Wamenhan: Cadangan Beras RI Hanya Kuat 69 Hari, India 1 Tahun

Redaksi Redaksi
Wamenhan: Cadangan Beras RI Hanya Kuat 69 Hari, India 1 Tahun
Foto: CNBC

JAKARTA - Persoalan pangan juga jadi perhatian serius Kementerian Pertahanan (Kemhan). Apalagi lembaga pangan dunia (FAO) mengingatkan soal potensi krisis pangan dunia di kala pandemi.

Indonesia juga perlu lebih waspada terutama menjaga cadangan beras di dalam negeri sebagai kebutuhan pokok. Cadangan atau stok beras di dalam negeri yang mencakup di Bulog hingga di pasar hanya sampai dua bulan lebih, sedangkan negara lain lebih lama. Ini dalam konteks Indonesia sedang menghadapi persoalan pandemi covid-19 yang belum berakhir.

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono ingin meningkatkan ketahanan pangan guna mengantisipasi munculnya dampak  wabah penyakit di masa depan.

"WHO menyatakan virus baru itu terus bermunculan. Jadi, seandainya pandemi Covid-19 ini usai, tak menjamin di masa depan wabah penyakit baru tak muncul. Karena itu indikator ketahanan pangan harus kita tingkatkan di masa depan untuk mengantisipasi serangan wabah penyakit," papar Trenggono dalam Webinar yang digelar IA ITB Jawa Timur dengan tema "Penguatan Pangan & Kesehatan Rakyat Sebagai Basis Ketahanan Negara Pasca Pandemi, Kamis (18/6/2020).

Menurutnya saat sebuah pandemi terjadi yang berujung kepada krisis seperti yang ada sekarang, beberapa hal paling rentan terkena dampaknya. Pertama, di sektor pekerjaan dimana muncul pengangguran karena kegiatan ekonomi dipaksa berhenti. Kedua, masalah ketersediaan pangan. Ketiga, ketahanan kesehatan.

"Kalau ketiga hal ini tak bisa dikelola dengan baik bisa berpengaruh kepada ketahanan dan kedaulatan negara secara keseluruhan. Karena itu semua elemen bangsa perlu bekerjasama secara serius melawan ancaman pandemi agar ketahanan nasional terjaga," katanya.

Wamenhan memaparkan untuk sektor pangan, komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah beras, gula, terigu, dan kedelai.

"Beberapa komoditi seperti beras dan gula itu perlu perhatian kondisi cadangannya. Di samping itu sekarang ada pergeseran dimana Indonesia pengkonsumsi mie terbesar kedua di dunia. Ini membuat kita impor gandum tinggi, begitu juga kedelai," katanya.

Ia bilang jika pandemi diibaratkan dengan suasana perang maka dibutuhkan peralatan tempur yang kuat untuk melawan.

"Peralatannya di sini salah satunya cadangan pangan yang panjang. Sekarang itu di komoditas beras kita hanya kuat untuk 69 hari, bandingkan dengan India yang bisa setahun. Karena itu kami dari Kemenhan sedang mengajukan satu model yang bisa meningkatkan ketahanan pangan nasional," katanya.

Dikatakannya, strategi yang dipilih adalah membuat lahan khusus untuk ketahanan pangan nasional. Mengutip kajian yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan ada 16,6 juta hektare kawasan hutan non hutan layak dikonversi menjadi lahan pertanian produktif. Sebagian besar lahan ada di Papua, disusul Kalimantan, dan Sumatera.

"Kita ingin mengoptimalkan lahan ini agar tidak menjadi opportunity loss bagi negara. Rasionalisasi kawasan hutan adalah faktor penting bagi kelestarian pengelolaan hutan dan menjadi enabler untuk pembangunan nasional," katanya.

Jika rencana pengadaan lahan pangan ini terealisasi bisa menyumbang sekitar 20% bagi cadangan pangan nasional nantinya. "Kita pastikan ini memang untuk ketahanan pangan, jadi kawasan yang dipilih tidak boleh berubah fungsi dari kawasan tanaman pangan yang akan kita kembangkan," katanya.

Menurutnya jika pandemi diibaratkan dengan suasana perang maka dibutuhkan peralatan tempur yang kuat untuk melawan.

"Peralatannya di sini salah satunya cadangan pangan yang panjang. Sekarang itu di komoditas beras kita hanya kuat untuk 69 hari, bandingkan dengan India yang bisa setahun. Karena itu kami dari Kemhan sedang mengajukan satu model yang bisa meningkatkan ketahanan pangan nasional," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebutkan bahwa stok beras pada akhir Juni mencapai 7,49 juta ton. Bahkan, stok beras hingga akhir tahun diklaim masih aman.

"Angka tersebut sudah termasuk dalam hitungan stok hingga akhir Desember 2020 yang mencapai 6,1 juta ton," ujar Syahrul, sepert dikutip laman Sekretariat Kabinet, Kamis (11/6/2020).

Kebutuhan konsumsi beras di dalam negeri setiap bulannya sekitar Rp 2,5 juta ton, jadi apa yang disampaikan oleh Wamenhan cukup klop dengan yang disampaikan oleh mentan soal cadangan beras.

(CNBCIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini