Dialog Interaktif DPC PTI Kampar Jadi Ajang Curhat Petani

Redaksi Redaksi
Dialog Interaktif DPC PTI Kampar Jadi Ajang Curhat Petani
sy/riaueditor.com
SALO, riaueditor.com- Dialog interaktif yang ditaja  DPC Pemuda Tani Indonesia (PTI) Kabupaten Kampar di Aula Kantor Camat Salo, Rabu (8/10)menjadi ajang curahan hati (Curhat) bagi petani yang hadir.

Beberapa petani menyampaikan berbagai keluhan dan harapan terhadap Pemerintah Kabupaten Kampar.

Ketua Kelompok Tani Maju Lancar, Roland Hutagaul kepada nara sumber menyampaikan keluhan dari kelompok tani yang dipimpinnya.

Diungkapkannya, kelompok tani ini beranggotakan 26 orang. Pada tahun 2004 anggota kelompok tani bersedia menumbangkan pohon karet mereka seluas 50 hektar untuk perombakan kebun karet menjadi sawit.

Namun program tersebut gagal karena sebagian petani tak kunjung mendapatkan bantuan dana pembangunan kebun sawit hingga sekarang. "Dana sudah  keluar dari provinsi masuk ke BPR. Tapi  setelah itu  tidak masuk lagi dananya ke petani. Ntah apa alasan orang itu nggak tahulah," ungkapnya.

"Sebagian anggota yang dapatkan dananya sudah  tumbangkan batang karetnya dan  dikerjakan dan  sebagian lagi lahannya sudah menjadi semak belukar," ulasnya.

Roland berharap Pemkab Kampar melalui dinas terkait untuk menindaklanjuti persoalan ini karena banyak masyarakat yang telah terganggu sumber pendapatan keuangannya. "Jangan dibodoh-bodohi kami petani ini," tegasnya.

Sementara itu Zaini dari Kelompok Tani Nelayan Andalan mengungkapkan, saat ini masyarakat di Kabupaten Kampar dihadapkan persoalan semakin sedikitnya  lahan pertanian. Selain alih fungsi lahan menjadi lahan perkebunan, industri, pemukiman dan lainnya, berkurangnya lahan pertanian karena  pertumbuhan penduduk tidak sebanding lagi dengan luas lahan yang ada. Disatu sisi, pembukaan lahan baru harus berhadapan dengan persoalan hukum karena status lahan atau hutan yang tidak boleh dikelola.  

"Berapa banyak kakak beradik maka lahan itulah  yang dibagi," ungkap Zaini.

Zaini juga minta instansi terkait minta menjadikan petani sebagai anak emas pemerintah. "Tanpa petani negara tidak akan bisa hidup," ulasnya.

Peserta dialog lainnya  Syafrizal yang juga tokoh muda Salo mengungkapkan kesulitan petani akibat anjloknya harga karet.

Menurut Syafrizal, kemungkinan anjloknya harga karet akan berlangsung lama. Oleh sebab itu pemerintah daerah dan petani diharapkan mencari solusi untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Syafrizal minta pemerintah membina petani karet. "Harus dipandu oleh pihak terkait "Separuh hari kami menyadap karet, separuh hari lagi banyak yang tidur. Bagaimana separuh hari ini dibina oleh pemerintah," ucap Syafrizal.

Menanggapi keluhan petani, Kepala Bidang Usaha Tani Dinas Perkebunan Kampar Yalen Nelfida SP berjanji akan menyampaikan berbagai hal yang dihadapi petani kepada pimpinannya. (sy)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini