Mimpi Buruk Menghantui Sepakbola Indonesia

Redaksi Redaksi
Mimpi Buruk Menghantui Sepakbola Indonesia
Foto: ANTARA/Izaac Mulyawan
Menpora Imam Nahrawi dituding membuat nasib sepakbola Indonesia kian terancam
JAKARTA – Nasib kelanjutan sepakbola Indonesia kembali berada di ujung tanduk saat ini. Sebab belum ada tanda-tanda dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi untuk berencana mencabut pembekuan status PSSI.

Padahal pada Rabu 23 Februari 2016, seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta sepakbola sempat merasa bahagia setelah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo meminta Menpora mencabut status pembekuan PSSI yang sudah terjadi dalam kurun waktu 10 bulan terakhir.

Akan tetapi Menpora melalui juru bicaranya, Gatot S Dewa Broto membantah hal tersebut, dan bahkan menilai bahwa apa yang diucapkan oleh Ketua Tim Ad-Hoc Reformasi PSSI Agum Gumelar itu merupakan pernyataan palsu.

Dengan nasib sepakbola Indonesia yang sedang dikejar waktu untuk menentukan masa depannya, Roy Suryo pun memberikan sedikit komentar. Ia mewanti-wanti kepada pemerintah akan ada mimpi buruk yang akan menimpa Indonesia jikalau status pembekuan PSSI belum juga dicabut.

"Dengan masih adanya pembekuan status PSSI yang dilakukan oleh Menpora, maka sudah sangat jelas seperti apa nasib sepakbola Indonesia ke depannya. Sebab pada Jumat pagi (waktu Zurich) FIFA bakal meminta kejelasan Ketum La Nyalla Mattalitti terkait pembekuan PSSI dari Menpora," ujar Roy Suryo seperti yang dilansir dari OKEZONE, Jumat (26/2/2016).

"Apabila hingga jam 9 pagi waktu Zurich PSSI masih belum bisa memberikan surat pencabutan pembekuan PSSI, maka nasib sepakbola Indonesia pun kian terancam. Selain itu kelangsungan Asian Games pun juga terancam penyelenggaraannya," sambungnya.

"Pasalnya pada Agustus besok, perwakilan OCA bakal mengunjungi Indonesia untuk memantau kesiapan kita menyelenggarakan Asian Games. Apabila mereka tahu bahwa PSSI masih dibekukan, maka bisa dipastikan cabor sepakbola tak akan dipertandingkan di Asian Games dan itu akan membuat sebagian besar negara kontestan berpikir ulang untuk keikutsertaan mereka," tuntas kader Partai Demokrat tersebut.

Menpora Justru Merusak Masa Depan Sepakbola Indonesia

Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrowi untuk tetap keukeuh dengan keputusannya, yakni mempertahankan status pembekuan PSSI. Padahal dari hasil pertemuan di Istana Negara, Rabu 23 Februari 2016, Presiden Joko Widodo telah meminta agar Menpora mencabut status pembekuan PSSI.

Dengan status seperti itu, PSSI pun secara terpaksa harus menghentikan seluruh kegiatan mereka, termasuk menggelar kompetisi resmi yang diakui oleh FIFA. Alhasil nasib seluruh pesepakbola pun kian tidak menentu masa depannya.

Meski dalam kurun waktu 10 bulan terakhir muncul sejumlah turmanen-turnamen macam Piala Presiden, Piala Jenderal Sudirman, dan yang teranyar Piala Bhayangkara, hal itu tak membuat rasa lapar para pecinta sepakbola nasional kian teredam. Mereka menuntut adanya kejelasan mengenai status kompetisi yang reguler dari Pemerintah, seperti yang sudah mereka janjikan sebelumnya.

Melihat kondisi tersebut membuat mantan Menpora, Roy Suryo memberikan tanggapannya. Ia justru menilai sikap arogan yang diperlihatkan oleh Imam Nahrowi justru telah membunuh talenta-talenta berbakat dari dunia sepakbola nasional.

"Saat ini seluruh masyarakat Indonesia kan sudah cerdas dalam memberikan penilaian. Mereka juga sudah menuntut Menpora agar merealisasikan janji-janji mereka untuk mengembangkan sepakbola Indonesia, bukan dengan melakukan kompetisi-kompetisi sirkus seperti saat ini," cetus Roy Suryo seperti yang dilansir OKEZONE, Jumat (26/2/2016).

"Sebab kompetisi-kompetisi seperti itu hanya menguntungkan beberapa pihak dan juga beberapa pemain yang memiliki eksistensi besar. Bagaimana nasib pemain yang masih berada dalam situasi berkembang seperti para pemain muda? Apa Menpora memikirkan nasib mereka?" sambungnya.

"Bahkan dengan sikap arogan Menpora yang masih tetap mempertahankan status pembekuan PSSI, maka secara tidak langsung ia juga telah membunuh bakat-bakat muda sepakbola nasional. Jadi apa ini yang namanya mengembangkan sepakbola nasional?" tuntas kader Partai Demokrat tersebut.


(mrh/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini