Pendidikan Dokter Cetak Pribadi Humanis

Redaksi Redaksi
Pendidikan Dokter Cetak Pribadi Humanis
Ilustrasi: Reuters.
JAKARTA - Pendidikan dokter bukan semata-mata bertujuan mencetak para dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Lebih dari itu, ada misi tersendiri yang diemban pendidikan kedokteran di berbagai negara.

Menurut Ketua Bidang Dana Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) Prof. dr. H. Ali Sulaiman, PhD. SpPD, KGEH, FACG, pendidikan kedokteran di seluruh dunia secara serius dan konsisten berupaya untuk menjembatani jurang atau gap yang ada antara kebutuhan menghasilkan dokter yang profesional dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Para guru kedokteran dan masyarakat awam selalu berharap bahwa dokter yang dihasilkan melalui pendidikan kedokterannya akan membuat dokter menjadi seorang ilmuwan yang humanis.

"Mereka juga berharap agar para dokter menjadi seorang warga negara yang baik dengan penuh rasa tanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat yang membutuhkannya terutama dalam komunitas yang kecil," ujar Ali dalam Seminar Forum Bahasan Mencari Solusi II Quo Vadis Dokter Indonesia di Auditorium Prodia Tower, Jakarta Pusat, Sabtu (11/1/2014).

Sementara itu, pendidikan dokter di Indonesia juga memiliki misi khusus. Menurut Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, SpPD, KEMD,pendidikan dokter di Indonesia, khususnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bertujuan menghasilkan dokter layanan primer yang mawas diri dan terampil dalam pendekatan holistik, komprehensif, kolaboratif, bersinambung berbasis pencegahan. Para dokter lulusan FKUI juga diharapkan memiliki kemampuan pengolahan informasi, serta aplikasinya dalam manajemen kesehatan dan berperan sebagai agent of change.

"Pendidikan dokter mempunyai dua tahap, yaitu tahap akademik dan tahap profesi, kemudian ada pemahiran seperti internship," imbuh Pradana.

Pendidikan kedokteran di Indonesia juga menjembatani kebutuhan pelayanan kesehatan atau pendidikan lanjutan seperti dokter layanan primer dan pendidikan dokter spesialis. Selain itu, ada pula pelayanan kesehatan dan CME, yaitu pelayanan kesehatan tingkat primer (dokter layanan primer), pelayanan kesehatan tingkat sekunder-tersier (dokter spesialis), serta pendidikan dan pengembangan profesionalisme berkelanjutan.

"Menurut opini masyarakat (pasien), berdasarkan survey internship pada 2012, 83 persen pasien yang dilayani oleh alumni FKUI menyatakan kemampuan komunikasi alumni baik, 91 persen menyatakan kemampuan terkait etika, medikolegal dan keselamatan pasien juga baik," tutur Pradana.

Pradana juga mengklaim, secara umum pasien merasa puas dengan kemampuan komunikasi alumni. Mereka menyatakan bahwa alumni ramah, sopan dan antusias dalam melayani pasien.

"Selain itu, pasien menggambarkan bahwa alumni teliti dan tekun dalam memeriksa, serta penuh perhatian pada pasien. Empati yang diberikan pada pasien dinilai cukup dan alumni dianggap berperilaku baik oleh pasien," ungkapnya.

Rachmad Faisal Harahap - okezone

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini