Kartini Menggugat, Mengungkap Fakta yang Ditutupi (1)

Hasan Kurniawan
Redaksi Redaksi
Kartini Menggugat, Mengungkap Fakta yang Ditutupi (1)
foto:Istimewa/Hasan Kurniawan-Sindonews
Kartini dan perjuangannya
KARTINI memang bukan pahlawan yang berjuang mengangkat parang dan senjata di medan perang, bukan pula pejuang yang menang karena menghabisi nyawa lawan-lawannya dalam pertempuran. Kartini sangat jauh dari sosok perkasa seperti itu.

Medan perjuangan Kartini juga tidak sama dengan Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang sangat menguncang Hindia Belanda, menguras 20 juta gulden kas Negeri Belanda dan menewaskan 15.000 serdadu Kompeni.

Sesungguhnya, perjuangan Kartini sangat jauh berbeda, bahkan jauh lebih berat dari itu semua. Sebab dia bergerak sendirian tanpa pasukan dan dukungan dari organisasi massa yang saat itu belum lahir. Perjuangan Kartini adalah perjuangan moral.

Senjata Kartini hanya pena dan ilmu pengetahuan. Melalui tulisan-tulisannya, dengan menggunakan bahasa yang sangat indah, Kartini berhasil mengguncang dunia Barat yang dikaguminya dan menimbulkan simpati dunia internasional.

Dengan membaca surat-suratnya, kita mengetahui tempat Kartini yang seharusnya dalam sejarah perjuangan pembebasan rakyat. Kartini adalah salah satu perintis kebangkitan dan kesadaran nasional, jauh sebelum Budi Utomo lahir pada 1908.

Dalam tulisannya itu juga dapat diketahui bahwa Kartini-lah orang pertama yang memimpikan adanya pergerakan kebangsaan yang menyatukan para kesatria yang berjuang di tengah rakyat. Organisasi bernama Jong Java, lahir pada 1915.

Masyarakat Indonesia, terutama golongan wanitanya, sebenarnya patut merasa beruntung memiliki Kartini yang bisa dijadikan simbol emansipasi dan inspirasi yang tidak pernah kering dalam upayanya memperjuangan pembebasan rakyat.

Sayangnya, pengingkaran atas pengaruh Kartini yang begitu luas masih saja terus terjadi. Upaya ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mengabaikan dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang sejarah pergerakan wanita di Indonesia.

Anak Selir Bupati Jepara

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879. Ibu kandungnya bernama Mas Adjeng Ngasirah, seorang selir Asisten-Wedana Onder Distrik Mayong, Kabupaten Jepara, Raden Mas (RM) Adipati Ario Sosroningrat yang kemudian menjadi Bupati Jepara.

Semasa kecil, Kartini tinggal bersama ibu kandungnya. Masa-masa bersama Ngasirah, pernah diceritakannya kepada sahabat penanya Stella Zeehandelaar, sebagai masa-masa yang sangat indah, penuh kasih sayang, dan tidak terlupakan.

Meski begitu, Kartini tidak pernah bicara terus terang dan buka-bukaan tentang ibu kandungnya ini. Bagi para pembacanya, sikap Kartini ini menimbulkan kekecewaan, sekaligus tanda tanya besar, apakah Kartini malu menjadi anak seorang selir?

Ibu kandung Kartini, Ngasirah merupakan anak Kiai Modirono dengan Nyai Hajah Siti Aminah dari Telukawur Mayong. Dari ibu yang melahirkannya inilah, Kartini belajar dan paham tentang beratnya penderitaan seorang wanita yang menjadi selir.

Namun, Kartini tidak pernah menyalahkan dan mengugat ayahnya. Kartini terlalu lemah untuk itu. Sebaliknya, dia mengaku sangat sayang kepada ayahnya. Rasa sayangnya, bahkan telah melebihi rasa cintanya terhadap dirinya sendiri.

"Ayahlah orang yang berhak atas diri saya. Kalau seorang di antara kami berdua mutlak harus celaka juga, biarlah saya yang celaka," katanya. Sikap Kartini yang demikian, kerap dianggap sebagai bentuk persetujuan tidak langsung atas poligami.

Perkenalan dengan Dunia Barat

Kartini dikenalkan dengan peradaban Barat oleh ayahnya. Namun, secara langsung dia baru mulai mengenal dunia Barat dan praktik kolonialisme terhadap rakyatnya, saat menjadi murid sekolah dasar Belanda Europesche Lagere School (ELS).

Meski begitu, Kartini tidak pernah anti dan bersikap bermusuhan terhadap teman-temannya yang berbangsa Belanda. Bahkan, dia banyak menjalin hubungan rapat dengan anak-anak perempuan bangsa Eropa dan melakukan surat-menyurat dengannya.

Setelah lulus ELS, Kartini ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah Hoogere Burgerschool (HBS). Namun niat Kartini ini mendapat banyak halangan, dan yang paling besar datang justru dari ayah yang sangat disayanginya.

Sebagai pelipur lara, RM Adipati Ario Sosroningrat tetap membolehkan Kartini tetap belajar di rumah dengan membaca banyak buku, majalah, surat kabar, dan melakukan surat-menyurat kepada teman-temannya yang berada jauh di Negeri Belanda.

Melalui surat-menyurat itulah, Kartini mulai menemukan kebebasannya dan belajar mengutarakan pemikiran-pemikirannya dalam bahasa tulisan. Mulai dari kedudukan wanita dalam masyarakat, seni ukir Jepara, karya sastra sampai ide-ide sosialisme.

Bahwa pandangan Kartini masa itu berkiblat dan dipengaruhi bangsa Eropa, terutama Belanda, menimbulkan kesan seolah-olah perjuangan Kartini bersifat kolonial. Hal ini terasa wajar, mengingat masa hidup Kartini dalam zaman Belanda.

Namun sesungguhnya, Kartini hanya mengambil dari Barat apa yang tidak dapat diberikan oleh negerinya, seperti pendidikan bagi kaum perempuan dan masyarakat umumnya. Dia juga ingin menyerap kebaikan peradaban Barat untuk kemuliaan bangsanya.

Kartini terlalu lemah untuk menjadi seorang Eropa. Jiwanya terlalu halus, hingga selalu melayang ketika mendengar suara gamelan ke masa silam. Meski memuji setinggi langit budaya Jawa, dia tidak segan melakukan kritik membangun.

Merintis Keluarga Berencana

Kartini merupakan perintis Keluarga Berencana (KB), jauh sebelum Orde Baru Soeharto mempopulerkan KB. Hal ini terungkap dari surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon. Namun, ide Kartini saat itu melawan arus adat dan kebiasaan orang Jawa.

"Pendidikan sekolah bagi anak-anak pada waktu sekarang merupakan hal yang biasa sekali, tetapi kalau jumlah anak mencapai 25 orang, bagaimana mungkin pendidikan yang sebaik-baiknya itu dapat diusahakan bagi mereka semua," tulisnya.

Menurutnya, orang tidak berhak melahirkan anak, apabila dia tidak mampu menghidupinya. Karena, seorang anak juga memiliki hak untuk hidup layak, berpendidikan otak dan akhlak, bukan hanya hidup sembarangan hidup saja.

Namun, ide Kartini untuk membuat suatu keluarga berencana Indonesia saat itu tidak populer, sehingga sulit diwujudkan. Terlebih, pendidikan saat itu masih menjadi barang mahal yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang kaya saja.

Selanjutnya.. Kartini Menggugat, Mengungkap Fakta yang Ditutupi (2)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini