Penyakit Aneh Hikikomori Serang Jutaan Warga

Redaksi Redaksi
Penyakit Aneh Hikikomori Serang Jutaan Warga
Foto: ABC
Pemuda Asal Tokyo, Yuto Onishi (18), Tidak Pernah Meninggalkan Kamarnya Selama Hampir Tiga Tahun Sebelum Mulai Mencari Perawatan
TOKYO - Jutaan warga Jepang terserang penyakit antisosial yang dikenal dengan istilah `hikikomori`. Istilah hikikomori sendiri dapat merujuk pada kondisi atau orang yang menderita penyakit aneh tersebut.

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mengartikan hikikomori sebagai orang yang tidak berpartisipasi secara sosial -kebanyakan kerja atau belajar- dan tidak punya hubungan dekat dengan orang lain sekali pun keluarga. Orang yang dianggap menderita hikikomori harus menunjukkan gejala penyakit itu selama enam bulan atau lebih.

Gejala hikikomori terlihat saat seseorang menarik diri dari masyarakat dan mengunci diri dalam kamar tidur. Dalam beberapa kasus, mereka dapat menutup diri hingga bertahun-tahun.

Bahkan, seorang dokter sekaligus pengamat hikikomori, Takahiro Kato, mengatakan, dia pernah menemukan sejumlah kasus hikikomori yang dialami sejumlah pria di usia 50-an dan menemukan bahwa mereka telah menarik diri dari lingkungan sosial selama lebih dari 30 tahun.

Fenomena penyakit mental ini kebanyakan menyerang pria muda. Kato mengatakan, penderita yang menolak berhubungan dengan teman-teman bahkan keluarga mereka tersebut biasanya adalah anak muda cerdas dan punya kemampuan. Dengan begitu, lanjut dia, hilangnya anak muda potensial tersebut menyebabkan perekonomian Jepang merosot.

"Saya khawatir soal hikikomori karena sekarang sekira 1 persen dari populasi Jepang menarik diri seperti gejala hikikomori atau dalam kondisi serupa," ujar Kato kepada Daily Mail, Sabtu (11/7/2015).

"Kebanyakan dari mereka mengalami mereka setelah lulus dari universitas. Apalagi, beberapa penderita hikikomori lulus dari universitas yang sangat terkenal. Makanya, menurut saya, pengaruh hikikomori terhadap perekonomian negeri sangat besar," imbuhnya.

Merasa aman

Seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Yuto Onishi terus mendekam dalam kamar tidurnya selama hampir tiga tahun. Dia baru beranjak keluar setelah mendapat perawatan medis sejak enam bulan lalu.

Onishi menghabiskan hari-harinya dengan tidur di siang hari. Pada malam hari dia berselancar di internet dan membaca komik. Dia tidak berbicara dengan satu orang pun.

Menurut Onishi, kondisinya itu bermula dari insiden yang dialaminya ketika dia masih duduk di bangku SMP. Saat itu, dia gagal maju menjadi ketua kelas. "Begitu Anda mengalami kejadian seperti itu, Anda seperti kehilangan dunia nyata," kata Onishi kepada ABC.

Onishi sadar benar kalau tingkahnya dianggap aneh oleh banyak orang namun dia tidak bisa meninggalkan kebiasaannya itu. "Saya tahu kalau itu tidak normal tapi saya tidak ingin mengubahnya. Saya merasa aman di sini," ujarnya.

Berasal dari keluarga mapan

Dokter Kato meyakini faktor lingkungan berpengaruh besar terhadap hikikomori. Sebab, kebanyakan dari kasus tersebut terjadi pada keluarga dari kalangan ekonomi menengah ke atas.

"Sangat jarang kasus hikikomori terjadi pada keluarga miskin," jelas Kato.

"Jadi, anak yang berasal dari lingkungan ekonomi mapan dan keluarga kelas ekonomi menengah ke atas, memiliki risiko tinggi mengalami hikikomori," imbuhnya.

Kebanyakan pengidap hikikomori mengunci diri mereka dalam kamar tidur di rumah keluarga mereka. Seringkali orangtua mereka tetap mendukung perilaku anaknya.

"Lingkungan sosial Jepang sangat berbeda dengan Barat. Orangtua Jepang dikenal overprotective terhadap anak mereka. Bagi sebagian anak, sangat sulit untuk menjadi mandiri," terang dia.

"Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa Jepang memiliki lebih banyak hikikomori dibandingkan Barat," sambungnya.

Terapi sosial

Menurut Kato, terapi amat dibutuhkan bagi seluruh anggota keluarga dan pasien itu sendiri. Terapi tersebut bertujuan untuk mengubah hubungan antaranggota keluarga dan membentuk dinamika kelompok.

"Sebagian besar studi hanya fokus pada aspek psikologi. Namun, hikikomori tidak hanya soal penyakit mental," kata dia.

Dia menjelaskan, perawatan terhadap penderita hikikomori termasuk membangun kembali kemampuan komunikasi yang menjadi tahap awal penyembuhan. Mereka diminta berbicara kembali dengan orang yang mereka sayangi setelah tidak berhubungan selama bertahun-tahun.

"Pendekatan terapi yang paling penting adalah psikoterapi, terutama psikoterapi kelompok, sebab kebanyakan pengidap hikikomori tidak berkomunikasi dengan orang lain sehingga mereka membutuhkan pengalaman komunikasi dalam sebuah kelompok," ujar Kato.

Namun, sebagian besar penderita hikikomori bahkan merasa enggan untuk berbicara dengan keluarga mereka sendiri apalagi berusaha mencari perawatan.

(pam/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini