Proyek Pengaman Tebing Sungai Subayang Dinilai Asal Jadi

Redaksi Redaksi
Proyek Pengaman Tebing Sungai Subayang Dinilai Asal Jadi
fin/riaueditor.com
Material proyek pengaman tebing di Sungai Subayang desa Domo yang diduga dimanipulasi oleh kontraktor.
PEKANBARU, riaueditor.com - Meski baru dibangun, proyek pengaman tebing Sungai Subayang didesa Domo Kecamatan Kampar Kiri, Kampar diprediksi tidak akan bertahan lama. Pasalnya, pengerjaan proyek APBD Riau senilai Rp 1,7 miliar itu terkesan asal jadi.

Penilaian itu disampaikan aktifis pemuda Kampar Kiri, Zukri Subayang (30) menanggapi proyek pengaman tebing di kampung halamannya saat ditemui di Pekanbaru, Selasa (4/10).

Ia mengatakan, jika benar pegerjaan proyek Dinas Cipta Karya Tata Ruang-Sumber Daya Air (CKTR-SDA) itu benar seperti diberitakan, tidak tertutup kemungkinan proyek tersebut akan ambruk.

“Dan itu sama saja dengan membuang-buang duit negara alias mubajir,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, Zukri meminta anggota DPRD Riau asal dapil Kampar agar turun ke lokasi proyek. Nantinya bilamana ada aroma kejanggalan di lapangan, dewan dapat meminta pertanggungjawaban Dinas CKTR-SDA Riau.

“ Saya berharap agar anggota DPRD Riau dapat menunjukkan fungsi pengawasannya di wilayah asal daerah pemilihannya (Dapil) nya. Jika itu dilakukan saya yakin mereka akan kembali dipercaya masyarakat Kampar pada Pemilu 2019 mendatang,” ucap Zukri.

Dikonfirmasi terpisah, Pimpinan Pelaksana Tekhnis Kegiatan (PPTK) Dinas CKTR-SDA Riau, Juweni tak berada di tempat.

“Tadi pagi pak Juweninya masuk pak. Barangkali dia keluar kantor, tapi saya ndak tahu entah kemana,” ujar salah seorang staf Bidang SDA di lantai 7 gedung Dinas PU Riau Jalan SM Amin, Selasa siang (4/10).

Diberitakan sebelumya, warga Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar, memprotes Dinas Cipta Karya Tata Ruang-Sumber Daya Air (CKTR-SDA) Provinsi Riau. Pasalnya, material proyek pengaman tebing Sungai Subayang desa Domo diduga dimanipulasi.

“Sepengatahuan saya material yang digunakan untuk pengaman tebing semestinya batu gunung. Namun justru batu kapur yang lebih dominan mereka pasang. Batu kapur yang mereka ambil dari desa Gema itu mudah hancur,” ungkap Doni Piliang (36), warga Kecamatan Kampar Kiri, Senin (3/10). (fin)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini