Wanita Sales Perumahan Ini Dijerat Pasal Penipuan, Ancaman Hukuman Empat Tahun

Redaksi Redaksi
Wanita Sales Perumahan Ini Dijerat Pasal Penipuan, Ancaman Hukuman Empat Tahun
riaueditor.com/raf

BANGKINANG - Ruang sidang Cakra di PN Bangkinang, Selasa (25/10/2022) ramai pengunjung di siang hari. Namun, ketika sidang perkara penggelapan dengan terdakwa Sri Rejeki initial SR, ruang sidang sudah terlihat sepi.

Hanya ada tiga orang yang hadir sebagai saksi masing-masing Nanang Kurniawan, Roni Saputra dan Mulyana. Sedangkan dua orang saksi Lolita dan Sri Anggun, dimintai keterangannya secara zoom. Sementara terdakwa Sri Rejeki atau SR dihadirkan secara virtual dari Lapas Bangkinang.

SR didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pradipta Prihantono SH dengan Pasal 378 KUHPidana tentang Penipuan yang berbunyi, “Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun” Jo Pasal 372 tentang Penggelapan.

Ikhwal kejadian, sebagaimana tertulis dalam surat dakwaan JPU, bermula saat Nanang hendak mencari rumah tinggal di daerah seputaran jalan Garuda Sakti. Lelaki itu masih ingat saat di bulan April 2019, ia ditemani Wan Ely dan Mulyana sampai ke Perumahan Griya Setya Bangsa, kilometer 4,5 Desa Karya Indah Kecamatan Tapung, Kampar. Hatinya terpincut dengan salah satu unit rumah yang ada di sana.

Ia pun berkunjung ke kantor pemasaran perumahan tersebut dan bertemu dengan terdakwa SR. Kala itu SR masih menjadi sales marketing di perusahaan perumahan tersebut.

Dengan kelihaiannya sebagai sales marketing, SR berhasil meyakinkan Nanang untuk membeli rumah secara cash bertahap.

Nanang pun tanpa ragu-ragu menyerahkan uang kepada terdakwa SR yang diberikan bertahap dari bulan April 2019 hingga Oktober 2020, seluruhnya mencapai Rp.81.500.000 rupiah.

Memang, Nanang agak kurang teliti. Setiap ia menyetorkan uang tunai, ia tidak meminta bukti kwitansi resmi yang dikeluarkan oleh developer Perumahan Griya Setia Bangsa, PT. Sinarmuda Setia Pertiwi. Melainkan, ia hanya mendapat kwitansi biasa yang banyak dijual di toko-toko buku dan ditandatangani hanya oleh Sri Rejeki.

Memang, kwitansi tersebut diberi cap mengatasnamakan pengembang. Namun, berdasarkan keterangan pihak pengembang, cap tersebut bukanlah cap milik mereka. Cap tersebut dibuat oleh SR untuk memuluskan perbuatannya.

Padahal, pihak pengembang sudah mengumumkan dan membuat tulisan di spanduk, brosur maupun banner agar semua transaksi wajib melalui transfer ke rekening Bank Mandiri perusahaan atas nama PT. Sinarmuda Setia Pertiwi Nomor : 108-00-3234998-8.

"Setiap transaksi pembayaran yang dilakukan konsumen perumahan kami, dipastikan akan mendapatkan kwitansi khusus dari perusahaan, sebagai bukti uang telah masuk ke perusahaan," ucap Sri Anggun, staf bagian keuangan PT. Sinarmuda developer perumahan tersebut memberi keterangan.

Kembali ke surat dakwaan, ketika uang Nanang telah diserahkan kepada SR mencapai Rp.81.500.000 rupiah dari harga rumah yang dijanjikan sebesar Rp.135.000.000 rupiah, pada bulan Desember 2020 suami Mulyana itu hendak melunasi pembelian rumahnya.

Anehnya, terdakwa SR justru menolak disodori segepok uang pelunasan.

Ia berdalih, jangan dilunasi dulu karena rumah yang dipilih Nanang itu merupakan rumah contoh. Bila ada calon konsumen hendak beli rumah, maka rumah itulah yang akan diperlihatkan sebagai contoh.

Nanti saja bapak lunasi, setelah ada rumah lain yang sudah siap, dalih terdakwa SR kala itu.

Dengan kepiawaiannya menjelaskan, luluh hati Nanang dan Mulyana. Suami istri itu mempercayai ucapan wanita yang kini harus meringkuk di jeruji besi Lapas Bangkinang.

Seiring waktu berlalu, Nanang dan Mulyana kembali menagih janji SR untuk segera mendapatkan rumah idaman yang dijanjikan.

Berkali-kali ia menelpon terdakwa menanyakan rumah tersebut. Ia melalui telepon minta ketemu untuk menyerahkan uang melunasi sisa harga rumah.

Terdakwa selalu menghindar dengan alasan yang sama. Berkali-kali ditelepon, terdakwa tidak merespon hingga akhirnya habis kesabarannya.

Pada tanggal 24 Mei 2021 Nanang dan Mulyana mendatangi kantor pengembang Perumahan Griya Setia Bangsa tersebut menanyakan perihal pesanan rumahnya. Alangkah terkejutnya suami istri itu ketika perusahaan menyatakan tidak pernah menerima uang angsuran pembelian rumah.

Mereka lantas mendatangi rumah terdakwa didampingi Humas perusahaan. Terdakwa pun mengakui, uang yang selama ini diserahkan kepadanya tidak pernah disetorkan ke perusahaan perumahan, kecuali uang muka sebesar satu juta rupiah.

Lolita dan Sri Anggun dalam kesaksiannya menguatkan kesaksian Nanang dan Mulyana.

"Perusahaan tidak pernah menerima uang sebesar 81.500.000 rupiah. Kami lihat bukti kwitansi yang dibuat oleh terdakwa, itu bukan kwitansi yang dikeluarkan perusahaan kami. Itu kwitansi biasa yang banyak dijual di warung atau toko buku," kata Lolita saat dihubungi.

Kuasa Hukum PT. Sinarmuda Setia Pertiwi, Sugiharto SH dan Edward Sibarani SH MH, pun senada dengan Lolita. Kepada awak media mereka memperlihatkan bukti-bukti kwitansi yang dibuat SR.

“Korbannya bukan cuma Saudara Nanang. Ada beberapa orang. Tapi, perusahaan telah membantu mencari dan mempertemukan SR. Karena SR ini pada tahun 2020 telah di PHK karena perbuatannya yang telah merusak nama baik perusahaan kami. Kabarnya, SR sudah mengembalikan uang mereka. Kami tidak tahu, kenapa dengan Pak Nanang terdakwa tidak bisa mengembalikan uang yang sudah dia pakai,” ujar Sugiharto.

Sementara SR alias Sri Rejeki, tidak membantah keterangan para saksi di persidangan.

Ketika Majelis Hakim, I Dewa Gede Budhy Dharma Asmara SH MH (hakim ketua), Petra Jeanny Siahaan, SH MH, Renny Hidayati, SH menanyakan apakah menerima keterangan yang telah disampaikan saksi-saksi, singkat ia menjawab, “Iya pak!”

Penulis : Rafizis


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini