Bernostalgia di Sungai Siak

Redaksi Redaksi
Bernostalgia di Sungai Siak
ASYIKNYA memancing di sungai Siak Jangan bandingkan Pekanbaru era 60-an dengan Pekanbaru sekarang, nggak nyambung. Ini juga berlaku di manapun tempat yang saya singgahi, kecuali dengan kampung saya di Kamang, Bukit Tinggi. Di sana Batu Bajak yang ribuan tahun bertengger di pundak Bukit Barisan senantiasa memagarinya tanpa keluh kesah. Disini sang waktu seakan malas bergerak, meski belum terhenti sama sekali. Begitu juga dengan yang saya temui saat ini.

Pekanbaru tahun 60-an, dimana bus-bus yang masuk kota Pekanbaru semuanya melalui Simpang Tiga, atau jalan Lanud Simpang Tiga Pekanbaru sekarang. Melewati Simpang tiga tahun 60-an adalah melewati hutan belukar, kecuali bagian yang berdekatan dengan lapangan terbang. Kini, hutan belukar itu telah menjadi komplek perumahan yang padat penduduk, di sana pulalah saya saat ini berada.

Ali Jasmi, sang tuan rumah adalah teman se asrama waktu kami tinggal di Panti Asuhan Aisyiyah Muhammadiyah, Payakumbuh. Tahun 1970 kami berpisah. Ali melanjutkan sekolahnya hingga tamat STM dan kemudian bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor.

Sementara saya keluar dari asrama gara-gara kasus buku wajib. Sabtu pagi itu setelah mandi dan shalat subuh, semua anggota keluarga Ali Jasmi bersiap dengan kegiatan masing-masing, termasuk sang istri yang berprofesi sebagai seorang guru. Setelah semua pergi, tinggallah kami berdua. Sehabis sarapan, kami pun segera bersiap.

Ali Jasmi yang sudah mundur dari perusahaan kontraktor itu, kini punya bisnis warnet yang terletak tidak begitu jauh dari rumahnya, masih dalam satu komplek, kesanalah kami pagi itu akan berangkat. Sesampai di warnet, saya langsung membuat postingan sambungan Berkelana di Ranah Minang. Ali sibuk dengan pekerjaannya, sesekali kami menyempatkan diri ngobrol, apalagi kalau bukan kisah-kisah seputar kehidupan di panti asuhan.

Mendekati jam satu siang, dua orang anak Ali pulang dari sekolah, kamipun aplusan. Setelah shalat zuhur dan makan siang, dengan mengendarai sepeda motor, kami pun meluncur ke Sungai Siak. Keluar dari komplek perumahan Bumi Sejahtera, kami belok kanan masuk jalan Kaharuddin Nasution.

Di Simpang Tiga pertemuan jalan Kaharuddin dengan jalan Bandara Sultan Syarif Kasim II serta jalan Jenderal Sudirman, kami meluncur lurus di jalan Jenderal Sudirman melintasi pusat kota.

Mendekati ujung jalan Sudirman yang saya tidak tahu berapa kilometer panjangnya itu, sampai di persimpangan jalan Juanda kami belok kiri, masuk jalan Ahmad Yani belok ke kanan terus melewati pasar bawah, beberapa saat kemudian sampailah kami di Pelabuhan Sungai Siak, Pekanbaru.

Begitu memasuki area pelabuhan Sungai Siak dan mengamati lingkungan sekelilingnya, pikiran saya melayang jauh ke masa 50 tahun yang lalu, setiap hari saya bermain di sungai siak ini. Kebetulan sebuah kapal saat itu sedang lego jangkar dan bersandar di dermaga pelabuhan, hal yang sama seperti saya lihat pertama kali di awal tahun 60an itu.

Sambil melihat ke sekeliling, saya coba mengurai lagi hari-hari saya bermain disini. Bermain sendiri tanpa teman, karena pelabuhan memang bukanlah arena bermain. Saya melihat bagaimana orang bekerja membongkar isi kapal, lalu menaikannya ke atas truk.

Panas menyengat kepala, keringat bercucuran, dalam ketidak pedulian orang-orang yang sedang bekerja itu, tapi saya begitu menikmatinya. Dalam keasyikan memperhatikan orang-orang yang sedang bekerja, sering juga perhatian saya beralih bila ada speedboat yang melintas kencang, meninggalkan jejak gelombang air yang menyibak ke kiri dan ke kanan sungai.

Sebuah lukisan yang bagi mata seorang anak kecil seperti saya kala itu terlihat begitu indah. Pelabuhan yang ramai dengan segala kesibukannya membuat saya betah bermain berlama-lama, walau dalam kesendirian. Tapi saya seakan mempunyai arena bermain dengan begitu banyak hiburan.

Kerongkongan saya terasa kering, ada rasa sesak di dada, sesuatu yang hilang yang takkan kembali lagi. Sebuah kisah indah yang hanyut dalam perjalan waktu, kisah seorang bocah yatim piatu dalam kesendiriannya, kenangan 50 tahun nan lampau.

Saya melihat ke kolong dermaga, yang dahulunya di topang dengan tiang dari pohon kelapa, tempat saya bersembunyi dari kejaran bayang-bayang ketakutan, ketika dikejar oleh pedagang kaki lima yang marah setelah sisir dagangannya saya tawar berkali-kali tanpa jadi membelinya.

Saya lalu menyusuri ujung dermaga yang mengecil seperti laras senjata. Tempat dulu saya menonton orang memancing ikan di Sungai Siak ini. Kemudian saya melihat bekas lokasi jembatan Ponton yang kini tak ada lagi, malah kini diatasnya telah terpancang kerangka jembatan baru. Begitu juga deretan loket yang menjual tiket kapal tempat kakak saya bekerja dulu, tak satupun lagi yang tersisa. Kemajuan roda transportasi darat, telah mengalahkan transportasi air yang waktu itu masih dominan di sepanjang sungai Siak hingga bermuara di Selat Malaka.

Satu tempat lagi yang tak mungkin hilang dalam kenangan saya adalah rumah kost kami di Pasar Bawah. Tapi saya sudah kehilangan jejak untuk kembali menelusuri jalan menuju rumah yang pernah saya tinggali itu. Kalaupun saya bisa menelusurinya, sudah pasti suasananya juga sudah berubah jauh. Malah bisa-bisa rumah itu kini telah berubah menjadi rumah mewah, ruko atau malah bisa juga sudah hilang tak berbekas sama sekali.

Setelah mengabadikan tempat penuh kenangan itu dengan kamera, kami kembali pulang ke Simpang Tiga. Kami pulang kembali melewati jalan yang sama. Namun, ketika memasuki jalan Jenderal Sudirman, sebuah kenangan lama kembali menyeruak. Disanalah, di ujung jalan Jenderal Sudirman itu saya bermain dengan perasaan bebas merdeka di taman yang membelah jalan menjadi dua bagian itu.

Bermain sendiri di bawah teriknya matahari, tapi saya begitu menikmatinya. Masih ada tempat yang tak sempat saya kunjungi pada kedatangan saya ke Pekanbaru kali ini, diantaranya kampung Sukajadi serta Tanah Merah dan Rumbai. Juga ke rumah rekan Ramzan yang bekerja di Chevron, salah seorang teman lain yang juga pernah tinggal se asrama di Payakumbuh. Begitu pula keinginan bertemu dengan Demini Rose, Kompasianer yang berdomisili di Pekanbaru. Ini gara-gara nomor telpon genggamnya lupa tersalin dari telepon genggam saya yang lama dan sudah rusak.

Setiba di rumah rekan Ali Jasmi hari pun menjelang sore, saya kemudian menunaikan shalat Ashar, setelah itu langsung berbenah mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta dengan penerbangan yang di jadwalkan pukul 7 malam itu.
(kompasiana.com/dian kelana)



Tag:

Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini