Gubernur New York, Andrew Cuomo (tengah). (AFP PHOTO / Drew Angerer)Selain itu, menurut Anies, jumlah jenazah yang dimakamkan di Jakarta bertambah seiring munculnya wabah virus corona. Pada pertengahan Maret saja, Pemprov DKI mencatatkan 4.300 jenazah yang dimakamkan di Jakarta, sementara pada April tercatat ada 4.590 jenazah yang dimakamkan.
Menurut Anies, dalam kondisi normal biasanya di Jakarta hanya ada sekitar 3.000 jenazah yang dimakamkan selama sebulan. Artinya, ada kenaikan sekitar 1.500 jenazah yang dimakamkan di DKI Jakarta.
"Peningkatan kematian ini kemungkinan besar karena kasus Covid, dan jika angka kematian 10 persen, mungkin di luar sana ada sekitar 15 hingga 30 ribu orang yang terinfeksi di Jakarta. Kami pikir jumlah (kematian dan infeksi) jauh lebih tinggi dari apa yang dilaporkan oleh Kemenkes," ujarnya.
Terkait kapasitas tes, Anies mengaku optimis Indonesia tengah mengupayakan meningkatkan daya uji laboratorium. Karena baru-baru ini memperoleh lebih banyak tes antigen dari Korea Selatan dan China.
Jakarta, kata Anies, saat ini dapat memproses 3.086 tes virus corona dalam sehari di 23 laboratorium.
Selain itu, saat ini di Jakarta juga sudah ada 63 rumah sakit garis depan dan 172 rumah sakit lainnya untuk menangani wabah virus corona.
Kemudian, Pemprov DKI juga menyatakan, dari 1.600 tempat tidur yang disiapkan untuk pasien corona tidak sepenuhnya terpakai, dan menurut Anies, saat ini hanya 900 ICU di Jakarta yang digunakan.
Dalam kesempatan itu, Anies juga menyebut jika Presiden Jokowi seharusnya melarang mudik lebih cepat. Pasalnya, menurut perhitungan Anies, ada sekitar 1,6 juta orang yang telah meninggalkan Jakarta.
Selain itu, untuk mencegah gelombang kedua virus corona di Jakarta, Anies menegaskan akan melarang orang-orang yang telah mudik kembali ke Jakarta.
Kebijakan Anies ini pun sempat dikritisi oleh sejumlah politisi pemerintah pusat karena dianggap berlebihan, menjawab kritikan tersebut, Anies mengatakan "Saya tidak khawatir tentang apa yang dikatakan media sosial tentang kebijakan kami," ujar Anies.
"Saya lebih khawatir tentang apa yang akan ditulis sejarawan di masa depan tentang kebijakan kami," lanjutnya.
(CNNIndonesia.com)