Muara Takus, Pusat Kerajaan Sriwijaya

Redaksi Redaksi
Asal Mula Kerajaan Melayu Kuno

Bangkinang(riaueditor.com) - Negeri Kampar bila ditelisik lebih dalam memiliki sejarah yang panjang dan unik bahkan dapat disejajarkan dengan Tiongkok kuno atau Romawi kuno. Sekitar 4000 tahun lalu di Kampar telah ada pemerintahan dengan system kemasyarakatan serta budaya yang baik. Di sinilah awal berdirinya kerajaan Melayu kuno yang tak tercatat dalam sejarah. Dan bukti-bukti peninggala kerajaan Melayu kuno itu kini masih ada.

Kerajaan ini disebut kerajaan Ketangko. Ada pula yang menyebutnya Koto Sijangkang. Sisa peradaban kerajaan ini yang dapat dilihat saat ini adalah arca dari zaman Megalitikum, punden berundak-undak, korwar dan lain-lain.

Sisa-sisa peradaban tersebut ditemukan di daerah bagian hulu Sungai Kampar yang ketika itu disebut dengan Laut Ombun. Peninggalan pra sejarah ini ditemukan secara tak sengaja oleh penduduk di hutan belantara perbatasan Kampar dengan Sumatera Barat.

Berdasarkan analisa serta beberapa bukti berupa benda-benda purbakala ini, dapat disimpulkan Candi Muara Takus yang terletak di Kabupaten Kampar merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya. Ada beberapa tulisan serta benda-benda yang menjadi saksi sejarah yang menguatkan bahwa Muara Takus merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya.

Kesimpulan ini terungkap dalam Seminar Sejarah Tamaddun Melayu Internasional yang diselenggarakan oleh Institut Alam dan Tamaddun Melayu University Kebangsaan Malaysia (ATMA-UKM) Kuala Lumpur Malaysia 15-16 Oktober lalu. Seminar ini bertema Menelusuri Jejak Sejarah Kejayaan Negeri Melayu Nusantara.

Adalah Drs.A.Latif Hasyim bergelar Datuk Bagindo yang peduli dengan sejarah dan budaya Melayu di Kampar. A. Latif Hasyim merupakan utusan Masyarakat Melayu Kampar Malaysia (IKMAL) yang mencetus seminar tersebut. Bagi A. Latif Hasyim, penting baginya untuk menyampaikan sejarah kemelayuan di Kampar ini kepada masyarakat.

Dalam seminar Arkeologi yang dihadiri utusan Negara bagian Malaysia, Jambi, Sumut, Sumsel, Bali dan NTB ini diuraikan, dari beberapa sumber catatan perjalanan pelaut kuno baik dari Yunani, Persia, Arab dan Tiongkok menyebutkan adanya daerah yang menjadi kebesaran Kerajaan Sriwijaya. Ternyata daerah tersebut terletak di Muara Takus.

Prasasti yang ditemukan di Palembang, Bangko Bengkulu, Lingga, Kedah dan India juga mengindikasikan bahwa Kerajaan Sriwijaya berpusat di Muara Takus. Demikian pula dengan relief-relief di Candi Borobudur, mendut bahkan Bali, semakin menguatkan  bahwa Muara Takus merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan Indo Dunio, Sri Alam Poco (Pulau Perca) yang lebih dikenal dengan Sriwijaya.

Tak hanya itu, para penulis Eropa Belanda dan Jerman abad 19 menyimpulkan, pusat kerajaan Sriwijaya adalah Muara Takus, Jauh sebelumnya, pelaut Arab Abu Fida serta pelaut dan pendeta dari Tiongkok telah menyatakan Muara Takus sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya.

 

Itsing

Seorang biksu dan juga pelaut China bernama Itsing (671M) dalam dua bukunya berjudul “Nan hai kuei nai fa chuan” dan “Ta tang si yu kufa kao seng chuan” menceritakan, ibukota Sriwijaya itu apabila berdiri disana maka bayang-bayang seakan seakan tidak ada. Bila diletakkan tongkat Wela Cakra, maka bayangannya tidak lebih pendek atau tak lebih panjang.

Bila dianalisa, ada beberapa tempat lainnya yang pernah disebut sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya seperti Jambi, Palembang, Kedah dan Teluk Tonking. Namun dari tempat-tempat tersebut hanya Muara Takus yang terletak tepat di garis Khatulistiwa (nol derajat).

Itsing juga menyebutkan pusat Kerajaan Sriwijaya ini dikelilingi tembok-tembok batu dan tembok tanah yang sangat panjang dan besar. Apa yang disebutkan Itsing ini ternyata ada di Muara Takus. Bekas-bekas tembok yang diceritakan Itsing ini hingga saat ini masih bisa dilihat di Muara Takus.

Di Indonesia sendiri, sejarawan yang menulis buku Sriwijaya, Prof. DR. Slamet Mulyana menulis bahwa berita dari Arab dan China menyebutkan Ibukota Sriwijaya itu terletak di pinggir sungai besar. Sama halnya dengan J.L. Moens yang menyimpuilkan Sriwijaya terletak di daerah pertemuan dua sungai besar yakni Sungai Kampar Kanan dan Batang Mahat.

Selain pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan tertua di Asia Tenggara dan dinasti terlama di dunia (3-13 Masehi), Muara Takus juga sebagai pusat pendidikan dan pusat agama Budha dunia. Muara Takus sering dikunjungi para biksu salah satunya Itsing yang ingin memperdalam agama Budha.

Selama di Muara Takus inilah Itsing berhasil menulis dua buku. Tulisan Itsing ini yang menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa Muara Takus merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya yang disebutnya Shih Li Posih.

 

Asal Kata Melayu

Dalam Makalah yang disampaikan Drs. A. Latif Hasyim, MM, pada seminar sejarah Kampar di Malaysia yang ditaja Persatuan Masyarakat Kampar Malaysia (IKMAL) di Kuala Lumpur akhir 2011 lalu, Itsing menyebut Sriwijaya dengan Shih Lih Posih. Sedangkan beberapa catatan pelaut Cina menyebutnya dengan Mouloyou (Melayu).

Oleh Mpu Tantular dalam bukunya Negara Kartagama (abad 13) menyebut lokasi komplek Muara Takus dengan nama Minanga Kampua/Muara Tamwan yang maknanya Sungai Kampar yang bercabang dua atau pertemuan dua muara sungai.

Masih dalam tulisan yang sama, Laut Ombun sebagai lalu lintas para pelaut dan pedagang internasional membuat daerah ini dikenal sebagai daerah pelayaran, sehingga dikenal dengan istilah balayu yang artinya berlayar. Kemudian mengalami perubahan dari balayu menjadi melayu.

 

Proses Penyebaran

Sungai Kampar telah mengalami perubahan  selama ribuan tahun. Perubahan ini juga menyebabkan perubahan terhadap nama Sungai Kampar itu sendiri, yakni Laut Ombun berubah menjadi Sungai Ombun dan berubah lagi menjadi Sungai Kampar.

Cerita tentang Sungai Kampar ini dahulunya selalu diceritakan oleh datuk-datuk kepada cucunya di Kampar yang menyatakan bahwa negeri Limo Koto ini dahulunya merupakan laut lepas. Oleh A. Latif Hasyim yang juga Kepala Sekolah SMAN 2 Bangkinang ini, selama 20 tahun meneliti bahwa hal tersebut bisa dibuktikan.

Diantaranya yang bisa dilihat seperti ditemukannya fosil siput raksasa di desa Batu Besurat di hulu Sungai Kampar. Ditemukan Bangkai Kapal Layar besar kepala naga di Koto Tagaro Kuok dan Koto Semiri Kuok. Ditemukan fosil Kuda laut dan Siput laut di kedalaman 15 meter sewaktu warga menggali sumur di daerah Bukit Indah Bangkinang. Selain itu, masih ada belasan temuan-temuan lainnya yang membuktikan cerita ini.

Migrasi masyarakat dari Minanga Kampua ke daerah-daerah lain erat kaitannya dengan kondisi perairan laut (Laut Ombun/Sungai Ombun) yang semakin dangkal. Pendangkalan ini menyebabkan sulitnya kapal-kapal dagang untuk  memasuki perairan Laut Ombun untuk sampai ke Muara Takus. Hal ini membuat mereka harus mencari tempat baru untuk dijadikan pusat kota atau pusat perdagangan.

Pada salah satu prasasti di dekat Kota Palembang (Bukit Siguntang) terdapat kalimat dalam bahasa Sansakerta dan Melayu Kuno yang ditulis dengan huruf Pallawa. Tulisan tersebut menceritakan perpindahan penduduk dan keluarga kerajaan dari Minanga Kampua. Perpindahan tersebut dilakukan ketika air laut sedang pasang.

Penyebaran dan migrasi dari Muara Takus ini tak hanya mengikuti hilir Sungai Ombun saja, namun juga arah hulu sungai ke daerah Sumatra Barat. Selain mengikuti hulu sungai, migrasi juga dilakukan dengan menempuh jalan darat ke arah timur melewati Bukit Suligi, Rokan 4 Koto, Tambusai dan ke mandailing Tapanuli Selatan dan Deli Serdang. Di daerah Deli Serdang terbentuklah Kerajaan Melayu Deli di Medan Sumatra Utara.

A. Latif Hasyim mengharapkan, setelah pembahasan sejarah Melayu kuno ini, sejarah Muara Takus dapat kembali terangkat dan diluruskan. Menurutnya sejarah ini sudah banyak dipalsukan baik disengaja dengan tujuan tertentu maupun tidak disengaja.

Tak hanya itu, Latif Hasyim mengusulkan pemerintah daerah membentuk suatu badan yang menangani masalah sejarah dan kepurbakalaan. (sumber: A. Latif Hasyim)
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini