Terkait Dugaan Penistaan Agama Oleh AHOK, 497 Advokad Bersatu Minta Hukum Ditegakkan

Redaksi Redaksi
Terkait Dugaan Penistaan Agama Oleh AHOK, 497 Advokad Bersatu Minta Hukum Ditegakkan
Ketua Umum Tim Advokasi Pembela Alquran (TAPA), Kapitra Ampera SH,MH
PEKANBARU, riaueditor.com - Meski sudah dilakukan aksi besar-besaran pada 4 november lalu terkait penistaan agama yang di lakukan AHOK yang menjabat sebagai Gubernr DKI Jakarta tampaknya tidak berhenti sampai disitu saja. Kali ini tim advokasi pembela Al quran (TAPA) berkomitmen mengawal kasus penistaan agama oleh AHOK tujuannya agas agar hukum di tegakkan dan mendesak AHOK di tetapkan jadi tersangka.

Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Tim Advokasi Pembela Alquran (TAPA), Kapitra Ampera SH,MH. " Kami membuat gerakan seribu advokad pembela Al quran dan saat ini sudah bergabung hampir 500 an tim advokad yang akan mengawal proses hukum penistaan agama oleh Ahok. Target kita mengumpulkan 5000 advokad seluruh indonesia mengawal kasus AHOK ini tujuannya agar hukum bisa ditegakkan," kata Kapitra Ampera ketika dikonfirmasi melalui selularnya, Rabu (9/11).

Dikatakan Kapitra, dari gerakan TAPA ini pihaknya akan mengawal 11 saksi pelapor dan mengawal orang-orang yang sedang  dilaporkan Ahok atas kasus penghinaan presiden RI Jokowi, seperti Ahmad dani, Bunyani diduga mengedit transkip pembicaraan Ahok dan orang-orang lain yang juga dilaporkan Ahok.

"Besok, Kamis (10/11) saya didampingi tim advikasi lainnya bakal melaporkan  Jenifer Girsang, Trimedya Panjaitan, dan Ruhut Sitompul ke Majelis Kehormatan Dewan DPR RI karena mereka ini turut hadir saat pemeriksaan Ahok di Mabes Polri," tegasnya.

Selain itu Kapitra juga menginginkan hukum di Indonesia ini ditegak kan tanpa tebang pilih dan pandang bulu. Seandainya jika Ahok belum juga ditetapkan tersangka, maka Kapitra dan bersama tim akan melakukan pra peradilan.

"Tujuannya untuk melindungi Pemerintahan di era Jokowi agar mentaati hukum dan perundang-undangan karena dapat dilihat saat ini Pemeritahan era Jokowi tidak steril lagi. Hal ini kita lihat, saat kejadian demonstrasi 4 November lalu. Dari kejadian itu Presiden Jokowi berjanji akan menemui demontran dan ikut melakukan sholat berjamaah, tapi tidak jadi karena adanya masukan dari orang sekelilingnya," ungkapnya.

Ditambahkan Kapitra, pihaknya juga sudah bertemu dengan ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, dan lainnya untuk persatukan persepsi tentang  langkah yang akan diambil.

"Dalam gerakan ini kita tidak membenci etnis cinta atau etnis lainnya tertentu karena negara kita melindungi seluruh masyarakatnya untuk melakukan aktivitas sesuai dengan agamanya. Namun kita juga harus saling menghargai dan tidak melakukan penistaan terhadap agama orang lain," ungkapnya.(eza)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini