Sadisnya Oknum Rektorat UIN Suska

Setelah Tak Berdaya, Wartawan di Riau Nyaris Dihantam Pakai Beton

Redaksi Redaksi
Setelah Tak Berdaya, Wartawan di Riau Nyaris Dihantam Pakai Beton
ilustrasi
PEKANBARU, riaueditor- Perlakuan sadis oleh seorang oknum berpakaian safari dari Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau yang belum diketahui identitasnya saat pemukulan terhadap wartawan harian Berita Terkini (Better), Irwansyah (41) nyaris terjadi di Rektorat UIN Suska Pekanbaru, Senin 25/8/2014, sekitar jam 12.30 WIB siang.

"Saya dipegang oleh sejumlah orang. Saat itu saya melihat sendiri ada seorang staf pegawai mengangkat bekas rambu-rambu jalan yang masih ada sisa beton berbentuk segitiga di pangkalnya. Ia ingin menghantamkan beton itu ke arah kepala Irwan. Untung juga ada tiga orang pegawai lain yang bersitegang memegang pelaku itu," terang Surya kepada wartawan, Selasa, 26/8/2014 di Pekanbaru.

Selain Suryadi anggota PWI Riau dari Koran Forum Riau dan Portal Berita RiauHot.com, kejadian itu juga disaksikan oleh puluhan orang staf, pegawai, sekuriti, mahasiswa UIN dan dua orang tamu lainnya yang dikenal Irwansyah sebagai kontraktor.

"Banyak yang menyaksikan kejadian itu. Para pegawai dan sekuriti yang hadir di sana, mahasiswa dan ada lagi dua orang tamu, mereka kontraktor. Salah seorang kontraktor ini bernama Wedi," aku Suryadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum sekuriti dan karyawan UIN Suska, Senin (25/8) siang, melakukan pemukulan terhadap wartawan Harian Berita Terkini, Irwansyah, dan Suryadi, wartawan media online riauhot.com. Pemukulan itu diduga karena karyawan kampus Islam terbesar di Riau tersebut marah ketika Irwansyah dan Suryadi hendak mengkonfirmasi proyek pembangunan gedung Islamic Centre yang diduga bermasalah.

Mereka menemui Roni sebagai Panitia Lelang di lantai 5 gedung rektorat. Menurut Roni, gedung yang disebutnya sebagai gedung Karakteristik itu pekerjaannya telah dimulai sejak 2009 silam. Namun Roni menolak memberikan keterangan detilnya anggaran dan pelaksanaan gedung yang masih terkendala hingga saat ini tersebut.

"Tanya kepada Ibuk Kafrina sajalah Bang. Beliau itu PPATK disini. Rincian pertanyaan abang itu semuanya ada sama beliau. Bagian Perencanaan juga ada di lantai bawah, Ibuk Hanifah yang dulunya Kabag Umum dibawah Bang," kata Roni seperti yang ditirukan Suryadi dan Irwansyah.

Mendengar keterangan tersebut, maka Irwan dan Surya turun ke lantai dasar dan menemui Kafrina. Mereka diajak oleh Kafrina ke ruangannya dan diusuruh menunggu karena ada rapat.

"Tinggu sebentar ya Pak. Saya ada rapat,"kata Ibu itu, terang Irwan.

Setelah rapat usai,sekitar 20 menit menunggu, akhirnya Surya dan Irwan dipersilahkan masuk ruangan Kafrina. Di ruangan iitu Kafrina bersama dengan seorang stafnya.

"Kami memperkenalkan diri dan menyatakan maksud kedatangan kami untuk konfirmasi soal bangunan yang terbengkalai tersebut. Namun, Ibu Kafrina tidak mau menjawab dan balik bertanya dengan nada melecehkan. Anda wartawan mana, mana kartu identitas anda. Kami keluarkan kartu Pers kami. Tapi mereka sengaja mempertanyakan soal kartu organisasi kewartawanan kami. Kami jawab tidak ada karena kartu Pers dari redaksi harian Berita Terkini itu sudah cukup sebagai identitas kami untuk konformasi," terang Irwan.

Namun, kata Irwan, Kafrina berkelit dan menyatakan tidak bersedia ditanya soal pembangunan Gedung tersebut dan juga menyatakan Irwan dan Surya bukan wartawan. Kafrina pun berlalu meninggalkan Irwan dan Surya dengan alasan mau solat dzuhur.

Menurut Surya, akhirnya Irwan mengikuti staf Kafrina hingga ke depan lift lantai dasar. Namun, di depan lift, Irwan dicegat oleh seorang sekuriti.

"Terjadilah pertengkeran Irwan dan sekuriti itu. Mereka bersitegang dan perang mulut. Saya spontan merekamnya. Mereka di ditengahi dua orang tamu dan pegawai lainnya dan digiring keluar ruangan," kata Surya.

Sesampai di luar depan pintu masuk belakang gedung rektorat itu, sekuritinya masih garang dan mengancam memukul Irwan. Dua orang tamu sebagai kontraktor akhirnya berhasil menengahi.

"Suasana mulai reda karena kami menjauhi pintu masuk tersebut, saya katakan nanti saja setelah solat kita jumpai lagi Ibu Kafrina atau Ibu Hanifah," terang Surya.

Sekitar 10 menit, pintu masuk itu kian ramai oleh jamaah yang selesai solat. Mengetahui solat sudah usai, Surya dan Irwan pun bergegas menuju pintu masuk guna menemui narasumber yang dimaksud.

"Kami pikir tak masalah lagi karena urusan kami bukan dengan sekuriti atau staf lainnya di sana. Kami mau masuk ingin jumpai Ibu Kafrina yang telah berjanji usai solat atau Ibu Hanifah yang berkantor di lantai 3. Saya sempat katakan bapak-bapak maafkan kami dan kami ada urusan dengan Ibu di dalam, bukan dengan saudara. Malah saya sempat menjabat tangan sekuritinya," ungkap Surya.

Keributan antara staf pegawai dan Irwan masih berlangsung dan saya spontan merekamnya dengan kamera saya, sambungnya.

"Saat itulah pegawai lainnya merampas kamera BB saya dan mencuri kartu memorinya. Bahkan Irwansyah dikeroyok banyak orang hingga ia terbaring lemas dan kejadian itu sangat sadis, karena ada seorang pegawai berbaju safari, badan kurus mengangkat rambu-rambu bekas yang masih ada coran betonnya. Untung saja diantara mereka juga ada yang menahan bapak itu," beber Surya.(rls/har)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini