Hari Tani Nasional, ARRRA Demo Kantor Gubri dan DPRD Riau

Redaksi Redaksi
Hari Tani Nasional, ARRRA Demo Kantor Gubri dan DPRD Riau
dm/riaueditor.com
PEKANBARU, Riaueditor.com- Ratusan petani yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Riau Reformasi Agraria (ARRRA) bersama mahasiswa, Rabu (24/9) pagi melakukan aksi unjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional Ke-54 yang jatuh pada hari ini, 24 September 2014 di depan Kantor Gubernur Riau dan Gedung DPRD Riau Jalan Sudirman.

Dalam aksinya para pendemo membawa berbagai spanduk, poster dan berorasi untuk meminta pemerintah Provinsi Riau memperhatikan nasib petani dan menyelesaikan konflik agraria di Riau serta meminta kepada aparat penegak hukum untuk mencabut izin dan penjarakan perusahan yang terbukti melakukan pembakaran hutan.

Hal senada juga diutarakan Kelompok Tani Bunga Raya, Walhi, Jikalahari dan mahasiswa dari HMI, BEM UR serta BEM UIR, meminta kepada pemerintah Provinsi Riau untuk "Hentikan Monopoli dan Perampasan Tanah Rakyat serta Laksanakan Kedaulatan Pangan dan pembaharuan Agraria"

Hingga siang, demonstrasi mesih berlangsung secara tertib dan damai. Meski demikian, terlihat seratusan petugas kepolisian terlihat berjaga-jaga disekitar Kantor Rubernur Riau dan Gedung DPRD Riau.

Dalam pernyataan sikapnya, para pendemo menyebutkan, lebih dari 80% kawasan hutan di Riau dimonopoli korporasi multinasional, terbesar dikuasai APRIL Group dan Sinar Mas Group, lebih kurang 3,1 juta Ha untuk perkebunan dan 3,7 Ha untuk HTI. Sementara kaum petani terampas dan terusir dari tanah airnya tanpa perlindungan, semakin miskin dan tertindas sebagai buruh tani, buruh kebun, menjadi kuli di negeri sendiri yang subur dan kaya raya.

Berdasarkan fakta, permpasan tanah tersebut menjadi pokok permasalahan dn penderitaan kaum tani yang melahirkan kehancuran kedaulatan pangan nasional karena terampasnya alat produksi nasional pertanian kaum tani.

Situasi ini diperburuk dengan semakin mahalnya harga benih, pupuk, obat-obatan, tingginya bunga hutang dan rendahnya harga hasil pertanian. Liberisasi pertanian yang dilakukan pemerintah telah menciptakan ketergantungan atas impor pangan, menyempurnakan penderitaan kaum tani dan menciptakan ironi atas negeri yang subur dan kaya raya ini.

Para demonstran pun meminta pemerintah untuk tidak melakukan impor beras, karena dinilai sangat merugikan para petani. Negara Indonesia dikenal sebagai negara pengimpor pangan terbesar di dunia saat ini.
 
"Kami meminta tidak ada lagi impor beras dan meminta pemerintah segera meredistribusikan tanah kepada rakyat tani melalui pembaharuan agraria nasional," demikian orasi para demonstran yang tegabung dalam Aliansi Rakyat Riau Reformasi Agraria (ARRRA).(dm)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini