Dinilai Menyalahi Al-Quran dan Hadits

MUI Rohul Serahkan Penyelesaian Surau MZA ke Penegak Hukum

Redaksi Redaksi
MUI Rohul Serahkan Penyelesaian Surau MZA ke Penegak Hukum
images.net
PASIRPANGARAIAN, riaueditor.com - 10 ajaran sudah berkembang di Asia Tenggara,  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Rohul  menilai ajaran MZA di Rohul menyalahi Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

Disampaikan Ketua MUI Rohul Drs H Hasbi  Abduh, MA di Pasir Pangaraian, Senin (27/1/2014), persoalan 10 ajaran itu sudah diserahkan ke Polres Rohul dan Kejari Pasir Pangaraian.

Hasil investigasi dari tim dari MUI Rohul melibatkan Fuqoha, Mufassir, ahli akidah dan ahli lainnya sudah melakukan penelitian sejak awal November dan baru berakhir 30 November 2013 lalu.

"Hasilnya sudah kami sampaikan ke Polres Rohul dan Kejaksaan, mereka berkoordinasi dengan Forkompinda Rohul, sebab MUI hanya fatner," kata Hasbi Abduh.

Ada 10 item kesalahan,  diduga tidak sesuai sunnah rasul dilakukan ajaran MZA semisal ada hewan kurban seharusnya jantan bisa ditukar dengan 2 hewan kurban betina, Katanya, hewan itu akan dipelihara atau diternak sehingga terus berkembang.

"Seharusnya, hewan kurban itu harus dipotong, jika tidak dipotong, itu bisa dinamakan sedekah," ujarnya.

MUI Rohul  mengaku memiliki bukti rekaman saat petinggi Surau MZA tersebut memberikan ceramah kepada jemaahnya, poin lainny ditemukan tim  dinilai masih percaya jika Nabi Adam memiliki Ibu.

"Padahal dalam Al-quran sudah jelas menyebut, Adam diciptakan dari tanah, sehingga dia tidak memiliki Ibu," jelasnya.

Sambung Hasbi,  menurut ahli tafsir, ajaran MZA sudah menyalahi sunnah rasul karena mereka lebih mengutamakan akal daripada wahyu Allah SWT, jika masuk aliran tersebut, calon jemaah meski menjalani "baiat" atau sumpah setia dengan cara harus menjalani mandi malam.

"Ini bukan fatwa, karena  kalau fatwa belum jelas atau belum tertulis dalam nash. Kami juga tidak katakan ajaran ini sesat, tapi tidak sesuai dengan sunnah dan ahli tafsir,"ucap Hasbi

Hasbi, Ketua  STAI Tambusai Pasir Pangaraian, mengakui juga sudah mengundang petinggi MZA, namun mereka belum bersedia duduk semeja.

Di tempat terpisah, Amir Majelis Tinggi MZA Rohul Syekh Maulana Said Rahmatullah mengakui ajaran majelisnya tidak melanggar sunnah rasul, selama ini  jemaahnya jumlahnya sudah puluhan ribu tersebar di Indonesia tetap pada koridor Islam.

"Itu memang tugas mereka, tapi ajaran kami tetap mengikuti Alquran dan hadist. Sapi kurban tetap kami potong selama ini, kecuali sapi bantuan dari pemerintah daerah,  tidak kami potong. Kami juga ada bukti dokumentasinya," jelas Amir Majelis Tinggi.

Syekh Maulana Said Mengaku memang ada beberapa sapi sumbangan jemaah, namun bukan untuk hewan kurban, Syekh Maulana Said Rahmatullah menjawab lagi soal masih percaya jika Nabi Adam memiliki Ibu, menurutnya itu muncul saat majelis membahas sebuah buku karangan Agus Mustofa, jika Nabi Adam dilahirkan buku itu sendiri sudah beredar luas.

"Tidak mungkin ajaran kami salah, sebab kami juga punya tim investigasi sendiri. Mereka juga sudah doktor, ahli agama dan ada juga sarjana agama. Jadi jangan hal ini ditunggangi kepentingan politik," harap Syekh Maulana Said.

Siap duduk semeja dengan MUI, sayangnya sampai saat ini belum ada undangan resmi, Syekh Maulana Said Rahmatullah berharap MUI seharusnya lebih mengurus praktek prostitusi di Rohul karena praktek maksiat itu sudah lama terjadi. Apalagi, belakangan ini, semakin banyak wanita pria mulai masuk ke Kota Pasir Pangaraian dan begadang di tempat gelap-gelapan sampai subuh hari.

"Kafe-kafe juga banyak tempat mesum. Harusnya itu kita perbaiki bersama. Itu nyata sesat dan sudah lama terjadi di daerah kita ini. Bahkan kini sudah merambah sampai wisata Air panas dan kini mulai banyak," tegas Syekh Maulana Said.

Berharap agar slogan daerah suci tidak tercemari dengan hal-hal maksiat, Syekh Maulana Said yang maju Calon Legislatif 2014 DPRD Rohul itu mengakui tidak ada kepentingan politik dalam mengelola Surau MZA, sebab banyak bantuan juga disalurkan ke daerah lain di Riau, termasuk Sumatera Barat.

"Jika kami ada kepentingan, kenapa bantuan-bantuan jemaah kami salurkan sampai ke Duri dan Sumatera Barat. Ini murni untuk membantu fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa. Bukan politik. Ini yang kami sayangnya selama ini," jelas Syekh Maulana Said lagi.(ys)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini