Pendidikan dan Kehidupan Siswa-Siswi Ini Bergantung pada Seutas Kabel

Redaksi Redaksi
Pendidikan dan Kehidupan Siswa-Siswi Ini Bergantung pada Seutas Kabel
Foto: Daily Mail
Jembatan maut di Nepal.
BENIGHAT – Kisah perjuangan penduduk desa yang aktivitas hariannya bergantung pada seutas tali di atas sungai beraliran deras ternyata tidak hanya ada di Indonesia. Warga Desa Dhaing di Nepal juga menggantungkan nasibnya pada seutas kabel penyeberangan.

Demi menggapai cita-cita dari bangku sekolah, anak-anak Desa Dhaing harus mempertaruhkan nyawa setiap hari. Bayangkan, mereka harus membawa tas sekolah atau menepati janji bertemu dengan teman yang berada di seberang Sungai Trishuli, dengan bergelantungan pada satu uluran tali yang diikatkan dari satu pohon ke pohon lain di ujung satunya.

Bagi mereka, tidak ada jalan lain untuk bepergian selain membiarkan kaki mereka terkatung-katung tanpa pijakan maupun penyangga kiri kanan di atas sungai besar tersebut.

Jembatan semacam itu tidak hanya ada satu melainkan 12. Itupun baru yang terdapat di sekitat Sungai Trishuli. Masih banyak lagi jembatan serupa di kawasan Benighat, di tengah-tengah Nepal.

Dilansir dari Daily Mail, Jumat (19/2/2016), jembatan maut itu bukannya tanpa tragedi. Pada 2010, tercatat lima orang meninggal akibat bentakan tali. Mereka terjatuh ke sungai dan hanyut tanpa pernah ditemukan lagi.

Banyak warga kemudian menjadi semakin takut untuk menyeberang, namun mereka tidak punya pilihan lain. Belum ada jembatan yang kokoh dibangun bagi mereka, jika adapun ada jarak tempuhnya terlalu jauh dan memutar.

Sejak insiden tersebut, warga setempat memperkuat bentangan talinya. Kali ini, mereka juga menambahkan gondola sehingga warga tidak hanya bergantung pada kekuatan tangan, tetapi bisa duduk dan mengaitkan barang bawaannya pada kerangka besi gondola.

Namun begitu, upaya ini belum cukup untuk menjamin keamanan mereka. Pemerintah bagaimana pun harus membangun jembatan sungguhan, supaya anak-anak dan orang tua bisa melintas dengan selamat.

Menanggapi kejadian ini, Perdana Menteri Nepal KP Oli memastikan akan mengganti semua jembatan berbahaya itu dengan jembatan penyeberangan yang layak. Diprogramkan dalam waktu dua tahun, pemerintah berencana membangun 366 jembatan.

Dan terakhir, baru satu jembatan yang dibangun, yakni yang menghubungkan antara Desa Manthali dan Gimdi. Dengan demikian, menunggu tangan pemerintah sampai ke desanya, ribuan warga Dhaing masih harus mengarungi bahaya dengan bergantung pada seutas kabel dan kerekan (katrol satu tuas).


(Sil/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini