“Takkan Kompang Hilang di Bumi”

Redaksi Redaksi
“Takkan Kompang Hilang di Bumi”

SELATPANJANG, riaueditor.com – Pada Meranti Expo 2 dan Sidang Istimewa Paripurna HUT ke-5 Kabupaten Kepulauan Meranti, arak-arakan pejabat tinggi daerah diiringi dengan kompang menuju arena Meranti Expo 2 maupun Balai Sidang DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti. Ada yang tak lazim luput dari perhatian pengunjung, yaitu pemain kompang didominasi oleh anak-anak muda yang masih berusia belasan tahun.

Seni kompang biasanya dimainkan oleh kaum-kaum tua, tapi grup seni kompang Ikatan Pemuda Kelapa Gading (IPKG). Menyadari kemajuan arus teknologi membuat seni budaya daerah makin tergerus. IPKG tak ingin kehilangan identitas jati diri bangsa, oleh karena itu salah satu kegiatan positif yang mereka lakukan adalah dengan membentuk grup kesenian kompang.

Seni Kompang yang menjadi salah satu budaya masyarakat Melayu di negeri ini perlu dikekalkan agar warisan ini tidak pupus ditelan zaman.

Ketua Ikatan Pemuda Kelapa Gading Wisnu Hidayatullah mengatakan, Kabupaten Kepulauan Meranti perlu mempunyai identitas cara permainan kompangnya yang tersendiri agar keunikan itu dapat dijelmakan dalam berbagai seni budaya negeri ini.

"Identitas kompang ini perlu sekali, karena dengan keunikan tersendiri, maka secara tak langsung pula kita meningkatkan minat generasi muda terhadap seni dan budaya bangsa kita sendiri," ucap Wisnu.

Wisnu menambahkan, Kami akan terus mendukung usaha aktivitas memartabatkan budaya kompang ini agar terus kekal menjadi identitas unik masyarakat melayu, khususnya masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti.

Diharapkan, sambungnya, masyarakat dapat terus berusaha memartabatkan seni kompang ini supaya ia tidak hilang ditelan zaman. Melalui wadah IPKG, kami yang masih muda-muda ini bisa menimba ilmu, menggali seni budaya dan sekaligus mengembangkannya. tradisi kompang juga perlu dihidupkan oleh generasi muda agar dapat memupuk semangat mencintai kesenian Melayu disamping memperkembangkan permainan itu di tingkat yang lebih luas.

"Kita ingin terus menghidupkan kebudayaan masyarakat Melayu yang juga sebagai alat perpaduan masyarakat. Diharap selepas kami lebih ramai anak-anak muda terus dapat memainkan kompang," ujarnya.

Sebagai informasi, kompang ialah sejenis alat muzik tradisional yang paling popular bagi masyarakat melayu. Ia tergolong dalam kumpulan alat music gendang. Kulit kompang biasanya diperbuat daripada kulit kambing betina, namun akhir-akhir ini, kulitnya juga diperbuat dari kulit lembu dan kerbau malah dari getah sintetik.

Alat muzik ini berasal dari dunia Arab, dan dipercayai dibawa masuk ke Tanah Melayu ketika zaman Kesultanan Melaka oleh pedagang India Muslim pada abad ke-13 oleh pedagang Arab.

Kompang biasanya berukuran enam belas inci ukur lilit dan ditutup dengan kepingan kulit pada sebelah permukaan. Ia mempunyai bukaan cetek dan dimainkan dengan memegang sebelah tangan sementara dipukul dengan sebelah tangan yang lain. (anje)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini