Seram.. Sudah Dua Korban Tewas Keganasan Harimau Di Inhil

Redaksi Redaksi
Seram.. Sudah Dua Korban Tewas Keganasan Harimau Di Inhil
(Foto: WWF)
Ilustrasi

PEKANBARU, riaueditor.com - Keganasan Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae) di kawasan hutan wilayah Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, kian menyeramkan, karena tak menutup kemungkinan korban bertambah.

Bagaimana tidak, harimau yang diduga berjenis kelamin betina itu sudah dua kali menyerang warga. Keduanya tewas di tempat kejadian akibat terkaman sang raja rimba tersebut.

Kejadian pertama menimpa Jumiati (33 tahun), Karyawan lepas PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP) di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Inhil. Jumiati tewas dengan kondisi mengenaskan akibat diterkam harimau saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State awal Januari lalu.

Saat diserang harimau, Jumiati tidak sendiri. Dia bersama dua rekan sekerja wanita lainnya, Fitriyanti (40) dan Yusmawati (33). Kejadian itu berawal saat ketiganya sedang melakukan pendataan sawit yang terserang hama gonederma pada Rabu (3/1/2018) siang. Tiba-tiba, harimau muncul di sekitar lokasi tempat mereka bekerja.

"Terkejut melihat adanya harimau, ketiganya langsung berlari meninggalkan lokasi tersebut," kata Kapolsek Pelangiran Iptu M Raffi waktu itu. 

Ketiga pekerja ini pun sudah menghindar sekitar 200 meter dari lokasi ditemukan harimau. Namun, sang raja hutan ternyata berada di depan mereka. Ketiganya berupaya menyelamatkan diri dengan memanjat pohon sawit. 

Fitriyanti rekan korban malah sempat terjatuh dari pohon sawit karena panik. Dia jatuh ke lumpur dan tidak bisa bergerak lagi. Satu sisi harimau sudah mendekat ke arahnya.

Fitriyanti dengan jelas melihat harimau itu berlari ke arah mereka. Tapi, harimau malah menerkam kaki Jumiati yang tengah berupaya memanjat pohon sawit untuk menyelamatkan diri. Karena kakinya diterkam, akhirnya Jumiati terjatuh dari pohon sawit.

"Sekitar 15 menit Jumiati bergumul dengan harimau. Jumiati mengalami luka serius di bagian lehernya, dan akhirnya tewas di TKP," terang Kapolsek seraya menyebutkan setelah menyerang Jumiati, harimau itu pun pergi meninggal lokasi kejadian.

Korban Kedua Pekerja Bangunan Walet

Raja rimba kembali mengganas, korbannya seorang pekerja bangunan sarang burung walet, Yusri Efendi (34 tahun), pemuda ini tewas diterkam harimau di RT 038 Simpang Kanan, Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Inhil, Sabtu (10/3/2018) malam.

"TKP (Tempat Kejadian Perkara) kali ini cukup jauh, sekitar 20 kilometer dari lokasi kejadian sebelumnya, sudah dekat perbatasan antara Inhil dan Pelalawan," ungkap Kapolsek Pelangiran Iptu M Raffi, Minggu (11/3/2018).

Saat itu, terang Kapolsek, korban bersama tiga rekannya Rusli (41), Indra (26) dan Syahran (41). Kejadian berawal ketika mereka sedang sibuk bekerja membangun sarang burung walet. Tiba-tiba Harimau Sumatera mendatangu lokasi mereka bekerja, tepat di bawah bangunan yang sedang dikerjakan sekitar pukul 16.30 WIB sore.

Seketika rasa takut menghinggapi para tukang bangunan itu. Mereka lantas memilih bertahan di atas bangunan. Hingga 2 jam berlalu, mereka tetap berdiam diri di ketinggian, sampai hari mulai gelap.

Setelah memastikan sang raja hutan itu pergi, korban dan rekannya pun bergegas turun. Namun baru melangkah sekitar 250 meter, mereka terkejut saat melihat si kucing belang berada di depan mereka. Mereka pun panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Namun naas, Yusri tak berhasil menyelamatkan diri. Rekan korban pun berupaya mencari pertolongan dengan menghubungi warga sekitar Dusun Sinar Danau. Tak lama kemudian, warga pun beramai-ramai ke lokasi. 

Warga dan rekan korban pun melakukan pencarian keberadaan Yusri. Sekira pukul 19.00 WIB, korban berhasil ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Di tengkuk korban terlihat tanda-tanda luka, bekas taring harimau.

Tak lama kemudian, personel Polsek Pelangiran mendatangi lokasi bersama tim BBKSDA Provinsi Riau, dan langsung mengevakuasi jasad korban ke Klinik KPP Pulai PT THIP. Dari pemeriksaan, diketahui korban meninggal dunia karena mengalami pendarahan akibat luka robek bekas gigitan harimau di tengkuknya.

Jasad korban kemudian diserahkan kepada keluarga, dan dibawa kembali ke kampungnya di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, untuk dikebumikan.

Si Raja hutan Belum Tertangkap

Meski sudah memangsa dua korban, Jumiati dan Yusri Efendi, konflik harimau di wilayah ini akan terus menghantui warga. Sementara sang raja hutan tak kunjung berhasil ditangkap tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

Upaya penangkapan sendiri sudah dimulai sejak tewasnya Jumiati awal Januari lalu. Berbagai cara telah dilakukan, mulai dari memasang perangkap dengan umpan kambing dan babi jantan, hingga mendatangkan pawang harimau dari Aceh, namun belum juga membuahkan hasil.

"Untuk menangkapnya, kita masih mengandalkan perangkap yang sudah disebar di sekitar areal jelajah satwa itu. Untuk menangkapnya dengan tembakan bius, masih kita hindari," kata Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Riau Mulyo Hutomo.

Pasca menerkam Jumiati, harimau betina itu disebut mengalami perubahan perilaku yang disebut inhabituasi. "Dari apa yang kita temukan, dia mengalami in-habituasi. Dari awalnya menghindari manusia, sekarang justru mendekati kerumunan," ungkap Mulyo Hutomo.

Perubahan perilaku harimau penerkam Jumiati itu dibuktikan saat harimau terus terlihat di sekitar perkebunan. Bahkan, harimau betina yang diperkirakan berusia sekitar lima tahun itu terlihat tidak sungkan saat berhadapan dengan sekelompok orang, tukasnya. (red/berbagai sumber)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini