Kasatpol PP Pekanbaru : Tantangan Satpol PP Kala Menertibkan

Redaksi Redaksi
Kasatpol PP Pekanbaru : Tantangan Satpol PP Kala Menertibkan
Kasatpol PP kota Pekanbaru, Agus Pramono

PEKANBARU, riaueditor.com - Sebagai aparat pemerintah daerah yang bertugas menegakkan Peraturan daerah (Perda), menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman serta pelindungan masyarakat, Satpol PP kota Pekanbaru kerap menghadapi masalah. Namun semua itu bagian dari tugas yang mesti dihadapi.

Demikian disampaikan Kasatpol PP kota Pekanbaru, Agus Pramono saat berbincang-bincang dengan wartawan di ruang kerjanya, Kamis (12/12/19).

"Saya yang paling enak di belakang Badan/Dinas. Urusan Badan Sosial misalnya, gepeng atau pengemis, saya tenang aja atau saya bersama sama bergabung, karena dia yang pegang Perdanya, saya dampingi," ujarnya.

Contoh lain sebut Agus, asset yang dikelola Disperindag ada yang tak mau bayar. Pihaknya bisa di belakang atau bersama-sama karena masuk di Trantibum.

Agus mengungkapkan pada dasarnya penertiban pedagang kaki lima bukan menutup perdagangan. Melainkan hanya mengarahkan dalam rangka memberikan peringatan.

"Kita hanya menertibkan barangnya, orangnya tidak. Itu pun dalam rangka memberikan peringatan. Kalau saya bawa barangnya disini, 3 hari harus diambil sini.  Kalau nggak diambil, maka resiko itu sudah tidak resiko saya," ucapnya.

Pada kesempatan itu, Agus juga menepis tudingan sebagian oknum yang menuding dirinya arogan. Menurutnya, orang-orang yang melanggar Perda merekalah yang arogan.

"Mestinya pedagang tahu tempatnya. Pengemis tidak boleh diberi uang, karena jika diberi para pengemis itu tidak ada habisnya. Selama 2 tahun di sini saya coba selesaikan," ucapnya.

Mantan Kasrem 031 Wirabima itu mengaku, dalam melakukan penertiban pihaknya kerap menghadapi tantangan. Salah satunya yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu di salah satu hotel di Pekanbaru dengan BNN.

"Mungkin karena kita terbiasa dalam penertiban, dia bicara ngomel-ngomel. Saya sadar, setiap penertiban pasti ada gangguan dan goncangan di dalamnya. Bahkan kadang-kadang sampai ditunjuk dipegang-pegang. Sampai ditanya surat perintah tugas. Dan hal itu merupakan hal biasa dan tantangan hidup.

Menurutnya, beda pendapat kala menertibkan seperti tarik-menarik, dorong-dorongan hal biasa. Sama dengan kepolisian menegakkan aturan, bisa ditembak bisa dipukul bisa masuk rumah sakit parah, begitulah," ungkapnya. (fin)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini