mencatat kasus bunuh diri pertama terkait konflik di Fallujah terjadi pada Maret 2016. "Kami mendapat dua laporan bunuh diri sekaligus, seorang perempuan menerjunkan dirinya dan anak-anaknya ke Sungai Efrata," ungkap aktivis Human Rights Watch di Irak, Christopher Wilcke.

Sedikitnya 624 keluarga yang terdiri dari 3700 orang telah melarikan diri dari Fallujah sejak pasukan Irak melakukan operasi militer ke kota terbesar kedua di Irak tersebut sepekan lalu. Di mana pada saat itu, mereka berhasil menguasai 86 persen kawasan tersebut, baru menerobos masuk ke jantung pertahanan ISIS di pusat Kota Fallujah.

Berdasarkan laporan UNHCR, badan PBB yang konsen mengurusi pengungsi, terdapat 1300 orang sudah dievakuasi ke kamp mereka di Amiriyat al Fallujah di komplek gubernur Anbar. Sisanya tersebar di beberapa kamp pengungsian yang dibuka pemerintah di kabupaten setempat dan sebagian lainnya dipastikan sudah berada di lokasi yang aman, menetap di rumah kerabat mereka.

Sementara itu, PBB mencatat 20 ribu anak-anak terjebak di garis terdepan dalam pertempuran antara ISIS dan pasukan Irak yang dibantu Amerika Serikat dan pasukan koalisi antiteror. Rata-rata mereka berusia di bawah 12 tahun, direkrut ISIS menjadi militan demi menahan laju pasukan Irak untuk ketiga kalinya merebut daerah kekuasaan mereka.

Sebelumnya, pasukan Irak telah merebut Ramadi pada Desember 2015. Berlanjut sebulan kemudian, Mosul diambil alih pejuang Irak dengan bantuan 150 tentara Turki. Sedikitnya 17 militan ISIS tewas pada malam berdarah di pangkalan militer Bashiqa.


(Sil/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini