Pengguna Medsos Sasaran Utama Penyebar Berita Hoax

Redaksi Redaksi
Pengguna Medsos Sasaran Utama Penyebar Berita Hoax
sy/riaueditor.com

BANGKINANG, riaueditor.com - Berita bohong (Hoax) yang tujuannya sangat jahat hampir menerpa semua lini masyarakat. Pengguna media sosial (Medsos) menjadi sasaran utama penyebar berita Hoax.

Berdasarkan survey MASTEL tahun 2017, kata Mastar Mahat perwakilan Kominfo Propinsi Riau yang menjadi salah satu nara sumber pada acara Focus Group Discussion (FGD) tentang antisipasi berita hoax, isu sara, anti adu domba dilaksanakan oleh Binmas Polres Kampar di ruang serbaguna Polres Kampar, Jumat (22/3/2018), bahwa pengguna media sosial terbesar mengadopsi berita Hoax.

Disampaikan, 92,4 persen pengguna Medsos menjadi sasaran penyebar berita Hoax.     Disusul pengguna aplikasi chatting sebesar 62,8 persen dan pada pengguna situs web 34,9 persen dan lainnya.

Sedangkan isu hoax terbanyak dihembuskan dibidang sosial politik mencapai 91,8 persen, kemudian bidang sara 88, 6 persen dan isu kesehatan 41,2 persen disusul bidang lainnya.

Hoax itu merugikan diri sendiri dan orang lain, ujarnya sembari berharap masyarakat bisa cerdas menerima informasi dan cerdas memberikan/menyebarkan informasi.

Sementara, Ketua PWI Cabang Kampar, Akhiryani menyampaikan, bahwa berita bohong atau hoax sangat mengancam keutuhan NKRI dan integrasi bangsa

"Ini sangat bahaya, jika dibiarkan dapat menghancurkan. Untuk itu ia mengajak kepada pekerja pers untuk memerangi berita bohong ini," ujarnya.

Ia meminta agar para wartawan dapat bekerja menjalankan tugas secara profesional sesuai kode etik jurnalistik.

Ia juga meminta para wartawan tidak mudah ditunggangi oleh penggugah berita hoax khususnya jurnalis yang menjalankan tugas di wilayah Kabupaten Kampar.

Ketua IWO Riau Midas Aditya, mendukung penegakkan hukum terhadap penyebar beruta hoax. Berita hoak ini sangat merugikan dan meresahkan.

"Kita harus bisa meneliti terlebih dahulu kebenaran suatu informasi didapatkan terutama berasal dari akun sosial sebelum menerimanya menjadi informasi," ujar Midas.

Ia mengingatkan kepada para wartawan untuk bijak menggunakan medsos.

Informasi HOAX itu bukan berita, karena kritia berita itu merupakan yang patut dan pantas untuk disampaikan melalui sistim penulisan berita dan sesuai kode etik jurnalistik, kata Casno Tatilotopa salah seorang jurnalis istana negara yang sempat hadir dalam acara itu.

"Mudah mudahan apa yang kita khawatirkan tidak terlalu berdampak terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Terlebih hal itu telah disikapi dengan cepat oleh pemerintah dan para penegak hukum terhadap hal ini, tutupnya. (Syailan Yusuf)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini