Dinilai Kurang Beretika, SMK Telkom Sesalkan Sikap LBP2AR

Redaksi Redaksi
Dinilai Kurang Beretika, SMK Telkom Sesalkan Sikap LBP2AR
ist.

PEKANBARU, riaueditor.com - SMK Telkom Pekanbaru mengaku menyesal atas sikap yang ditunjukkan Lembaga Bantuan Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR), Rosmaini. Pasalnya selain menginterogasi, oknum tersebut juga mengancam pihak sekolah.

Hal ini diungkapkan Kepala Tata Usaha (KTU) SMK Telkom M. Fuadi, Senin (02/10/17).

“Saat itu Rosmaini dkk bermaksud menjumpai Kepala sekolah (Kepsek) SMK Telkom Faisal terkait masalah Soffan salah satu siswa di sini yang diberitakan tidak diperbolehkan mengikuti ujian oleh gurunya. Karena pak Faisal lagi tak ditempat, saya jelaskan bahwa beliau sedang ada urusan di Disdik Riau”, ujarnya.

Dikatakan Fuadi, Rosmaini dkk kemudian mencoba memaksa untuk masuk ke ruangan guru untuk mencari Walikelas Soffan, Teguh. Karena dari awal yang dicari Kepsek bukan Walikelas tentu saya melarang Rosmaini dkk.

Tak sampai disitu kata Fuadi, Rosmaini pun mengancam SMK Telkom bahwa jika Kepsek tak bisa dijumpai hingga jam 15.00 WIB hari ini ia akan melaporkan masalah ini ke Disdik Riau.

Selain itu Rosmaini juga menuding SMK Telkom menutup-nutupi persoalan sebenarnya terkait Soffan, siswa Kelas satu jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) di SMK Telkom tersebut.

“Kalau tak bisa ketemu Kepsek jam 15.00 WIB hari ini, kita ke Disdik aja”, ujar Fuadi menirukan ucapan Rosmaini.

Usai mengancam kata Fuadi, Rosmaini bersama 5 orang teman lainnya termasuk beberapa orang wartawan, kemudian langsung meninggalkan SMK Telkom.

Sementara Rosmaini yang dikonfirmasi via selularnya membenarkan dirinya bersama beberapa orang temannya datang ke SMK Telkom. Namun ketika dikonfirmasi terkait ancaman yang ia lontarkan, Rosmaini mengaku sedang menikmati makanan kemudian langsung memutus pembicaraan dan mematikan selulernya.

Sedangkan terkait ketidak ikut sertanya Soffan dalam ujian mid semester sebagaimana diberitakan, dijelaskan Fuadi bahwa bukan karena diusir. Melainkan karena siswa tersebut tak masuk sekolah sejak dua minggu terakhir.

Ia mengatakan, terkait utang sekolah sebesar Rp2,1 juta yang belum dibayar oleh Annahdi, orangtua Soffan, pada dasarnya tidak menjadi hambatan.

“Kalau soal utang Rp 2,1 juta tersebut sebenarnya kami sudah berencana untuk mendatangi langsung orangtua yang bersangkutan, dengan harapan Soffan tetap bisa ikut ujian mid semester”, ujarnya.

Untuk itu meski tak mengikuti ujian mid semester, Soffan masih bisa ikut ujian susulan sebelum penerimaan rapor, tutup Fuadi menawarkan solusi. (fin)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini