Gawat! Perang Dagang Muncul Lagi, China Setop Beli Produk AS

Redaksi Redaksi
Gawat! Perang Dagang Muncul Lagi, China Setop Beli Produk AS
Foto: Infografis/Perang Dagang AS-China/Edward Ricardo

JAKARTA - China dilaporkan memerintahkan para pedagang di negara itu untuk berhenti membeli produk pertanian asal Amerika Serikat. Hal tersebut, dikabarkan South China Morning Post, mengutip laporan Bloomberg, Senin (1/6/2020).

Menurut sumber media tersebut barang yang disetop adalah kedelai. Ini disampaikan langsung ke BUMN negara itu yakni Cofco dan Sinograin.

Bukan hanya itu, produk peternakan AS juga terancam. Impor daging babi asal Paman Sam juga dibatalkan perusahaan negara, meski masih dilakukan swasta.

Ini tentunya menjadi ajang baru bagi perjanjian perdagangan kedua negara guna meredam "perang dagang" awal 2020 lalu. Setelah memanas selama 2 tahun, AS-China di Februari 2020, memutuskan berdamai lewat perjanjian perdagangan Fase I.

Dengan pemberitaan ini, tentunya perjanjian yang dimuat bisa saja terancam. Namun sayangnya, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah China.

Perdana Menteri China Li Keqiang pada bulan lalu menegaskan akan melaksanakan janji yang sudah dimuat di Fase I. Saat itu, China setuju memberi produk pertanian AS senilai US$ 36,5 miliar di 2020 ini.

Namun, dalam data yang dipaparkan Departemen Pertanian AS, China hanya mengimpor US$ 3,35 miliar produk, di tiga bulan pertama bulan ini. Data tersebut adalah yang terendah sejak 2007.

Presiden AS Donald Trump sempat berujar akan memutus hubungan dengan China. Ia pernah berkomentar tak tertarik membahas perdamaian dagang lagi, meski AS-China dijadwalkan membahas perjanjian Fase II di November nanti.

Namun ia juga pernah mengatakan semua tergantung China. Termasuk, apakah China menepati janji membeli produk AS, yang tertuang di Fase I.

Sementara itu, China dan AS juga tegang soal Covid-19, Hong Kong dan Laut China Selatan. Khusus Hong Kong, Trump berjanji akan mencabut hak istimewa perdagangan kota itu karena China mengesahkan UU Keamanan Nasional yang dianggap mengebiri otonomi Hong Kong.

(CNBCIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini