Perairan Selatpanjang Sepi Ikan

Redaksi Redaksi
Perairan Selatpanjang Sepi Ikan
anje/riaueditor.com
JIKA sepuluh tahun yang silam, Selat Air Hitam yang memisahkan pulau Tebing Tinggi dan Pulau Rangsang kaya akan ikan, seperti ikan Sembilang, Gemang, Senunggang, Setekik, Kurau dan lain sebagainya. Namun saat ini tak lagi mudah untuk mendapatkan ikan, perairan Selatpanjang sepi akan ikan.
 
Berkurangnya tangkapan ikan dikeluhkan oleh sejumlah warga Selatpanjang dan nelayan yang sering mencari ikan di Selat Air Hitam. Hal ini membuat pendapatan nelayan berkurang dan warga sulit untuk mencukupi kebutuhannya.
 
"Sekitar sepuluh tahun yang lalu, waktu itu saya masih dibangku SD dan memang hobby memancing bersama teman-teman di daerah Tanjung Mayat. Disana itu banyak ikan Gemang, Semilang dan ikan Duri banyak disana beratnya rata-rata 1 hingga 2 kilo. Sekarang sudah berbeda, jangan bilang dapat Gemang, anak Sembilang pun susah kita dapatkan," ucap Gafur warga Selatpanjang ini.
 
Hal yang sama dituturkan oleh Aidef. Kondisi laut di Selat Air Hitam sudah jauh berbeda pada 10 tahun yang lalu. Sekitar tahun 2000 dirinya sering mancing di daerah Sungai Juling. Lempar joran tidak perlu menunggu berjam-jam, ikan dengan ukuran sedang sering nyangkut di kail.
 
"Memancing dalam 2 jam saja, satu ember cat bisa penuh dengan ikan. Sekarang sudah berbeda, 5 jam kita mancing, 1 ikan pun belum tau bisa kita bawa naik," ucap Aidef yang hobby memancing ini.
 
Salah satu nelayan yang menganntungkan nafkahnya dari Selat Air Hitam ini juga menuturkan hal yang sama. Saat  ini baginya tahun-tahun yang menyedihkan. Dulunya hasil tangkapan ikan selain untuk dijual, juga untuk makan ia sekeluarga, tapi saat ini hasil tangkapannya pun tak bisa untuk makan.
 
"Dulu pasang jaring di tepi dalam waktu beberapa jam ikan sudah banyak. Sekarang mau pasang dua hari belum tentu dapat ikan. Sudah susah kita menggantungkan nasib dari tangkapan ikan," ungkap Nasir.
 
Padahal, lanjut Nasir, dulunya dalam satu hari dia hanya turun ke laut satu kali, dan tidak perlu menggunakan jaring yang panjang. Ia menduga kondisi ini terjadi karena semakin banyaknya sampah dan industri yang membuang limbah di perairan Selatpanjang.
 
"Kesalnya bukan ikan yang sangkut dijaring tapi malam sampah. Entahlah, kami juga tak tau pasti apa penyebabnya, maklumlah kami ni bukan orang sekolah. Mungkin bisa jadi karena semakin banyak sampah dan juga limbah-limbah pabrik yang mengalir ke selat ini," duga nelayan Desa Insit ini. (anje)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini