Di Antara Asap dan Harapan, Langkah Kemanusiaan PT Nikmat Halona Reksa di Penyaguan

Redaksi Redaksi
Di Antara Asap dan Harapan, Langkah Kemanusiaan PT Nikmat Halona Reksa di Penyaguan

Indragiri Hulu, Di bawah terik matahari yang menggigit dan langit yang mengabu, aroma hangus daun dan semak menjadi saksi bisu perjuangan manusia melawan api. Di Desa Penyaguan, Kecamatan Batang Gansal, Indragiri Hulu, api tak sekadar membakar ranting dan tanah, tetapi juga mengguncang rasa aman dan napas kehidupan.

Namun, dari tengah ancaman itu, muncul sekelompok manusia dengan niat tulus dan langkah sigap. Mereka adalah tim dari PT Nikmat Halona Reksa (NHR) bukan sekadar karyawan, melainkan duta kepedulian yang datang bukan untuk menyalahkan, tapi membantu memadamkan.

Atas instruksi Mill Manager, Wiwit Wahyudi Abto, dan dipimpin langsung oleh Rado Saragih dari divisi HRD, tim PT NHR turun tangan memadamkan kobaran api yang menjalar di lahan masyarakat sejak 1 hingga 4 Agustus 2025. Selama empat hari, mereka bukan hanya memanggul selang dan air, tapi juga harapan bahwa bencana ini bisa diakhiri dengan kerja sama, bukan keluhan.

“Kami bergerak bukan karena diwajibkan, tapi karena merasa terpanggil. Ini tentang rumah kita bersama, tentang udara yang kita hirup bersama,” ucap Rado Saragih di tengah debu dan tanah basah.

Dengan peralatan sederhana dan medan gambut yang tidak bersahabat, mereka menyatu dengan warga dalam semangat gotong royong. Tak ada pangkat, tak ada sekat hanya manusia-manusia yang ingin melihat api padam dan kehidupan kembali teduh.

“Kami tak bisa hanya diam saat melihat alam terluka. Kepedulian adalah bagian dari tanggung jawab kami sebagai perusahaan yang tumbuh di tanah ini,” ujar Wiwit Wahyudi Abto, sang pemimpin yang menyerukan aksi sebelum bara menjadi bencana.

Provinsi Riau memang tak asing dengan ancaman karhutla. Setiap musim kemarau, tanah-tanahnya diuji. Tapi setiap kali pula, selalu ada tangan-tangan yang bersedia membantu seperti yang dilakukan PT NHR kali ini.

Langkah mereka disambut syukur oleh masyarakat. Bukan hanya karena apinya padam, tetapi karena mereka merasa tidak sendiri. Ada yang peduli. Ada yang datang saat dibutuhkan.

Dan mungkin, di tengah kobaran api dan suara semprotan air, diam-diam tumbuh harapan: bahwa ketika manusia bersatu untuk menjaga bumi, maka bumi pun akan memberi hidup yang lebih damai. (Yudi)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini