RITA PUSPA ZAKARIA adalah seorang mantan pegawai negeri sipil dan dosen berkebangsaan Indonesia. Ia dikenal karena kontribusinya dalam pembangunan kesehatan di Kabupaten Bengkalis.
Rita dilahirkan pada 20 November 1967 pukul 12:00 WIB di kediaman orang tuanya yang berada di Jalan Gerilya, Desa Kelapapati, sebagai anak keenam dan putri pertama dari keluarga kelas menengah pasangan Zakaria bin Muhammad Amin, seorang ulama yang merupakan Tokoh Pejuang Daerah Riau, dan Siti Zainab binti Kimpal, seorang ibu rumah tangga.
Dari pihak ayahnya, ia merupakan keturunan dari Suku Chaniago yang merupakan salah satu suku dari Suku Minangkabau, dan dari pihak ibunya, Rita merupakan keturunan dari Suku Mandailing yang merupakan salah satu kelompok etnik dari Suku Batak.
Rita memiliki tujuh orang saudara laki-laki (empat di antaranya meninggal dunia pada saat masih bayi) dan tiga orang saudara perempuan. Saudara-saudara laki-lakinya adalah Zulkarnain, seorang pegawai pertanian Pemerintahan Provinsi Riau di Pekanbaru, Nukman, seorang pensiunan pegawai pertanian tanaman pangan tingkat II Bengkalis, dan Gamal Abdul Nasir Zakaria, seorang dosen pendidikan Islam dan bahasa Arab di Institut Pendidikan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Universiti Brunei Darussalam.
Saudara-saudara perempuan Rita adalah Nida Suryani, seorang guru pegawai negeri sipil pada mata pelajaran sains di SMP Al-Amin Bengkalis, dan Sri Purnama Zakaria, seorang guru pegawai negeri sipil pada mata pelajaran bahasa Inggris di SMA Negeri 2 Bengkalis.
Ia juga memiliki 10 saudara seayah (tiga di antaranya meninggal dunia pada saat masih bayi) dari pernikahan pertama ayahnya dengan Mariah binti Ahmad. Saudara seayah tersebut terdiri dari tiga orang saudara laki-laki seayah dan empat orang saudara perempuan seayah. Saudara laki-laki seayah Rita adalah Nashruddin, seorang pegawai di Kantor Departemen Agama Kabupaten Bengkalis, Azra’ie, seorang dosen di Universitas Islam As-Syafi'iyah, dan Syakrani Zakaria, seorang pegawai Syahbandar Bengkalis.
Saudara perempuan seayahnya adalah Aminah, seorang guru yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 2 Bengkalis, Zaharah, seorang politikus yang pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat II Bengkalis dari Fraksi Karya Pembangunan, Ulfah, seorang bidan di Rumah Sakit Umum Manado, dan Hanim Zakaria, seorang guru sekolah dasar di Pekanbaru. Rita juga memiliki seorang saudara perempuan angkat bernama Misnah, seorang siswa sekolah menengah pertama yang diadopsi oleh ibunya pada tahun 2012. Ia dibesarkan di Desa Kelapapati dan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain dan mengasuh adik-adiknya.
Rita memulai pendidikannya dengan bersekolah di SD Negeri 4 Bengkalis pada bulan Januari 1974 hingga Juni 1980 dan dikenal sebagai siswa yang aktif belajar.
Selama menempuh pendidikan sekolah dasar, ia mengalami keterbatasan seragam, alat tulis, uang saku yang sedikit dan sesekali menjadi korban bullying secara verbal.
Kondisi sekolah yang berada di dekat sungai membuat jalan menuju sekolah tersebut, yakni Jalan Damon, yang pada saat tersebut belum diaspal membuat sekolah tersebut sering banjir jika hujan sehingga membuatnya menghabiskan waktu dengan bermain banjir bersama teman-temannya menggunakan sepatu karet. Ia kemudian lulus dari sekolah tersebut sebagai salah satu siswa terbaik. Rita lalu menempuh pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Bengkalis pada bulan Juli 1980 hingga Juni 1983 dan sering meraih peringkat tiga besar di kelasnya dari awal hingga lulus sekolah.

Selama menempuh pendidikan sekolah menengah pertama, Ia berada pada kondisi ekonomi yang jauh lebih berkecukupan dibandingkan saat menempuh pendidikan sekolah dasar. Hal tersebut terjadi karena ia sama sekali tidak membayar biaya pendidikan karena seluruh biaya sekolahnya ditanggung oleh kakaknya, yakni Aminah.
Setelah lulus dari SMP Negeri 2 Bengkalis, Rita melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Bengkalis dari bulan Juli 1983 hingga Juni 1986 dan sering meraih peringkat 10 besar di kelas.
Setelah lulus dari sekolah menengah atas, ia mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) dengan memilih program studi bahasa Inggris di Universitas Riau (UNRI) dan program studi pertanian di Universitas Jambi (UNJA) pada bulan Juli 1986.
Rita kemudian diterima pada pilihan pertama dan lalu mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipensimaru) yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) pada bulan yang sama dan diterima di Akademi Gizi Padang. Karena Akademi Gizi Padang merupakan lembaga ikatan dinas, ia memilih berkuliah di akademi tersebut dan meninggalkan UNRI.
Selama berkuliah dari bulan Juli 1986 hingga Juni 1989, Rita merupakan mahasiswa yang aktif dan menjabat sebagai wakil ketua senat dan merupakan ketua angkatan. Pada semester pertama, ia menempati peringkat kedua mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, kemudian meraih peringkat pertama pada semester dua hingga lima yang membuatnya mendapatkan beasiswa serta pembebasan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) selama masa kuliahnya.
Rita juga pernah mengikuti lomba debat di Radio Republik Indonesia (RRI) di Padang pada tahun 1988 dan kemudian aktif dalam berbagai kegiatan kampus dan seminar. Ia menjadi lulusan terbaik dengan meraih IPK 3,29 dan menulis skripsi tentang pemanfaatan pos pelayanan terpadu (posyandu) di bawah bimbingan dua dosen, yakni Syaukani Isa dan Sudihati Hamid.
Pada bulan Juli 1997, Rita ingin menempuh pendidikan sarjana (S1) dan kemudian mengikuti tes di Universitas Indonesia (UI) dengan memilih program studi gizi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dan mulai berkuliah pada bulan yang sama. Ia menjadi mahasiswa pertama dari universitas tersebut yang berasal dari SMA Negeri 1 Bengkalis dan mahasiswa kedua yang berasal dari Kecamatan Bengkalis.

Selama masa perkuliahan, Rita tinggal di komplek Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang berada di dekat Stasiun Pondok Cina (Stasiun Pocin; POC), Jalan Margonda Raya, yang dimiliki oleh seorang pegawai PJKA bernama Wagirin. Dalam perjalanan perkuliahannya, ia mengalami ketidakcocokan dengan dosen dan program studi yang ditempuhnya sehingga memutuskan untuk pindah ke program studi epidemiologi pada semester pertama, tepatnya dua bulan setelah menempuh perkuliahan.
Selama berkuliah, Rita bergabung dalam organisasi Rohani Islam Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (Rohis FKM UI, sekarang Nurani FKM UI) dan bersahabat dengan Agus Kharmayana Rubaya (dosen program studi kesehatan lingkungan di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta), Marina Arifin (pensiunan tenaga administrasi di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Riau) dan Wahyuningsih (Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Metro).
Pada saat kerusuhan Mei 1998, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan demonstrasi mahasiswa di UI. Rita turut menghadiri orasi yang disampaikan oleh Amien Rais dan Abdurrahman Wahid di lingkungan kampus.
Ia menulis skripsi berjudul Faktor-faktor yang berhubungan dengan pencapaian pelayanan antenatal bagi bidan di desa yang membahas tentang peran bidan desa dalam menurunkan angka kematian ibu di bawah bimbingan Ratna Djuwita Hatma.
Rita mengakui bahwa pembimbing tersebut memiliki peran yang besar dalam memberikan dukungan kepadanya selama satu semester hingga menyelesaikan skripsi.
Ia lulus pada bulan September 1999 dengan memperoleh IPK 3,75. Acara wisuda Rita hanya dihadiri oleh kakaknya, Azraie, beserta istrinya, Athiah Muhayat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister (S2) di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (SPs IPB) dengan menempuh program studi pengembangan masyarakat pada tahun 2001 hingga 2003.
Rita memulai kariernya dengan bekerja sebagai pengajar di MDTA Mahbatul Ulum pada tahun 1985 untuk membantu ayahnya, yakni Zakaria. Setelah lulus kuliah dan mengurus berkas kepegawaian pada bulan Oktober 1989, ia pulang ke Bengkalis dan kembali mengajar di sekolah tersebut pada bulan yang sama hingga tahun 1993.
Pada bulan Desember 1990, Rita menerima surat keputusan pegawai negeri sipil dan mulai bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kantor Departemen Kesehatan Kabupaten Bengkalis pada bulan Januari 1991 hingga 1995. Selama bekerja, ia mengelola berbagai program gizi dan terlibat dalam pembuatan buku tentang pelatihan kader posyandu.
Rita juga melaksanakan supervisi dan pelatihan serta menjabat sebagai anggota dari Partai Golongan Karya (Partai Golkar) karena kewajiban bagi pegawai negeri sipil untuk bergabung dalam partai tersebut pada masa Orde Baru.
Pada tahun 1991 hingga 1992, ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Partai Golkar di Kabupaten Bengkalis dan mengikuti berbagai kegiatan rapat serta organisasi. Pada tahun 1992, Rita menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar yang diadakan di Jakarta dan bertemu dengan Akbar Tandjung, Presiden Soeharto, Tommy Soeharto dan para petinggi Partai Golkar lainnya.
Bersama dengan timnya, ia menulis buku berjudul Belajar Mendengarkan Kepada Ibu-Ibu: Memperkuat Keterampilan Berkomunikasi untuk Peningkatan Gizi dan Pertumbuhan Anak (1992) yang berkolaborasi dengan Project Concern International Indonesia (PCI) di Indonesia dan Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi Riau.
Penyusunan buku tersebut melibatkan Nurul Fazrie, Rita Kemalawati, Ismail Mahyuddin dan Yufrizal Putra. Sejak tahun 1993, Rita menjabat sebagai Pengurus Tim Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK). Selama menjabat, ia berperan dalam pelaksanaan program PKK dan melakukan pembinaan di kecamatan secara langsung.
Pada bulan Agustus 1995, Rita bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis dan menjabat sebagai Kepala Subseksi Gizi hingga tahun 2000. Selama menjabat, ia melaksanakan pengelolaan program, pengawasan dan pelatihan program perbaikan gizi.
Rita kemudian menjabat sebagai Kepala Seksi Gizi di instansi yang sama pada tahun 2000 hingga 2008. Selama menjabat, ia melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi terhadap program gizi yang telah dilaksanakan.
Pada tahun 2005 hingga 2015, Rita menjabat sebagai pengurus pada Forum Pendidikan Anak Usia Dini (Forum PAUD) di Kabupaten Bengkalis dan berperan dalam pelaksanaan pembinaan serta pengawasan pada PAUD.
Pada bulan Agustus 2008 hingga Januari 2009, ia menjabat sebagai Kepala Subbagian Sumber Daya Alam di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Bengkalis.
Pada 5 Januari 2009 hingga 2010, Rita menjabat sebagai Kepala Bidang Pemberantasan Masalah Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis.
Selama menjabat, ia mendirikan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bengkalis yang diketuai oleh Wakil Bupati Bengkalis ke-3, yakni Suayatno.
Pada tahun 2010 hingga 2013, Rita menjabat sebagai Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis. Selama menjabat, ia mencetuskan program pendidikan diploma tiga (D3) kebidanan dan keperawatan di Kabupaten Bengkalis melalui kerja sama dengan Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru (IKes Payung Negeri) yang bertujuan untuk meningkatkan jenjang pendidikan bagi para bidan dan perawat dari diploma satu (D1) menjadi D3.
Pada tahun yang sama hingga 2017, Rita menjabat sebagai Wakil Sekretaris di KPA Kabupaten Bengkalis. Selama menjabat, ia aktif melakukan pengawasan dan evaluasi terkait pelaksanaan program pencegahan dan penanggulangan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Bengkalis dan berhasil membuat program pencegahan dan penanggulangan tersebut semakin dikenal oleh masyarakat.
Rita juga menjabat sebagai Bendahara di Yayasan Pendidikan Islam Al-Amin Modern Bengkalis pada tahun yang sama dan berhasil mendapatkan dana hibah dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan Pemerintah Provinsi Riau untuk mendukung pembangunan sarana dan operasional yayasan beserta sekolah.
Sejak tahun 2011, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Kabupaten Bengkalis dan melaksanakan pembinaan terhadap organisasi profesi yang kemudian berdampak pada kemudahan bagi ahli gizi untuk menjadi anggota PERSAGI.
Pada 11 Maret 2013 hingga tahun 2016, Rita menjabat sebagai Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis. Selama menjabat, ia menginisiasi operasional tiga puskesmas di Kabupaten Bengkalis, yakni Puskesmas Teluk Lecah, Puskesmas Serai Wangi dan Puskesmas Pematang Duku.
Sejak tahun 2015, Rita menjabat sebagai pengurus di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bengkalis dan melaksanakan kegiatan pengawasan serta evaluasi terkait pelaksanaan kegiatan PMI di Kabupaten Bengkalis dan keterlibatannya dalam pelaksanaan kegiatan donor darah.
Berkat kinerjanya tersebut, kebutuhan darah bagi masyarakat yang membutuhkan di Kabupaten Bengkalis dapat terpenuhi. Pada 31 Agustus 2016 hingga tahun 2017, Rita menjabat sebagai Kepala Bidang Jaminan Sarana Kesehatan di Dinas Kesehatan Bengkalis.
Selama menjabat, ia berhasil mengintegrasikan program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang berdampak pada kemudahan akses bagi masyarakat Kabupaten Bengkalis dalam mengakses jaminan kesehatan.
Pada bulan Januari 2017 hingga pensiun pada 30 November 2025, Rita menjabat sebagai Wakil Direktur Pelayanan di RSUD Bengkalis dengan membawahi bidang pelayanan dan keperawatan. Selama menjabat, ia memimpin tim akreditasi RSUD Bengkalis dari tahun 2017 hingga 2022.
Berkat kepemimpinan Rita, RSUD Bengkalis menjadi rumah sakit pemerintah kabupaten pertama di Provinsi Riau yang memperoleh akreditasi paripurna. Pada masa pandemi COVID-19 di Indonesia, ia aktif berperan dalam penanganan pandemi tersebut di RSUD Bengkalis melalui manajemen penanganan virus dengan menyusun Standar Pelayanan Operasional (SOP) Penanggulangan COVID-19 yang berkontribusi terhadap efektivitas penanganan pandemi di rumah sakit tersebut.
Pada tahun 2024, Rita menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Bengkalis dan berhasil membuat seluruh Posyandu di Kabupaten Bengkalis dapat melaksanakan enam standar pelayanan minimal (SPM).
Setelah pensiun, sejak 19 Februari 2026, ia bekerja sebagai dosen luar biasa (DLB) di Fakultas Keguruan dan Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Datuk Laksemana Bengkalis (FKT IAIN Bengkalis). Pada 20 Mei 2026, Rita menjadi narasumber mewakili IAIN Bengkalis dalam program siaran ‘Santai Siang’ yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) melalui unit pusat konsultasi dan bantuan hukum (PKBH) di RRI Pro 2 Yogyakarta yang berlokasi di Kompleks RRI Pro 2 Yogyakarta, Jalan Affandi No. 37, dengan membahas topik tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam perspektif hukum nasional dan agama Islam. Sejak bulan Juni 2026, ia menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif di KPA Kabupaten Bengkalis.
Pada tahun 2004, Rita menjalani proses taaruf dengan Muhammad Yahman, seorang guru di Kota Dumai, melalui saudara Yahman, yakni Hambali Aldi. Ia memutuskan untuk menikah dengannya karena memiliki kesamaan pemikiran dan sikapnya yang mendukung serta tidak melarang dirinya untuk bekerja setelah menikah.
Mereka kemudian menikah di kediaman orang tua Rita yang berada di Jalan Gerilya, Desa Kelapapati, pada 28 Januari 2005 dengan dihadiri oleh Bupati Bengkalis ke-12, yakni Syamsurizal, dan istrinya, Fauziah Siregar. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang putra bernama Muhammad Asyrof Al-Ghifari, seorang mahasiswa program studi sarjana hukum reguler di FH UGM, dan seorang putri bernama Asy Syifa Kaila Saidah, seorang seniman yang merupakan mahasiswa program studi sarjana desain produk kelas internasional di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).
Selama berkarier, ia mengaku banyak terinspirasi oleh kedua orang tuanya yang selalu mendorongnya untuk maju, disiplin dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, terutama ayahnya, yakni Zakaria, yang tetap mengajar para muridnya meskipun sedang dalam kondisi sakit.
Pada bidang kesehatan, Rita menganggap bahwa hal tersebut merupakan suatu investasi yang wajib dijaga oleh setiap orang. Pada bidang pendidikan, ia memandang hal tersebut sebagai investasi sekaligus hak dasar bagi setiap orang dan berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan harus memperoleh kesempatan dan akses yang setara untuk menempuh pendidikan.
Terkait feminisme, Rita menganggap bahwa perempuan dan laki-laki harus bekerja sama untuk menunjukkan jati dirinya tanpa harus melupakan kodratnya. Ia juga mendorong para perempuan untuk meraih pendidikan setinggi mungkin, bahkan hingga jenjang doktoral (S3) dan membangun kemandirian dalam kehidupan sehingga tidak bergantung kepada laki-laki. Menurutnya, para perempuan harus meningkatkan kemampuan diri dan berkarier dengan baik sehingga dapat membangun eksistensi dirinya secara positif.
Selama berkarier, Rita telah meraih beberapa penghargaan, di antaranya Satyalancana Karya Satya 10 tahun pada tahun 2001, Satyalancana Karya Satya 20 tahun pada tahun 2011 dan Satyalancana Karya Satya 30 tahun pada tahun 2023.(*)