Liverpool menang atas Milan lewat adu penalti. (MUSTAFA OZER / AFP)Benitez memasukkan gelandang Dietmar Hammann di awal babak kedua menggantikan bek kanan Steve Finnan. Liverpool pun memainkan tiga bek tengah di 45 menit babak kedua dengan menumpuk pemain di lini tengah.
Dengan strategi tersebut, Steven Gerrard (54`), Vladimir Smicer (56`) dan Xabi Alonso (60`) sukses menyamakan kedudukan.
"Kami membaik ketika beralih dengan tiga pemain di belakang, yang memberi kami lebih banyak kontrol di lini tengah," tutur pelatih asal Spanyol itu.
Mantan pelatih Napoli itu tahu, Carlo Ancelotti yang pada masa tersebut melatih Milan, masih memiliki senjata lain guna menggempur pertahanan lawan.
Ancelotti memainkan winger lincah, Serginho, di menit-menit akhir. Liverpool yang kehabisan stok pemain pengganti tidak kehilangan akal.
Benitez menarik Gerrard turun ke belakang menjadi bek kanan. Langkah tersebut cukup efektif menghambat serangan Rossoneri dari Serginho sekaligus membuat Liverpool tidak lagi kebobolan untuk keempat kalinya.
"Anda harus tahu pemain Anda. Dialah [Gerrard] yang memiliki lebih banyak energi," ucap Benitez.
Final itu dipersiapkan secara detail oleh Benitez, termasuk rencana adu penalti. Tim pelatih Liverpool memiliki informasi dan statistik tentang eksekutor-eksekutor penalti dari Milan.
Hasilnya, kiper Jerzy Dudek sukses mementahkan dua penalti dari Andrea Pirlo dan Andriy Shevchenko, sedangkan sepakan Serginho melayang di atas mistar.
Sementara itu, pencetak gol Liverpool dalam adu penalti adalah: Hamann, Djibril Cisse, dan Smicer. Tendangan John Arne Riise diblok Dida.
"Ketika menuju penalti, itu adalah hasil dari keberuntungan dan kerja keras karena lima penendang penalti Milan. Kami tahu empat di antaranya sangat baik dan di mana biasanya mereka menembak," tutur Benitez.
Gelar Liga Champions tersebut jadi yang pertama bagi Liverpool setelah 21 tahun. Kali terakhir Liverpool juara Liga Champions sebelum itu pada musim 1983/1984.
(CNNIndonesia.com)