Memoar Pilu Pengungsi Rohingya saat Pembantaian Militer Myanmar Terjadi

Redaksi Redaksi
Memoar Pilu Pengungsi Rohingya saat Pembantaian Militer Myanmar Terjadi
(Foto: Erie/Okezone)
Pengungsi Rohingya di Medan
MEDAN - Bagi suku Rohingya, bukanlah hal yang mudah untuk kabur dari Myanmar saat genosida terjadi. Mereka butuh perjuangan yang kuat demi bebas dari kekejian militer Myanmar dan kelompok ekstrimis.

Kamal Hussein Arakani (28) adalah seorang pemuda Rohingya yang berhasil kabur dari kejaran militer Myanmar dan kelompok ektrimis. Dia kembali mengenang masa pahit yang dialaminya saat ditemui di tempat penampungan Rohingya di Jalan Jamin Ginting, Kota Medan, Sumatera Utara.

Dia menceritakan kejadian yang dialaminya dengan bahasa Indonesia yang belum fasih dan terkadang bercampur dengan bahasa Inggris.

“Bagi kami hal yang biasa jika militer Myanmar dan kelompok ekstrimis Buddha membunuh Rohingya atau memukuli kami. Tapi yang terjadi belakangan ini adalah genosida,” ujar Kamal di lokasi penampungan pada Rabu 6 September 2017 kemarin.

Saat diwawancarai, Kamal menunjukkan kedua kakinya yang penuh dengan bekas luka. Tak terhitung berapa jumlah luka yang sudah berbekas hitam itu. Luka-luka itu didapatnya pada tahun 2015 silam.

“Ini bekas luka karena saya ditangkap militer. Kaki saya ditendang dan pukul pakai senjata,” kenangnya.

Kendati demikian, Kamal masih merasa beruntung karena hanya mendapat banyak luka di kedua kakinya. Pasalnya, teman-temannya di Myanmar ada yang kakinya dipotong saat ditangkap militer.

Hujan deras yang mengguyur lokasi penampungan di tengah sesi wawancara dengan Kamal membuat suasana semakin terenyuh.

Dia kembali melanjutkan ceritanya. Kala itu, militer Myanmar gencar menangkapi para pemuda Rohingya karena masalah perbedaan agama. Para pemuda Rohingya yang merasa terancam memilih untuk kabur dari Myanmar.

Sedangkan orangtua yang mengetahui ada anggota keluarganya yang diburu pihak militer, juga ikut membantu upaya pelarian itu. Saat kabur dengan menggunakan perahu ke laut, Kamal meninggalkan kedua orangtuanya di Myanmar.

Genosida yang kembali terjadi beberapa hari terkahir di Rakhine, Myanmar membuat Kamal khawatir terhadap keselamatan kedua orangtua dan keluarganya yang masih tinggal di sana.

"Dulu, orangtua menyuruh saya kabur. Orangtua saya masih di Myanmar. Kondisi mereka selamat. Tapi rumah mereka telah dibakar. Saat ini orangtua dan keluarga lainnya berusaha untuk kabur dari Myanmar,” terang Kamal yang sudah memiliki 2 orang anak itu.


(kha/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini