Adik Prabowo: Kenapa Alan Nairn Tak Muncul 2009?

Redaksi Redaksi
Adik Prabowo: Kenapa Alan Nairn Tak Muncul 2009?
dok okezone
Hashim Djojohadikusumo
JAKARTA - Anggota Dewan Penasihat Tim Pemenangan nasional Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Hashim Djojohadikusumo, mengaku heran dengan pemberitaan terkait testimoni jurnalis asal Amerika Serikat, Allan Nairn.
Apa yang dilontarkan Allan diberbagai media belakangan ini selalu merugikan citra Prabowo Subianto selaku calon presiden.
 
"Saya heran kenapa Allan muncul di Pilpres 2014, bukan di tahun 2009. Kenapa dia tidak muncul pada saat Pilpres 2009, Allan kan mengatakan wawancara khususnya dengan pak Prabowo pada tahun 2001," kata Hashim yang juga merupakan adik kandung Prabowo ini saat jumpa pers di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Selasa (15/7/2014).
 
Rasa geram Hashim memang cukup beralasan lantaran pada Pilpres 2009, ketika Prabowo sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri, tidak ada tuduhan pelanggaran HAM masa lalu. "Ini tanda tanya besar. Kok tiba-tiba Allan muncul lima tahun kemudian setelah Pilpres 2009," kata Hashim lagi.
 
Karena itulah, dia curiga adanya keterkaitan antara pihak pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan pernyataan atau kemunculan Allan belakangan ini. "Saya menduga, ada kaitannya dengan pihak lawan. Kenapa tahun 2009 tidak muncul," ujarnya.
 
Belakangan Allan memang getol membuka kembali percakapan off the record dengan mantan Panglima Kostrad Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto pada 2001 silam.
Allan sendiri mengaku pernah mewawancarai Prabowo di Mega Kuningan, Jakarta. Wawancara dilakukan dua kali pada Juni-Juli 2001.
 
Saat itu, kata Allan, dia hendak menanyakan perihal peran TNI di Timor Timur (sekarang Timor Leste), khususnya kasus pembantaian yang menewaskan 271 warga di Santa Cruz pada 1991. Namun, Prabowo tak banyak bicara soal itu. Dia mengaku hanya mengetahui sedikit soal Santa Cruz.
 
"Santa Cruz telah membunuh kami secara politis. Ini sebuah kekalahan. Anda jangan membantai warga sipil di depan media. Mungkin bisa dilakukan di desa terpencil, tapi jangan di ibukota provinsi," kata Prabowo kepada Allan.
 
Tapi, sekitar empat jam wawancara, Prabowo berbicara banyak hal. Termasuk topik fasisme, demokrasi, kebijakan pembunuhan massal oleh tentara, dan hubungan dekatnya yang panjang dengan Pentagon dan Intelijen AS.
 
Peraih pernghargaan Robert F. Kennedy Memorial First Prize for International Radio untuk reportasenya di Timor Timur itu, mengaku masih mengingat apa yang disampaikan Prabowo. Dia juga menuliskan ucapan Prabowo soal Gus Dur di blognya itu.
 
Awalnya, Prabowo menjelaskan kondisi Indonesia yang belum siap menerima demokrasi. Pasalnya, menurut Prabowo, masih ada kanibal dan kelompok-kelompok pelaku kekerasan di negeri ini. Prabowo pun menilai Indonesia masih membutuhkan rezim otoriter, namun yang bersifat lunak.
 
Terkait Gus Dur, Prabowo mengkritik TNI yang tunduk padanya, apalagi sang presiden buta secara fisik. "Militer bahkan tunduk pada seorang presiden yang buta! Bayangkan! Lihatlah dia (Gus Dur), dia sangat memalukan," kata Prabowo. (ful/okezone)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini