BAWAANNYA bersahaja dan mudah akrab dengan yang mengajaknya bicara. Pribadi yang selalu dekat dengan anak-anak ini juga tak pilih-pilih orang dalam bergaul. Maka tak heran, siapa pun yang pernah mengenalnya, pasti punya kesan menyenangkan.
Itu sekilas tentang sosok Hartati, Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini tengah berjuang menjadi anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti lewat Pemilihan Legislatif 2014, nomor urut 5 dari Daerah Pemilihan Tebing Tinggi.
Tim redaksi juga berkesempatan menyambangi kediamannya di Jalan Amelia, Selatpanjang, Kepulauan Meranti. Setiba di rumah petakan berlantai dua itu, tepatnya ba`da Magrib, pukul 18.30 WIB, dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara orang tengah mengaji.
Lantunan ayat suci Al-Quran nan merdu itu keluar dari suara seorang perempuan dengan sahdunya, diikuti suara anak laki-laki mengulang bacaan serupa. Mendengar suara orang yang tengah mengaji itu, tim redaksi sempat ragu mengetok pintu.
Diiringi salam, pintu rumah akhirnya diketok. Tak perlu diikuti ketokan kedua, tuan rumah sudah langsung membukakan pintu, Ia adalah M Edi Afrizal, dengan ramah mempersilahkan tim redaksi masuk.
Oh, ternyata, suara merdu yang tengah mengaji itu adalah Hartati tengah duduk bersimpuh mengajar putra semata wayangnya membaca asma-asma Allah, tak jauh dari ruang tamu tempat tim redaksi dipersilahkan duduk.
Berselang sepuluh menit, Hartati mengakhiri mengajinya dan ikut nimbrung duduk bersama di ruang tamu, didampingi sang suami, M Edi Afrizal.
"Banyak anak-anak mahir mengoperasikan berbagai teknologi canggih, seperti komputer, handpone, gadget dan lainnya, tapi sesungguhnya itu bukanlah hal yang patut untuk dibanggakan," ujar Hartati mengawali bincang-bincangnya.
Bagi Hartati, yang patut dibanggakan adalah anak yang punya akhlah karimah. Untuk itu, ia rela langsung turun tangan membimbing putranya untuk ilmu-ilmu dasar, seperti mengaji. "Generasi berkualitas tak sebatas cerdas, tapi harus berakhlatul karimah," katanya.
Dikatakan, untuk membangun sebuah daerah, bahkan bangsa diperlukan manusia berkualitas. Untuk itu, jika ingin membangun Meranti menjadi negeri yang cemerlang, gemilang dan terbilang, dibutuhkan generasi muda berkualitas yang sudah harus dibentuk sedari kecil.
"Kita butuh generasi muda berkualitas, yang harus sudah dibangun dari sekarang. Sebab jika tidak dari sekarang, negeri ini akan jauh tertinggal dengan daerah lain," sebut isteri Ketua LMBR Kabupaten Kepulauan Meranti ini.
Perbincangan dengan Hartati terus mengalir dengan suasana santai. Berikut petikan wawancaranya:
- Mengapa Anda memilih langsung mengajarkan anak mengaji?
Dalam pandangan Islam, seorang ibu memiliki peran mulia sebagai pendidik untuk anak-anaknya dan saya memiliki kemampuan untuk menjalankan peran itu. Kemudian seorang ibu wajib memiliki ketaqwaan yang tinggi, pengetahuan yang luas tentang metode dan teknis mendidik anak secara Islami. Seorang ibu juga harus memiliki kesadaran bahwa anak adalah aset masa depan umat. Itulah yang menjadi dasar bagi saya untuk mengajarkan langsung anak mengaji. Ini juga cara saya menjalin kedekatan dengan anak, karena saya tidak mau kehilangan makna dan peran seorang ibu agar bisa mencetak generasi yang berkualitas.
- Seperti apa gambaran generasi berkualitas yang Anda maksud?
Dari persepsi agama kita, faktor yang paling menentukan kualitas generasi Islam adalah keimanan dan keilmuannya. Untuk itu kita harus mendorong lahirnya generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, dan berbanding lurus dengan pengetahuan keilmuan yang mumpuni. Orang yang berilmu, ditopang dengan keimanan yang kokoh, itulah generasi berkualitas.
- Apakah generasi kita di Meranti saat ini sudah bisa disebut berkualitas?
Di Meranti ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Maka generasi berkualitas itu harus berkepribadian religius. Dimana generasi tersebut memiliki keimanan yang kuat. Kemudian agama selalu dijadikan landasan dalam berfikir dan bersikap. Saya balik bertanya, apakah itu ada pada generasi kita saat ini? Saya sulit untuk menjawabnya, tapi kita berharap generasi muda kita harus mampu menjadi motor pembangunan di tengah masyarakat, dimana pengabdiannya hanya untuk masyarakat, yang berjiwa pemimpin.
- Terus apa yang harus dilakukan seorang ibu untuk bisa mendorong lahirnya generasi berkualitas?
Membentuk generasi berkualitas, memang tidak semudah membalik telapak tangan. Ada satu proses yang harus dilalui dan proses itu harus dimulai sejak dini. Dalam proses pembentukan generasi melalui pendidikan anak sejak dini, keluarga punya peran strategis, terutama Ibu, karena konstribusinya cukup besar. Ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Peran ibu sangat vital sebagai pencetak generasi sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Ibu juga sosok pertama yang memberi rasa aman dan yang dipercaya serta didengar omongannya oleh anak.
Anak juga butuh figur tauladan dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak. Sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berfikir. Ia belum mampu menterjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Kekuatan figur ibu akan membuat anak mampu menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya.
Untuk itu seorang Ibu harus mampu mempersiapkan pribadi anaknya untuk peka terhadap lingkungan, sehingga di kemudian hari anak mampu menghadapi tantangan zaman. Bahkan mampu menundukkan lingkungan dan masyarakatnya untuk taat kepada Allah SWT.
Mengingat besar dan pentingnya peran ibu dalam proses pembentukan generasi berkualitas, perlu diupayakan pengembalian peran ibu agar sesuai dengan fungsinya. Selain itu juga perlu diupayakan peningkatan kualitas ibu, karena tinggi rendahnya kualitas ibu sangat mempengaruhi kualitas anak. (anje/red.)