"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (QS. al-An`am: 116)
SAAT ini mayoritas masyarakat dunia kembali menyambut hari khusus di pertengahan Februari ini. Iya, hari itu memang tergolong istimewa bagi sebagian besar anak muda di berbagai penjuru dunia. Betapa tidak, hari ke-14 di bulan Februari tersebut dimaknai sebagai "hari kasih sayang", atau sejarah mencatatnya dengan sebutan Valentine`s Day.
Hari Valentine kini sangat popular juga di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya bagi generasi muda, bahkan hari spesial yang disebut-sebut sebagai hari kasih sayang tersebut telah menyelinap hingga di wilayah pelosok negeri ini. Hal ini diperjelas dengan banyaknya dijumpai jargon atau iklan untuk mengekspos budaya penyembah berhala zaman Romawi kuno ini.
Berbagai tempat hiburan mulai dari diskotik, hotel-hotel, mall, hingga pusat perbelanjaan dan toko-toko kecil pun berlomba-lomba menawarkan acara untuk merayakan Valentine. Kehebohan pun menghiasai halaman-halaman media cetak dan elektronik yang turut larut dalam hingar-bingar "pembodohan" itu. Sehingga tanpa disadari anak muda dan kelompok-kelompok pelajar pun dicekoki dan terseret oleh perayaan tahunan yang tidak jelas itu.
Hari kematian
Jika mencoba membuka lembaran-lembaran sejarah yang melatarbelakangi hari Valentine, tentun akan dijumpai banyak pembodohan bagi umat manusia. Betapa tidak, peringatan momen spesial yang diyakini sebagai "hari kasih sayang" tersebut ternyata merupakan hari kematian seorang pendeta bernama Santo Valentine. Dia dihukuman mati oleh Raja Romawi yang bernama Claudus II Ghoticus pada abad ke-3 Masehi, karena terbukti bersalah dan melanggar aturan kerajaan. Santo Valentine telah menikahkan seorang prajurit muda yang saat itu sedang menjalin cinta dan kasih sayang. Tindakan ini dianggap bertentangan dengan ketentuan kerajaan, sehingga Santo Valentine terpaksa dipancung oleh eksekutor kerajaan pada 14 Februari 269.
Namun keputusan kerajaan itu bertentangan dengan pihak gereja yang menganggap tindakan Santo Valentine benar karena telah melindungi dan menyelamatkan orang yang sedang "mabuk cinta", sehingga dia pun dinobatkan sebagai pahlawan kasih sayang. Berangkat dari hal yang kontroversi tersebut, maka setiap 14 Februari mayoritas orang-orang menganggap dan meyakininya sebagai hari kasih sayang yang sejatinya merupakan hari kematian. Sungguh ironis apabila orang ramai-ramai larut dalam perayaan Valentine tanpa mengetahui sejarah kelam dan tragedi yang melatarbelakangi Hari Valentine tersebut.
Moment Valentine mendorong para generasi muda untuk merayakannya dengan dengan nuansa kasih sayang. Tidak sedikit pun orang menunggu "hari spesial" itu untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang kepada orang terdekat dan pasangan ilegal-nya. Tak bisa dipungkiri bahwa kehebohan Valentine's Day pada umumnya sarat dengan aktifitas seks bebas, hal ini bisa dilihat dari laris manisnya penginapan dan tempat-tempat pelesiran yang di-booking dan didatangi oleh pasangan muda-mudi selama moment Valentine. Bahkan, moment "konyol" ini dianggap sebagai hari pembuktian cinta, sehingga sarat dengan pornoaksi dan desakralisasi keperawanan yang mengatasnamakan cinta.
Aktivitas free sex yang marak terjadi pada hari Valentine, tentu dipengaruhi oleh budaya liberal yang bertentangan nilai-nilai luhur dan religius bangsa ini. Budaya tersebut merupakan konspirasi liberal yang mengusung nilai-nilai kebebasan yang "dipaksakan" masuk ke tengah-tengah masyarakat Indonesia. Proses kemunculan dan menyebarnya budaya liberal di negeri ini bukanlah proses yang berlangsung alami, tetapi merupakan hasil dari proses liberalisasi budaya yang dijalankan secara sistematis, terorganisir, dan sarat dengan rekayasa orang-orang "jahat" yang ingin menghancurkan moral generasi muda.
Paham sekularisme
Secara faktual konspirasi liberal itu bisa dirasakan karena dijalankan melalui beberapa hal, pada tingkat falsafah dan pemikiran dilakukan dengan menanamkan paham sekularisme, liberalisme dan hedonisme. Sejatinya budaya bebas itu berpangkal dari ketiga paham tersebut.
Sekularisme adalah ide dasar yang mengeyampingkan peran agama dari pengaturan kehidupan dan menuntun manusia untuk menempatkan agama hanya pada ranah individu dan wilayah spiritual saja dan "mengharamkan" agama ikut andil dalam mengatur kehidupan. Sedangkan paham liberalisme, yakni paham yang menanamkan keyakinan bahwa manusia bebas mengelolah hidupnya sendiri.
Tidak diragukan lagi bahwa konspirasi liberal tanpa terasa telah membuahkan hasil. Dekadensi moral yang melanda umat manusia di zaman ini merupakan wujud nyata dari drama penghancuran generasi muda, satu di antaranya adalah Hari Valentine yang dianggap sebagai moment yang tepat untuk mencurahkan kasih sayang kepada orang yang dicintainya. Bahkan, saat ini telah menggiring opini publik dan diyakininya sebagai hari kasih sayang, sehingga perbuatan amoral pun dianggap 'sah' untuk dilakukan pada hari itu.
Karena itu untuk menyelamatkan generasi muda dan menjaga keluhuran budaya serta nilai-nilai religius bangsa ini, hendaknya setiap masyarakat mampu memilih dan memilah berbagai pengaruh yang meluncur bebas masuk di Indonesia sehingga dapat menangkal berbagai rekayasa jahat dan liberalsasi budaya. Begitu pun kepada generasi muda agar senantiasa taat atas perintah Allah dan Rasul-Nya dengan konsekuensi menjalankan ajaran agama secara kaffah (totalitas), sehingga tidak latah lalu mengekor pada gaya hidup orang-orang luar yang bertentangan dengan nilai-nilai religius bangsa ini. Wallahu a'lam bis-shawab.
Achmad Firdaus, Mahasiswa Pascasarjana dan Pengurus International Student Society National University of Singapore (NUS), Singapura. Email: achmadfirdaus77@gmail.com
(sumber:aceh.tribunnews.com)