Kisah Pilu Komunitas Adat Terpencil

Anak-anak KAT Nerlang Punya Mimpi dan Cita-cita

Redaksi Redaksi
Anak-anak KAT Nerlang Punya Mimpi dan Cita-cita
anje/riaueditor.com
Bersalaman setiap usai belajar, menjadi sebuah kebiasaan yang ditanamkan relawan GMB sebagai upaya membentuk karakter sejak dini.
SELATPANJANG, riaueditor.com- Program Wajib Belajar  12 tahun yang dicanangkan
pemerintah RI tampaknya belum berjalan seutuhnya. Jaminan pendidikan bagi anak-anak di seluruh Indonesia juga belum terlaksana sepenuhnya.

Adalah fakta bahwa anak-anak Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Dusun Nerlang, Desa Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti sebagian besarnya belum pernah mengecap pendidikan. Bisa dipastikan keseluruhan anak yang bersekolah di sini tak pernah mendapat pendidikan yang layak.

Kemiskinan dan minimnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur di sini menjadi penyebab anak-anak KAT Nerlang sulit mengakses pendidikan yang layak sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang.

Ketua Gerakan Meranti Berkibar (GMB) Kabupaten Kepulauan Meranti Ruslan Nahrowi, Ahad (25/5) di Selatpanjang menyebutkan, masalah pendidikan anak-anak Nerlang merupakan kasus nyata ketidakpedulian pemerintah di Riau terhadap pedidikan komunitas tepencil. Bisa saja inilah bentuk diskriminasi modern terhadap masyarakat suku asli Riau yang hidup terpencil dan tertinggal di Nerlang.

"Puluhan anak-anak usia sekolah di Nerlang belum menikmati pendidikan yang layak. Tak tersedianya sarana dan prasarana pendidikan di daerah ini menyebabkan puluhan anak-anak Nerlang harus siap menjadi generasi tertinggal sebagaimana orang tuanya, mereka terabaikan dari sentuhan pembangunan pendidikan," sebut Sebut Ruslan Nahrowi.

Padahal, Ruslan menilai anak-anak KAT Nerlang adalah anak-anak cerdas yang memiliki keinginan dan kemauan kuat untuk bersekolah. Untuk itulah Ruslan berharap ada kebijakan tegas dan jelas dari Dinas Pendidikan Kepulauan Meranti dan Provinsi Riau untuk segera menyikapi persoalan ini.

"Hal ini tidak boleh dibiarkan. Bagaimana pun juga, pembangunan pendidikan merupakan kewajiban pemerintah yang harus dijalankan. Ini tak bisa ditawar-tawar, wajib," ungkap Ketua Gerakan Meranti Berkibar ini.

GMB sendiri terus menerus berupaya mensupport pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kualitas pembangunan pendidikan khususnya di KAT Nerlang. Berbagai aksi dan kegiatan yang digalang GMB tak lain untuk menggugah kesadaran pemerintah daerah dan stakeholders terkait untuk ikut ambil andil menyelesaikan masalah di KAT Nerlang, khususnya masalah pendidikan anak-anak di sana.

Pemerintah yang mencanangkan program wajib belajar melalui UU sistem penddikan nasional No. 20 Tahun 2003, hingga itu tak ada alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan atas masalah di KAT Nerlang ini, baik pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti mau pun Pemerintah Provinsi Riau.

"Setelah hampir 70 tahun bangsa ini merdeka, sangat miris jika masih banyak anak-anak yang tak bersekolah seperti anak-anak KAT. Meski berada di daerah pelosok terpencil seperti Nerlang, mereka berhak mendapatkan pendidkan layak. Itu tugas dan tanggung jawab pemerintah," tegas Ruslan Nahrowi.

Beberapa kali mengunjungi KAT Nerlang, GMB melihat masalah di sini tak hanya pada sarana prasarana pendidikan yang belum tersedia, namun juga tak adanya tenaga pengajar yang ditempatkan khusus di daerah ini.

Sekitar 50 KK di KAT Nerlang ini juga begitu menyadari arti pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Secara swadaya warga Nerlang berupaya  membangun dua kelas yang sangat sederhana. Di dalam kelas berdinding kayu, beratap rumbia dan berlantaikan tanah yang akan berlumpur ketika hujan, di sinilah puluhan anak-anak KAT Nerlang mulai membangun harapan baru.

Ya, tergambar jelas di setiap wajah orang tua di KAT Nerlang, mereka menaruh harapan besar kepada pemerintah agar membangun sarana dan prasarana pendidikan yang lebih manusiawi untuk anak mereka. Pastinya, para orang tua di Nerlang ini tak ingin anak-anak Nerlang mengikuti jejak mereka yang hidup dalam segala keterbatasan dan kemiskinan.

Walau pun kegiatan belajar mengajar di sini hanya berlangsung sekali dalam seminggu , namun kesempatan itu tak disia-siakan oleh mereka. Tenaga pengajar sukarela yang datang ke Nerlang bagaikan seorang malaikat yang membawa cahaya dalam kegelapan.

"Meski jauh di pelosok terpencil, mereka punya mimpi dan cita-cita tinggi. Inilah yang harus kita perjuangkan. Bagaimana pun, anak-anak Nerlang adalah bagian dari generasi masa depan daerah ini," tandas Ruslan.(aa/GMB/je)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini