Media China: Beijing Perlu Tambah Senjata Nuklirnya untuk Hadapi Agresi AS

Redaksi Redaksi
Media China: Beijing Perlu Tambah Senjata Nuklirnya untuk Hadapi Agresi AS
Foto: Reuters

BEIJING - China tengah mempertimbangkan untuk menambah jumlah senjata nuklirnya yang dirasa tidak lagi cukup untuk "menakuti" musuh-musuh potensialnya. Hal itu dilaporkan surat kabar Global Times merujuk pada "sikap agresif" yang ditunjukkan Amerika Serikat (AS) dalam isu Laut China Selatan dan Taiwan.

Surat kabar yang berafiliasi dengan Partai Komunis China itu melaporkan, salah satu pelajaran yang harus dipetik Beijing dari pertemuan Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump adalah bahwa AS segan pada kekuatan militer dan persediaan senjata nuklir yang besar. Artikel Global Times mengatakan bahwa persenjataan nuklir Rusia membuat pemimpin AS "segan pada Moskow dan kemungkinan menjadi pencegah NATO untuk berkonflik secara langsung dengan Rusia di Ukraina dan Suriah.

"Hanya dengan melihat sikap agresif AS di Laut Cina Selatan dan pertanyaan mengenai Taiwan, kita tahu bahwa kekuatan nuklir China 'jauh dari cukup.' Bagian dari arogansi strategis AS mungkin datang dari keunggulan nuklir absolutnya," demikian disampaikan Global Times dalam artikelnya yang dilansir RT, Minggu (22/7/2018).

Artikel itu menekankan bahwa karena alasan tersebut, meningkatkan pengembangan senjata nuklir untuk menunjukkan tekad untuk membela inti kepentingan nasional harus menjadi "prioritas utama" bagi China.

Meski China memiliki sejumlah hulu ledak nuklir, jumlahnya masih kalah jauh dibandingkan dua hegemoni lainnya, Rusia dan AS. Laporan Institut Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) pada 2017 menyebutkan, China "hanya" memiliki 270 hulu ledak nuklir dibandingkan ribuan hulu ledak nuklir yang dimiliki AS dan Rusia.

Beijing "perlahan-lahan meningkatkan" jumlah hulu ledak nuklirnya dan saat ini mengembangkan Dongfeng-41 (DF-41) - rudal balistik jarak jauh yang mungkin mampu menyerang target potensial di seluruh dunia. Namun, tidak jelas kapan senjata baru itu akan dapat digunakan.

Selain dari perang dagang yang baru-baru ini terjadi antara kedua kekuatan dunia itu, pasukan China dan AS telah lama terlibat ketegangan di perairan sengketa di Laut China Selatan yang diklaim Beijing sebagai wilayah nasionalnya. Terlepas dari kenyataan bahwa AS bukan merupakan salah satu negara penuntut, ia bersikeras bahwa wilayah tersebut harus tetap perairan internasional.

Washington secara rutin mengirim misi "kebebasan navigasi", yang meliputi kapal perang dan pengebom, ke wilayah itu, yang mengundang kemarahan dari Beijing.

Taiwan juga menjadi isu lain yang merusak hubungan AS-China, karena meski mengakui kebijakan "Satu China" yang diterapkan Beijing, Washington tetap tidak menghentikan manuver mereka yang agak provokatif dengan wilayah pulau itu, termasuk dengan penjualan teknologi kapal selam kepada Taipei.

(okezone.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini