Pulau di Kepulauan Seribu Terancam Lenyap Akibat Proyek Reklamasi

Oleh: Kabul Astuti
Redaksi Redaksi
Pulau di Kepulauan Seribu Terancam Lenyap Akibat Proyek Reklamasi
republika
Suasana pulau C dan D Reklamasi di pantai Utara Jakarta, Rabu (11/5)
SEBUAH tugu bercat putih di tengah-tengah pulau menandai dimulainya lembaran hidup baru penduduk Pulau Untung Jawa. Juga, menandai sebuah bencana ekologis ketika pulau lama mereka lenyap terkikis dihantam abrasi air laut. Alam tak pernah main-main. "Peringatan Kepindahan Rakyat Pulau Ubi ke Pulau Untung Jawa 13-2-1954", demikian bunyi singkat prasasti pada tugu itu.

Adim, kakek tua renta yang muncul melipir lewat jalan sempit di antara dua dinding rumah warga itu berucap antusias. Kepada Republika.co.id, ia mengaku lahir di Kosambi, Tangerang pada 1923, sewaktu Belanda masih berkuasa. "Sini, Kakek ceritakan. Kakek mengalami waktu itu. Bukan kata siapa-siapa, Kakek mengalami sendiri," ucapnya.

Menurut Kakek Adim, sebagian besar penduduk Pulau Untung Jawa merupakan pindahan dari Pulau Ubi Besar yang lenyap terkena abrasi. Warga lainnya berasal dari Tangerang, DKI Jakarta, dan sekitarnya. Riwayat mereka sampai ke pulau ini pun beragam. Menurut dia, generasi muda sudah terlahir di pulau ini.Tetapi, pada zaman dulu, banyak penduduk datang ke Pulau Untung Jawa untuk menyelamatkan diri.

Pada era kolonialisme Belanda, Pulau Untung Jawa dinamai Pulau Amiterdam. Pulau Amiterdam dan beberapa pulau di sekitarnya menjadi basis pertahanan angkatan laut Belanda. "Belanda sebelum jajah Jakarta bikin pertahanan di sini dulu. Masih ada bekas dok (dermaga)," kata Kakek Adim, kemarin.

Selama masa penjajahan, kata dia, banyak penduduk di kampung kelahirannya diperas dan dikejar-kejar. Tidak hanya oleh militer Belanda, melainkan juga oleh penguasa pribumi yang pro pemerintah Kolonial. Mereka yang saban hari hanya bertani, tak punya uang untuk membayar pajak.

"Orang kampung pada lari. Yang tidak lari ditangkap. Dibawa ke kantor, nggak tahu diapakan, namanya zaman itu," tuturnya.

Nasib buruk juga dialami keluarganya. Merasakan beratnya hidup di kampung halaman, Adim sekeluarga kemudian mengungsi ikut kapal nelayan ke Pulau Untung Jawa. Kepindahannya waktu itu, ia perkirakan tahun 1952.

Tatkala Adim pindah, Pulau Untung Jawa masih digarap supaya makin laik huni. Penduduk Pulau Ubi Besar yang lingkungannya habis terkikis abrasi pindah ke pulau tersebut selang satu dua tahun kemudian. Tahun 1954, penduduk mendirikan tugu kepindahan rakyat di tengah-tengah pulau untuk mengabadikan peristiwa penting tersebut. "Generasi muda pulau itu tidak boleh alpa," pesan Kakek Adim.

Warga Pulau Untung Jawa yang konsen di bidang pelestarian lingkungan, Muhammad Buang (55 tahun) mengatakan, perpindahan penduduk dalam skala besar-besaran pernah terjadi dari Pulau Ubi Besar ke Pulau Untung Jawa. Momen itu menjadi peristiwa dramatis tentang kerusakan ekologi terhadap kehidupan manusia benar-benar terjadi.

Menurut mantan pegawai honorer Dinas Kehutanan DKI tersebut, Pulau Ubi Besar lenyap diterjang abrasi lantaran tidak adanya pemecah gelombang dan pohon-pohon mangrove yang menjaga ekosistem pesisir. Sejumlah pulau kecil lain di Kepulauan Seribu menghadapi ancaman serupa.

Buang yang pada 2004 mendapatkan penghargaan Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan berhasil memelihara kelestarian pantai Pulau Rambut (salah satu pulau di dekat pulau Untung Jawa) dengan membersihkan sampah sepanjang pantai. Dia menanam 100 ribu pohon mangrove dan menyelamatkan habitat satwa di pulau tersebut.

Di tengah memburuknya ekosistem pesisir hari ini, Pulau Untung Jawa pun tidak lepas dari ancaman abrasi. Penduduk Pulau Untung Jawa sudah sangat memahami, bahkan merasakan langsung dampak abrasi air laut. Kekhawatiran itu masih ada. Apabila pulau Untung Jawa tidak dijaga lewat perbaikan ekosistem lingkungan, bukan mustahil akan mengalami nasib sama dengan pulau mereka yang terdahulu.

"Rencana akan dibuatkan dam, pemecah gelombang, di sekeliling pulau supaya tidak terkikis. Bertahap dari tahun ke tahun," kata Buang.

Menurut dia, saat ini pembuatan dam sudah hampir melingkupi separuh pulau. Penanaman mangrove juga dilakukan untuk menjaga ekosistem secara alami. Hingga kini, sudah ratusan ribu pucuk bakau ditanam di pesisir pantai Pulau Untung Jawa, baik oleh komunitas maupun pemerintah.

Akhir-akhir ini, reklamasi telah menjadi ancaman lain terhadap ketahanan lingkungan pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu. Tak terkecuali, Pulau Untung Jawa. "Saya menginginkan pembangunan reklamasi itu sudah disetop aja. Tidak usah dilanjutkan," tegas Buang.

Lokasi pulau ini relatif dekat dengan daratan Provinsi DKI Jakarta, hanya berjarak 25 menit perjalanan air dari pantai di Ancol. Kekhawatiran Buang sangat lumrah mengingat penduduk Pulau Untung Jawa pernah merasakan langsung dampak lenyap atau hilangnya sebuah pulau.

Buang menyuarakan supaya proyek reklamasi di lepas pantai Laut Jawa tidak dilanjutkan lantaran akan berdampak serius terhadap ekosistem pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu. Pulau kecil dan hutan akan lenyap digantikan gedung bertingkat. "Semua pulau akan terkikis mau tidak mau. Dengan adanya pengurukan di sana kan mau tidak mau ambilnya di lautan juga," lanjutnya.

Warga asli Tangerang yang menikahi penduduk asli Pulau Untung Jawa ini masih giat melakukan penanaman bakau. Menurut Buang, masyarakat pernah gencar melakukan penanaman bakau sewaktu dicanangkannya program penanaman satu juta mangrove oleh presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2009-2010.

Saat itu, penanaman di Pulau Untung Jawa mampu mencapai 200 ribu mangrove per tahun. Meski sudah tidak segencar masa itu, Buang siap melayani pengunjung yang ingin menanam. "Jadi bukan hanya orang pulau saja yang peduli, tapi seluruh masyarakat juga ikut peduli," harapnya.

Pegiat komunitas pecinta lingkungan Join Society Nature (JSN), Patria Mada, membantu penanaman 100 bibit mangrove di tepi pantai dekat dermaga Pulau Untung Jawa pada peringatan 17 Agustus kemarin. "Mangrove fungsinya penting buat menjaga pulau-pulau kecil agar tidak terkikis," kata Mada.

Dia menyebutkan, banyak pulau-pulau kecil di perairan Indonesia yang terancam hilang terkikis abrasi pantai. Menurut Mada, upaya pelestarian lingkungan perlu dilakukan serius di Pulau Untung Jawa supaya tidak bernasib sama seperti Pulau Ubi Besar.(ROL)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini