Warga Surabaya Ramaikan Mal Usai PSBB Dihentikan

Redaksi Redaksi
Warga Surabaya Ramaikan Mal Usai PSBB Dihentikan
(CNN Indonesia/Farid Miftah)
Pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza, Surabaya, mulai dibuka setelah PSBB berakhir.

SURABAYA - Warga Surabaya, Jawa Timur kembali beraktivitas seperti biasa setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dihentikan. Sejumlah mal dikunjungi warga di masa transisi.

Pantauan CNNIndonesia.com di salah satu mal di Surabaya, yakni Tunjungan Plaza (TP), sejumlah orang tampak berjalan santai, berbelanja atau sekadar mencari kudapan dan makanan.

Salah satu pengunjung, Rizky Ramadhan (29), mengaku hanya ingin melepas kerinduan di mal setelah PSBB diterapkan selama enam pekan.

"Ini jalan-jalan, makan-makan sama istri. Sudah lama sih enggak ke sini, mungkin hampir dua bulanan," ujar warga Gubeng, Surabaya tersebut.

Masa PSBB Surabaya resmi berhenti pada Senin (8/6). Gantinya, Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sepakat menerapkan masa transisi menuju new normal selama dua pekan, mulai Selasa (9/6) hingga Senin (22/6).

Pengelola mal, Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi menyatakan siap menjalani masa transisi tersebut.

Ia mengatakan mal-mal yang dikelolanya hanya tinggal meneruskan protokol kesehatan yang sudah dilakukan bahkan sebelum PSBB diterapkan.

"Kita hanya tinggal meneruskan protokol yang sudah kita ajukan sebelum PSBB," ujar Sutandi, saat dikonfirmasi.

Di antaranya yakni pemeriksaan di pintu masuk, pengecekan suhu tubuh, penempatan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer, bilik sterilisasi, wajib pakai masker, hingga pengaturan jarak.

"Itu bukan hanya berlaku untuk pengunjung tapi juga karyawan dan manajemen," kata dia.

Namun, ada juga sejumlah protokol tambahan yang baru saja diterapkan pihaknya. Salah satunya yakni pengaturan alur jalan para pengunjung di dalam mal.

Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, terpasang stiker bertuliskan `One Way` di lantai area lobi dan sejumlah lorong di Tunjungan Plaza. Artinya, para pengunjung diwajibkan berjalan satu arah.

Jika berjalan tak sesuai arah yang ditentukan, maka pihak sekuriti mal tak segan akan mencegat pengunjung dan memintanya putar balik.

Hal itu dilakukan untuk menghindari papasan antarpengunjung di dalam mal. Ia menyebutkan sistem satu jalur itu akan memberikan rasa aman dari risiko penularan Covid-19.

"Yang terbaru kami sedang uji coba one way system, ini akan memberi kesan psikologis lebih aman dan nyaman karena yang harus dibentuk adalah trust. Kepercayaan dari pengunjung bahwa mal itu aman. Mal itu secure," katanya.

Tak hanya itu, di area food court, pihak mal juga memasang sekat partisi berbahan akrilik di tiap meja. Tiap meja pun dibatasi hanya boleh diisi oleh dua orang pengunjung saja.

Selain itu, saat massa PSBB jam operasional terbatas pada pukul 11.00 - 19.00 WIB saja, pada masa transisi ini, jam operasional diperpanjang menjadi 11.00 - 21.00 WIB.

Protokol-protokol tersebut, kata Sutandi, tak hanya diterapkan di Tunjungan Plaza saja, tapi juga di sejumlah mal dalam naungan Pakuwon Group seperti Pakuwon Mall, Royal Plaza dan East Coast. Di mal-mal itu pengunjung juga dibatasi.

"Kami dari Pakuwon Group siap menjalankan Protokol Covid-19 dengan ketat di semua mal kami," lanjutnya

Dengan masa transisi ini, Sutandi yang juga Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jatim ini berharap agar perekonomian berlangsung normal.

Ia menyebutkan dampak PSBB begitu terasa bagi mal dan pemilik tenant, di mana jumlah kunjungan menurun drastis hingga 80 persen.

"Saat PSBB kunjungan turun sampai 80 persen, kerugian nominal sudah tak terhitung lagi. Tapi masa transisi ini kami berharap perekonomian bisa kembali normal. Masyarakat juga kami harap untuk disiplin mematuhi protokol kesehatan," ujarnya. 

(CNNIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini