Demi Kelanjutan Energi dan Dekarbonisasi, Pertamina Teken 4 MoU

Redaksi Redaksi
Demi Kelanjutan Energi dan Dekarbonisasi, Pertamina Teken 4 MoU
Foto: Dok Pertamina

JAKARTA - Dalam merealisasikan langkah-langkah strategis The Business 20 (B20), Task Force Energy, Sustainability and Climate, serta Instruksi Presiden dalam persiapan Presidensi G20 2022, PT Pertamina (Persero) menyepakati 4 Nota Kesepahaman pada 18 Januari 2022, sebagai program keberlanjutan energi dan dekarbonisasi.

Kerja sama tersebut dilakukan Pertamina dengan para mitra terkemuka skala nasional dan internasional untuk melakukan kajian dan penjajakan kerja sama untuk pengembangan upaya-upaya menuju net-zero emissions dari aspek teknologi, energi ramah lingkungan, offset emisi, dan potensi kolaborasi lainnya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, mengatakan, Nota Kesepahaman tersebut merupakan bentuk realisasi untuk rekomendasi kebijakan kepada pemerintah, dan juga menunjukkan bagaimana G20 bisa mendorong realisasi dari apa yang telah dicanangkan.

"Oleh karena itu ada 4 kerja sama yang kita tanda tangani, ini semua adalah mendukung program pemerintah untuk mencapai net-zero emissions di tahun 2060 dan yang medium term-nya adalah menurunkan karbon emisi di tahun 2030 itu antara 29%-41%," ujar Nicke dalam keterangan tertulis, Selasa (18/1/2022).

Pada Nota Kesepahaman pertama, Pertamina dan PT Jababeka sepakat untuk melakukan kerja sama dalam identifikasi dan evaluasi pengembangan Green Industrial Estate, yang mencakup pasokan gas, penyediaan pasokan listrik dari energi baru & terbarukan, riset dan inovasi.

Sedangkan pada Nota Kesepahaman kedua, Pertamina dengan Inpex Corporation (Inpex) berencana menjajaki peluang pengembangan bersama pasokan Clean-LNG dan Clean-Gas dari terminal LNG Bontang. Kerja sama ini dimaksudkan untuk untuk bersama-sama mengembangkan usaha untuk memproduksi LNG yang bersih secara fisik, bebas karbon di Terminal Bontang.

Selanjutnya, Pertamina dengan Chiyoda Corporation (Chiyoda) melakukan kerja sama studi aplikasi teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS), dan produksi hydrogen.

Selain itu, Sub Holding Pertamina New & Renewable Energi (PNRE) dan Subholding Commercial & Trading (C&T) juga bekerja sama dengan PT Grab Teknologi Indonesia dan PT Sepeda Untuk Indonesia untuk melakukan penjajakan kerja sama dalam hal pengembangan ekosistem Electronic Vehicle (EV) khususnya terkait bisnis baterai dan sistem penukaran baterai sampai peningkatan desain kendaraan EV.

Terkait B20, Nicke mengungkapkan tema yang diangkat ada 3 hal, yaitu innovation, inclusive dan collaboration (inovasi, inklusif, kolaborasi).

"Tiga hal tersebut harus diwujudkan dalam hal merealisasikan target pemerintah untuk net zero emission. Oleh karena itu dengan penandatanganan tadi kita pun membuka kerja sama tersebut," tutur Nicke.

Nicke menambahkan, ada dua hal yang selama ini menjadi critical issue yang membuat peningkatan new renewable energy ini menjadi berjalan tidak secepat yang diharapkan. Pertama, teknologi, di mana Indonesia memiliki sumber energi yang sangat besar, namun masih memerlukan teknologi dan inovasi agar dapat memproses sumber daya tersebut menjadi sumber energi yang ramah lingkungan.

Kedua, akses pendanaan. Menurutnya, energi baru dan terbarukan ini dinilai masih lebih tinggi harganya dibanding dengan energi fosil. Oleh karena itu di B20 ada task force khusus membahas tentang pendanaan ini, salah satunya adalah soal green funding.

"Ini tugas kita bersama untuk merumuskannya. Karena selain inovasi, kolaborasi dengan negara-negara maju yang mereka sendiri mengalokasikan sebagian dana untuk pengembangan renewable energy dan mendorong transisi energi di negara berkembang, ini pun harus kita bahas," pungkas Nicke.

(sumber: CNBCIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini